Browsed by
Month: February 2018

Ragi

Ragi

Selasa dalam Pekan Biasa ke-6

13 Februari 2018

Markus 8:14-21

 

Ragi adalah sebuah zat yang menyebabkan proses fermentasi. Proses fermentasi sendiri telah digunakan oleh manusia ribuan tahun lalu, secara khusus untuk pembuatan makanan dan minuman. Banyak makanan yang kita konsumsi sehari-hari merupakan hasil dari proses fermentasi, seperti roti, anggur, acar, tempe, tape, dan bir.

Di dalam Kitab Suci, ragi menjadi simbol sesuatu yang tidak baik. Seluruh adonan roti yang diberi sedikit ragi akan mengembang, dan rasanya akan lebih gurih dibandingkan roti tak beragi. Namun, roti beragi juga cepat mengalami kerusakan dibandingkan dengan roti tak beragi. Oleh karena itu, ragi sering dikaitkan dengan biang dari kerusakan dan korupsi. Saat bangsa Yahudi akan dibebaskan dari tanah Mesir, Allah melalui Musa memerintahkan mereka hanya untuk memakan dan membawa roti tak beragi (Kel 12). Alasannya cukup praktis karena roti tak beragi tahan lama, dan menjadi bekal yang baik dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dirayakan setiap tahun sebagai hari raya Paskah Yahudi, dan salah satu hal yang dilarang adalah adanya ragi di antara bangsa Israel. Bahkan mereka yang memakan makanan beragi pada Hari Raya ini akan diusir dari komunitas bangsa Israel (Kel 13).

Yesus dan para murid-Nya mengerti arti simbolis dari sebuah ragi. Yesus pun memperingati para murid akan bahaya dari ragi para kaum Farisi. Melihat dari kisah sebelumnya di mana Yesus menolak tuntutan para Farisi yang meminta tanda dari langit, kita bisa menduga bahwa ragi kaum Farisi adalah kekerasan hati dan ketidakpercayaan kaum Farisi terhadap Yesus. Saat para murid khawatir bahwa mereka hanya memiliki satu buah roti dalam perjalanan, Yesus harus mengingatkan kembali tentang Mujizat penggandaan roti yang Ia lakukan sebelumnya. Sepertinya Yesus memperingati para murid akan ragi para Farisi yang telah menyusup ke dalam hati mereka. Ini adalah ragi yang membuat hati para murid menjadi keras dan juga kehilangan iman pada Yesus.

Merenungkan bacaan hari ini, dan sebagai murid-murid Tuhan Yesus, apakah kiranya yang menjadi ragi Farisi di dalam hidup kita? Apakah hal-hal yang menghalangi kita melihat karya-karya Tuhan di dalam hidup kita? Apakah yang membuat kita berkeras hati dan kurang percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tanda

Tanda

Senin pada Pekan Biasa ke-6

12 Februari 2018

Markus 8:1-13

 

Orang-orang Farisi mencari tanda dari Yesus. Tanda dari langit yang diminta ini tidak lain adalah pembuktian bahwa Yesus adalah sungguh seorang nabi yang diutus Allah. Dalam Perjanjian Lama, tanda-tanda dari Allah diberikan untuk membuktikan autentisitas seorang nabi. Saat Musa minta tanda pada Allah untuk membuktikan dirinya adalah nabi utusan Allah kepada bangsa Ibrani, Allah mengubah tongkat milik Musa menjadi ular (Kel 4:1-4). Saat Firaun berkeras hati dan menolak membebaskan bangsa Ibrani, Musa pun menurunkan sepuluh tuah kepada bangsa Mesir sebagai tanda keperkasaan Allah Ibrani terhadap dewa-dewa Mesir kuno. Saat nabi Yesaya mengatakan bahwa raja Hizkia akan sembuh dari sakitnya, sang Raja meminta tanda dari Allah. Sang nabi pun memberikan tanda yakni bayang-bayang yang bergerak mundur sepuluh tapak (2 Raja 20:1-11).

Yesus mengerti bahwa orang Farisi meminta tanda untuk membuktikan diri-Nya sungguh berasal dari Allah. Namun, Yesus menolak memberikan tanda yang diminta mereka. Kenapa Yesus menolak? Bukankah Dia bisa dengan mudah memberikan tanda yang mereka minta? Jika kita menyimak kisah-kisah sebelumnya, Yesus baru saja melipatgandakan roti dan memberi makan 4 ribu orang lebih. Selain itu Yesus telah menyembuhkan banyak orang dan mengusir roh jahat. Semua adalah tanda yang membuktikan bahwa Yesus adalah “yang berkuasa” (Mrk 1:7), tetapi orang-orang Farisi tetap berkeras hati dan tidak percaya. Yesus mengerti bahwa sebanyak apa pun tanda yang Ia akan berikan, orang-orang Farisi yang tidak memiliki iman tidak akan pernah percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, Yesus tidak akan memberikan tanda kepada mereka.

Merenungkan pesan Injil pada hari ini, kita bisa bertanya: apakah kita memiliki iman untuk melihat tanda-tanda yang Yesus berikan dalam hidup kita? Apakah kita terus meminta tanda dan pembuktian kepada Tuhan? Apakah mata iman kita memberdayakan kita untuk melihat makna-makna kehidupan, bahkan dari peristiwa yang tidak menggembirakan sekalipun?

 

(Kita juga berdoa secara khusus untuk para korban penyerangan dan jemaat Gereja St. Lidwina, Sleman, dan agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa yang akan datang)

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leprosy

Leprosy

The Sixth Sunday in Ordinary Time

February 11, 2018

Mark 1:40-45

 

“Moved with pity, he stretched out his hand, touched him, and said to him, ‘I do will it. Be made clean.” (Mk. 1:41)

 

One of the greatest gifts that humanity has received is the gift of touch. We are created as bodily being, and biology tells us that practically all our body surface is covered by fabric nerve that receives the external stimulates like heat, pleasure, and pain. It is the first step in our survival mechanism as it helps us to identify the approaching dangers or threats. Yet, it is the first step also in our authentic growth as human beings. A baby will feel loved when she is embraced by her parents. A toddler who learns to walk will feel a sense of guidance and security when his father holds his hand. Even a grown-up man will need comfort and warm coming from his family.

 

If there is one thing that destroys this gift of touch, this is leprosy.  The disease will practically create a “walking death.”  Leprosy or also known as Hansen’ disease is caused by Mycobacterium leprae that bring about severe, disfiguring skin sores and nerve damages around the body. The greatest injury that this disease inflicts is that a person loses the ability to feel external stimulates like pain. As a consequence, a leper gradually loses its limbs like his fingers, hair, nose, arms, and feet because of the unnoticed repeated injuries or untreated wounds. Yet, the most painful about this disease is that the stigma the lepers receive from their community. In the time of Jesus, lepers are expelled from their community because people fear to contract the infectious disease. Even, people consider leprosy as God’s punishment (see 2Chro 26:20). Because of that, a leper is not only biologically sick but ritually unclean, meaning he is not able to worship God as he is barred from entering the synagogue or the temple (see Lev 13). He must cry “Unclean, unclean!” to remind the people nearby not touch him, otherwise, the persons may become unclean as well. A person with leprosy is not only losing the gift of touch from his body, but also from his community and his God. No wonder, leprosy is the most dreaded disease in the ancient Israel society.

 

With this background, we may fully appreciate what Jesus does to the leprous man. He is stretching his hands and making a deliberate effort to touch him. Jesus does not only risk of contracting the disease, but Jesus may become ritually unclean. Yet, Jesus insists because He knows that the gift of touch is what the man needs most. Indeed, Jesus’ touch brings healing and restores the lost gift of touch. The man is able once more to feel the goodness of life, to re-enter his community, and to worship his God.

 

When we call Jesus as the savior, it means that by sacrificing His life, Jesus reestablishes the lost connection between us and our deepest selves, between us and our neighbors, and between us and our God. How does Jesus do it? With the gift of touch. Our God is indeed a spirit, but our God is not abstract. He becomes flesh so that we may fully experience His love, His touch. As His disciples, we are called to participate in God’s concrete love by expanding this love to others. Do we dare to touch people with modern-day leprosies, like poverty? Are we willing to restore the broken relationship in our lives? Are we eager to meet our God in prayer? Do we want to touch those who have been away from God and bring them back?

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Peringatan St. Skolastika

Peringatan St. Skolastika

SABTU PEKAN BIASA V

(Peringatan St. Skolastika)

1 Raja-raja 12:26-32; 13:33-34; Markus 8:1-10

Misi utama Yesus hadir ke dunia adalah untuk mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Kerajaan Allah berarti Allah hadir dan menguasai dunia termasuk hidup manusia. Yesus mewartakan Kerajaan Allah tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan nyata. Allah hadir di dunia karena Allah peduli dengan nasib manusia. Buktinya dapat kita dengar dalam injil hari ini. Injil Markus mengungkapkan kisah Yesus memberi makan empat ribu orang. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” Disini, secara jelas Yesus menunjukkan tanggung jawab dan belas kasih-Nya. Yesus tidak ingin mereka mati kelaparan dan imannya menjadi lemah. Namun apa yang dipikirkan oleh Yesus berbeda dengan apa yang dipikirkan para murid-Nya. Murid-murid Yesus berkata: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang bisa mendapatkan roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti yang ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak duduk. Yesus mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid untuk dibagikan kepada orang banyak. Hasilnya sungguh diluar dugaan para murid. Orang yang berjumlah lima ribu itu makan sampai kenyang, dan bahkan sisa sebanyak tujuh bakul.

Allah mengutus Tuhan Yesus ke dunia, salah satu alasannya karena cinta dan belas kasihNya kepada manusia. Dan belas kasihan adalah salah satu sifat Yesus yang sangat menonjol. Belas kasih artinya rasa sayang yang mendalam untuk menolong orang lain yang berada dalam kesulitan. Dan ciri orang yang telah dewasa secara iman, antara lain dinampakkan dengan sifat belas kasih yang mereka miliki. Sebaliknya orang yang tidak

peduli dengan sesama yang berkekurangan, merupakan ciri orang yang lemah atau dangkal imannya. Sebab orang yang dewasa imannya tidak lagi terlalu berfokus pada dirinya sendiri.

Sebagai murid Yesus, sudah seharusnya kita mempunyai sifat belas kasih kepada sesama kita. Namun kenyataannya, kadang-kadang sikap dan perilaku kita masih jauh dari kata layak untuk disebut sebagai murid Yesus. Kita bisa lihat contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kita terpengaruh dengan cara berpikir duniawi yang sesat dan keliru. Seperti misalnya: Ada orang yang seenaknya sendiri membuang-buang makanan. Padahal kita tahu masih banyak orang yang kelaparan dan sulit untuk mendapatkan makanan. Mereka tidak peduli dengan kenyataan bahwa banyak manusia yang setiap saat meninggal karena kelaparan. Mereka tidak memiliki sifat belas kasihan. Ada juga yang suka hidup berfoya-foya dan menghabiskan uang untuk kesenangan pribadi. Mereka tidak peduli dengan sesama yang hidupnya susah dan sengsara. Padahal di daerah yang lain masih banyak saudara kita yang miskin dan membutuhkan uluran tangan kita.

Semoga sabda Tuhan hari ini menggerakkan kita untuk menjadi murid-murid Yesus yang dewasa secara iman, yang mencintai Tuhan Yesus melalui tindakan belas kasih kepada sesama disekitar kita. Meski menjadi dewasa itu membutuhkan proses dan perjuangan yang tidak mudah, namun percayalah, niat baik kita itu akan mengundang Tuhan mengulurkan tanganNya membantu dan menemani kita untuk semakin dewasa dan kuat dalam beriman. Semoga kita masing-masing mampu menjadi kepanjangan tangan Tuhan Yesus untuk membagikan kasih dan kebaikanNya kepada sesama kita. Tuhan memberkati.

Translate »