Browsed by
Month: April 2018

Kamis 26 April 2018

Kamis 26 April 2018

Kamis 26 April 2018

Bacaan I               : Kisah Para Rasul 13: 13-25

Injil                         : Yohanes 13: 16-20

 

Rasul Paulus dalam kotbahnya mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis menyerukan suara pertobatan untuk menyambut Yesus Sang Mesias. Lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa Yohanes merasa tidak layak untuk membuka tali kasutNya. Yohanes sungguh menyadari posisinya sebagai seorang utusan, artinya seorang hamba. Bagaimanapun juga seorang hamba tak pernah lebih tinggi dari tuannya. Perkataan Yohanes ini sungguh persis seperti yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia akan berpisah dengan para muridNya. Ia mengatakan bahwa seorang hamba tak pernah lebih tinggi dari pada tuannya.

Kita sekalian adalah hamba Tuhan, dan bagaimanapun juga kita tak pernah bisa menyamai Tuhan yang telah menciptakan kita. Namun kitapun juga tahu, lewat Yesus Kristus kita bukan lagi hamba, namun Yesus telah membuat kita menjadi anak-anak Allah. Lebih dari itu, Tuhan Yesus telah membuat kita menjadi sahabatNya. Yesus mengatakan ini kepada para muridNya. Terkadang saya pribadi berpikir bahwa menjadi hamba Tuhan jauh lebih enak dari pada menjadi sahabat Tuhan. Seorang sahabat dia tahu seluk beluk sahabatnya, dan terkadang ia juga ikut menanggung apa yang dialami sahabatnya. Jika seorang hamba, terkadang ia tak mau tahu apa yang dialami tuannya, yang penting dia dapat upah, beres. Namun Tuhan Yesus telah memilih kita menjadi sahabatNya. Dalam Injil yang kita baca hari ini Ia berkata, “aku tahu siapa yang aku pilih”. Jadi kalau kita dibaptis berarti kita dipilih menjadi sahabatNya. Dengan demikian kitapun diminta oleh Tuhan untuk menjadi siap sedia bersama Dia, baik saat mengalami kejayaan maupun saat mengalami penghinaan.

Saat ini menjadi pengikut Tuhan, menjadi sahabat Tuhan dalam dunia sekuler sungguh riskan. Pengalaman dilecehklan, pengalaman ditolak, direndahkan adalah hal yang lumrah. Menjadi orang yang percaya dan taat kepada Tuhan acapkali menjadi bahan lelucon dan ejekkan. Kiranya kitapun mampu untuk bersama Tuhan menanggung hal ini. Tuhan selalu menguatkan kita dengan rahmatNya.

 

Doa:

Ya Tuhan, kami menyadari bahwa menjadi sahabatMu bukanlah perkara mudah. Banyak godaan, tantangan yang menghalangi kami, maka ya Tuhan kuatkanlah kami selalu dengan kuat kuasaMu selalu. Amin.

Rabu 25 April 2018 (Pesta St. Markus)

Rabu 25 April 2018 (Pesta St. Markus)

Rabu 25 April 2018 (Pesta St. Markus)

Bacaan I               : 1 Petrus 5: 5b-14

Injil                         : Markus 16: 15-20

 

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Perkataan Tuhan di atas sungguh sangat mendalam maknanya. Tuhan meminta kepada para muridNya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil (artinya kabar baik) kepada segala mahluk. Selanjutnya Ia mengatakan siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tuhan tidak mengatakan bahwa yang tak dibaptis akan dihukum. Memang Tuhan tidak meminta semua orang ataupun mahluk dibaptis, karena dibaptis atau menjadi murid Tuhan adalah sebuah panggilan. Lebih dari itu Tuhan mengatakan bahwa barang siapa tidak percaya kepadaNya mereka akan dihukum, dan ia tidak mengatakan siapa yang tak dibaptis akan dihukum.

Saat ini kita menjumpai banyak orang yang dibaptis, namun dalam kenyataannya mereka tak percaya kepada Tuhan sama sekali. Sebaliknya ada banyak orang yang tak dibaptis namun mereka sangat percaya kepada Tuhan; mereka sungguh sangat mencari Tuhan dan berjuang sekuat tenaga untuk berserah dan berpasrah kepada Tuhan. Baru-baru ini saya membaptis seorang Indo-Prancis. Sepanjang hidupnya ia tak pernah dibaptis, namun ia sangat percaya kepada Tuhan, selalu berdoa kepada Tuhan dan Bunda Maria, dan Puji Tuhan, berkali-kali mukjijat terjadi padanya dan juga ibunya yang divonis tidak berumur panjang karena berbagai komplikasi yang dia alami. Berkat doanya yang tulus baik dia maupun ibunya mengalami berkat Tuhan yang sungguh luar biasa. Berkat ketulusannya mencari Tuhan, akhirnya ia memutuskan untuk dibaptis dalam Gereja Katolik. Sungguh, perkataan Tuhan dalam Injil ini sangat luar biasa. Tuhan tidak hanya menyelamatkan mereka yang dibaptis, namun juga mereka yang tak dibaptis namun percaya kepadaNya. Karena itu kita mohon kepada Tuhan agar Dia membimbing kita yang telah dibaptis untuk semakin memperdalam iman kepercayaan kita kepadaNya, dan kiranya berkat praktek hidup kita yang benar dan baik, banyak orang mengenal Yesus Tuhan yang kita sembah. Amin.

 

Doa:

Ya Tuhan, kami mohon kuasaMu, terutama kuasa yang kami terima sebagai anak-anak Allah lewat sakramen Baptis yang kami terima. Kiranya ya Tuhan hidup kami sungguh memancarkan ajaran kasihMu sehingga banyak orang mengenal Engkau Allah dan Juru Selamat kami. Amin.

 

Selasa 24 April 2018

Selasa 24 April 2018

Selasa 24 April 2018

Bacaan I               : Kisah Para Rasul 11: 19-26

Injil                         : Yohanes 10: 22-30

 

“Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku”. Saat saya masih mendampingi para frater di rumah pendidikan, sering saya mengatakan kepada mereka, kamarmu adalah kepribadianmu. Artinya kalau kamar tempat tinggal mereka rapi dan bersih, saya yakin pastilah kepribadiannya teratur dan disiplin. Demikian pula sebaliknya, jika kamarnya semrawut dan mbulet, saya yakin kepribadiannya juga tak teratur. Memang, apa yang saya katakan ini kesannya gebyah uyah, terlalu generalisasi. Namun kalau dilihat lebih dalam lagi pekerjaan seseorang menggambarkan kualitas karakter seseorang.

Hal ini juga dikatakan oleh Yesus saat Ia ditanyai oleh orang-orang Yahudi, apakah Dia Mesias yang mereka tunggu atau bukan. Yesus tidak menjawab, “ya, Akulah Mesias yang kalian tunggu”, namun sebaliknya, Ia mengatakan “Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku”. Yesus tidak mau mengatakan dengan terbuka bahwa Ia adalah Mesias, namun Ia ingin agar orang-orang yang melihat, mengalami karya-karyaNya berpikir bahwa Ia adalah Mesias berkat pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan. Apapun yang Yesus lakukan dalam nama Bapanya menggambarkan kualitas diriNya, dan juga siapa yang mengutus Dia.

Perkataan Yesus ini mengingatkan kita sekalian akan kodrat kita sebagai Homo Faber, artinya mahluk pekerja. Kita sekalian dipanggil oleh Tuhan menjadi pribadi yang utuh berkat pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Sadar ataupun tak sadar, kualitas pekerjaan yang kita lakukan menggambarkan kualitas diri kita dan juga relasi kita dengan Tuhan. Kiranya kita sekalian mampu mensyukuri setiap pekerjaan, apapun yang kita lakukan, apapun profesi kita, dan senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap pekerjaan kita. Amin. Tuhan memberkati.

 

Doa:

Ya Allah Tuhan kami, Engkau menciptakan kami menjadi mahluk pekerja, bantulah kami Tuhan untuk dapat memuliakan namaMu dalam setiap pekerjaan yang kami lakukan, demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

 

Senin 23 April 2018

Senin 23 April 2018

Senin 23 April 2018

Bacaan I               : Kisah Para Rasul 11: 1-18

Injil                         :Yohanes 10: 1-10

 

Kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup. Karunia untuk hidup bukan hanya milik orang-orang Kristen ataupun Yahudi. Setiap orang, setiap bangsa memiliki hak untuk mengalami hidup abadi. Hal itulah yang diterima oleh Petrus saat ia berdoa, dan dalam penglihatannya ia melihat Allah membentangkan di hadapannya gambaran keselamatan yang diterima oleh berbagai bangsa. Sungguh naif jika kita berpikiran bahwa keselamatan hanyalah milik orang Kristen. Allah memberikan hati nurani kepada setiap orang yang memimpin mereka kepada kehidupan abadi, meskipun dengan catatan bahwa kita orang Kristen memiliki jalur keselamatan yang pasti yaitu Yesus Kristus, sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Melalui Dia dan dalam Dia kita akan sampai kepada Bapa, asal dan tujuan hidup kita.

Yesus juga adalah Sang Gembala Agung sebagaimana digambarkan oleh Rasul Yohanes dalam Injil yang ia tulis. Yesus sebagai gembala membimbing setiap domba yang Ia miliki untuk sampai kepada tempat yang aman dan memperoleh hidup. Sebagai seorang gembala Yesus juga tahu bahwa ada domba-domba lain yang tidak berasal dari kandang yang Ia miliki. NaluriNya sebagai gembala mengatakan bahwa Ia pun juga diutus untuk memberi hidup dan keselamatan kepada mereka. Sebagai gembala yang baik Yesus tahu menuntun domba-dombaNya untuk sampai kepada kehidupan yang benar dan baik. Melalui karunia hati nurani yang kita terima masing-masing, Tuhan senantiasa membimbing kita untuk berjalan di jalan yang telah Ia tunjukkan. Bila kita mau berjalan bersama Yesus sang Gembala Agung maka kitapun akan sampai kepada kehidupan abadi. Amin.

 

Doa:

Allah Bapa yang maha Agung, Engkaulah Guru kami, Engkaulah gembala kami. Tuntunlah kami agar mampu selalu mendengarkan ajaranMu, dan juga selalu mau untuk Engkau bimbing di jalanMu, agar kami dapat sampai kepada kehidupan abadi. Semua ini kami hunjukkan dalam keagungan Allah Tritunggal yang senantiasa kami sembah dan kami muliakan. Amin.

The Good Shepherd

The Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter

April 22, 2018

Jn 10:11-18

 

“I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep. (Jn. 10:11)”

 

The Bible itself is filled with the good shepherd images. My personal favorite among the psalms is Psalm 23, “The LORD is my shepherd; there is nothing I lack.”  Prophet Isaiah who consoles the Israelites in Babylonian Exile, speaks of God who is like a shepherd who gathers back the lost sheep and brings them back home from the land of exile (Isaiah 40:11) Some great leaders of Israel are shepherds. Moses is tending to his father-in-law’s flocks when he is called by God in the burning bush (Exo 3). David also is taking care of his father’s sheep when Samuel comes and anoints him king (1 Sam 16).  No wonder, Jesus takes the image of Himself and introduces Himself as the Good Shepherd.

 

From today’s Gospel, we can learn several characteristics of a good shepherd. Firstly, Jesus distinguishes between the Good Shepherd and the bad shepherds. The good shepherd owns the flocks and is responsible for their lives. Meanwhile, those bad shepherds do not own the sheep, and they work primarily for the money, not for the sheep. That is why when danger comes from the predators’ attack or the thieves’ ambush; the hired workers would run and save their own lives rather than to protect their sheep. The prophet Jeremiah criticizes the corrupt and abusive leaders of Israel during his time as he prophesies, “Woe to the shepherds who destroy and scatter the flock of my pasture (Jer 23:1).

 

The second characteristic of a good shepherd is he knows well his sheep and calls them by name. I used to think that “calling sheep by name” is just exaggerated, metaphorical language to show the shepherd’s care for his sheep, but later on, I discovered that “calling by name” actually, literally happens. The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’ Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd and will listen whenever he calls them. It reminds me of our pet-dog in our house. Our family calls it “cipluk,” and my mother and young brother take good care of it. Thus, every time my mother or brother calls its name, cipluk hastens to approach them. Yet, every time I go home and try to call its name, cipluk just won’t give any attention!

 

The third and more important characteristic is the good shepherd will lay down his life for his sheep. This seems to be an exaggeration. Why would you die for your sheep? If we recognize that the shepherd has a strong bond with his sheep and takes good care of them, he will have no second thought in defending his sheep from the attack of dangerous predators and robbers. At times, the robbers simply outnumber the shepherd and mercilessly beat the courageous shepherd to the death. The shepherd literally lays down his life for the sheep. This is not an uncommon happening in the time of Jesus in Palestine, and in fact, still happening in our time in some parts of the world.

 

To have the Good Shepherd as our Lord means that we belong to God intimately for better and for worse. He knows each one of us personally, and He will not abandon us when our lives face serious problems and dangers. He will not only care for us as long as we produce “wool,” but He continues to love us even when we have not been good sheep. In fact, Jesus lays down His life on the cross, so that we, His sheep, may have life, a life to the fullest. Have we become a good sheep? Do we recognize His voice? Do we listen to Him? Do we truly follow Him?

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »