Browsed by
Month: May 2018

MENJADI PELAYAN

MENJADI PELAYAN

RENUNGAN LUBUK HATI

 

Selasa, 22 Mei 2018

 

MENJADI PELAYAN

 

Yak 4:1-10

Mrk 9:30-37

 

Siapakah yang terbesar diantara murid-murid Yesus? Itulah yang diperdebatkan oleh para murid Yesus. Ketika mereka memperbincangkan hal itu, Yesus berkata, “ Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Yesus mengajak para murid untuk tidak sibuk dengan urusan-urusan yang tidak penting yaitu sikap haus akan kekuasaan, ambisi, posisi jabatan dll. Yesus mengajak para murid untuk lebih fokus pada pelayanan kepada sesama.

 

Dengan semakin peduli kepada sesama dan siap melayani kepada yang menderita, maka ia akan semakin dekat dengan Allah. Sebab dengan sikap peduli orang berbagi cinta kasih dan dimana ada orang saling mengasihi disitulah Allah hadir, sebab Allah adalah kasih. Ketika orang rela berkurban demi sesamanya terutama kepada mereka yang menderita maka ia telah melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah dan karena hal itu ia akan mendapatkan tempat yang pantas dihadapan Allah.

 

Melayani kepada mereka yang sakit, menderita dan miskin menjadi tantangan bagi semua orang beriman. Pelayanan bisa terjadi jika orang memiliki sikap rendah hati. Dengan kerendahan hati orang tidak akan menuntut orang lain akan tetapi ia akan justru mau mendengakan dan melayani dengan ketulusannya. Pelayanan yang tulus akan memberikan kebahagiaan dan kedamaian. Karena saat melayani pada saudara yang menderita saat itulah kita bersatu dengan Kristus.

 

Marilah berdoa,

 

Allah Bapa yang berbelas kasih, hadirlah selalu dalam diri kami, agar kasihMu sungguh nyata mendorong kami untuk selalu siap melayani kepada sesama kami yang menderita. Teguhkanlah kami untuk selalu setia dalam pelayanan karena dengan demikian kami bersatu dengan Dikau, Tuhan dan penyelamat kami, Amin.

DOA SUMBER KEKUATAN

DOA SUMBER KEKUATAN

RENUNGAN LUBUK HATI

 

Senin, 21 Mei 2018

 

DOA SUMBER KEKUATAN

 

Yak 3:13-18

Mrk 9:14-29

 

Di depan para muridNya , Yesus membebaskan seseorang dari roh jahat yang menggangunya. Para murid bertanya mengapa mereka tidak mengusir roh tersebut dari orang itu? Yesus menyatakan bahwa dengan doa, maka roh jahat tersebut bisa dikalahkan. Semua orang beriman tahu apa itu doa, namun tidak semua dari mereka menyadari bahwa doa memiliki kekuatan yang besar jika dilakukan dengan penuh iman dan benar.

 

Bagaimana sikap kita waktu berdoa? Sikap doa bukan hanya berhenti pada gerak-gerak tubuh namun yang terpenting adalah sikap batin atau disposisi hati. Jika doa dilakukan dengan sikap hati yang “menuntut” Allah hal itu artinya orang tersebut memperlakukan Allah sebagai hamba atau pembantu.  Doa yang benar perlu dilandasi sikap hati yang penuh iman dan penyerahkan diri pada kehendak Allah atau penyelengaraan Ilahi. Dalam doa orang memuliakan Allah dan memohon agar kehendak Nya terlaksana dalam kehidupannya.

 

Orang akan beriman kepada Allah adalah orang yang menghayati bahwa Allah itu baik dan rencana dan kehendak Nya adalah yang terbaik untuk hidupnya. Mereka sadar bahwa sebelum orang meminta, Allah tahu isi hatinya dan memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak-anakNya.  Doa bukan sebatas meminta tetapi doa adalah relasi yang mendalam antara kita dengan Allah yang selalu dijaga dan dirawat.  Kita akan menerima buah-buah dari doa yaitu damai, suka-cita, kerendahan-hati, kasih, harapan dan ketentraman.

 

Marilah berdoa,

 

Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas iman yang membuat kami bisa melihat akan kuasa dan kasihMu yang nyata.  Dengan iman kami bisa berdoa dan selalu merasakan kehadiran Mu yang membawa damai, suka-cita dan harapan. Inilah kami, siapkanlah kami dalam situasi apapun selalu berani untuk membagikan berkat-berkat Mu kepada sesama kami. Demi Krsitus, Tuhan dan mengantara kami, Amin.

The Holy Spirit of Pentecost

The Holy Spirit of Pentecost

Solemnity of the Pentecost

May 20, 2018

Jn 20:19-23

 

“We hear them speaking in our own tongues of the mighty acts of God (Acts 2:11)”

 

Just a week ago, three churches in Surabaya, Indonesia were attacked by suicide bombers.  Fear immediately seized me knowing the bombing sites were not far from our Indonesian Dominican community. Some of my good friends were from Surabaya, and they might have been harmed by the senseless explosions. I was somehow able to breathe upon knowing that they were safe, but part of my heart remained deeply hurt because many people, Christians and Moslems, police officers, ordinary citizen, and even children, died and were wounded. These were people with their hopes and dreams, their stories and faith, with family and friends. Yet, the brutal attacks instantly destroyed all. As we are now celebrating the Pentecost, we may ask ourselves: What does it mean to celebrate the outpouring of the Holy Spirit in a world chocked by fear and violence? How do we call ourselves the hopeful Pentecost People in the midst of persecution and death?

On the day of Pentecost, the Holy Spirit does appear in the form of the tongues of fire and rests on each apostle and disciple. They are filled with the Holy Spirit and begin to speak different languages and to proclaim the mighty acts of God to people coming from many nations. From the story, we discover that people from different languages and nations are able to understand, and begin to be one community as they listen to the mighty acts of God. Thus, the mission of the Holy Spirit is to become the principle of connection and unity among people separated by many walls and divisions.

We are coming from different languages, culture, and nations, having diverse upbringings, characters, and value system. We possess different convictions, beliefs, and faith. It is the work of the devil to sow the seed of fear and lies, and with so much fear and misconceptions of the others, it is easier to build higher fences and dig deeper trenches. These are the roots of fundamentalism and radicalism that kills rather than heals.

The Holy Spirit pushes us to go out from ourselves and reach to the others. If we are created in the image of the Holy Trinity, and if the Trinity is three unique divine persons living in the unity of love, we are designed to be unique individuals and yet we are also made as a person with others and for others. The Holy Spirit is like a mother eagle that when the right time comes, will throw its young brood from the cliff and let them learn how to fly gracefully like a mature eagles.

Hours after the bombing, people also flooded the hospitals where the terror victims were treated and offered themselves to be blood donors for the victims. One remarks that blood knows no ethnicity, religion or nation; it only knows type O, A, B or AB! The Holy Spirit works against the work of the devil, the father of lies. Thus, the Holy Spirit empowers us to proclaim the truth and the mighty acts of God. Minutes after the bombing, the social media was flooded by a graphic picture of people killed as to spread fear, but then the Indonesian netizens refused to share further the fear and began to place in their social media accounts hashtag #wearenotafraid.

The heroic stories also emerge. There is Aloysius Bayu, a parish volunteer, who died in the explosion. Had he not stopped the terrorists who tried to enter the church premises, countless people could have died that day. His death does not only end his life but also scatters the life of a woman who expects his husband to come home and a little baby who needs her father. Yet, it is not without hope. It succumbs to fear or anger, Bayu’s friends see his death as a sacrifice that leads to a new hope. One of his friends remarks, “We must not stop going to the Church because of fear. If we stop, Bayu would have died for nothing.” The Holy Spirit does not blind us to the harsh and ugly world we have, but the Holy Spirit empowers us to be brave and work for better future of this world.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto SJ

Hidup dalam terang Sabda Allah

Hidup dalam terang Sabda Allah

Hidup dalam terang Sabda Allah

Yoh 21:20-25

Injil Yohanes ditutup dengan bagian yang kita baca hari ini.

Ada banyak poin penting yang bisa direfleksikan. Salah satu poin yang meanrik adalah yang paling terakhir yaitu ayat 25: “Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat Yesus” tapi tidak tertulis dalam kitab ini.

Dan bagi saya inilah kekuatan Kitab Suci, yakni tidak pernah habis tertulis; diselami maknanya tapi tak pernah kering seperti air yang mengalir, mengalir dan mengalir untuk membasahi dan menyucikan, dan menghidupkan. Sebab Allah sendiri adalah penulisnya, dengan perantaraan manusia, berinspirasi Roh Kudus.

Inilah Sabda yang kita yakini dan imani sebagai penuntun dan sumber hidup Gereja. Inilah sabda yang kita renungkan dan dalami maknanya untuk mengenal kasih dan kebaikan Allah. Inilah sabda yang kita makan, kita kunyah dan kita serap artinya bagi hidup dan karya kita setiap hari. Inilah sabda yang menuntun dan memberi arah agar kita selalu berjalan dalam cahaya kebenaran Tuhan. Inilah sabda yang kita nyanyikan dalam puji-pujian untuk memuliakan Allah dalam Ekaristi, ibadat dan doa. Inilah sabda yang menerangi batin dan hati kita agar selalu taat dalam mengikuti ajaran Tuhan.

Semoga sabda Allah yang adalah sabda kebenaran dan hidup membantu kita melayani satu sama lain agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan selalu dan sepanjang masa. Amen.

 

 

Translate »