Browsed by
Month: September 2018

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

JUMAT, 21 SEPTEMBER 2018

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

Ef 4:1-7,11-13

Mat 9:9-13

Yesus memilih Simon Petrus menjadi salah satu RasulNya. Yesus memilih Petrus dari lingkungannya sebagai pemungut cukai/pajak yang dikenal sebagai orang pendosa. Karena kuasa, kasih dan kehendak Allah Matius dipanggil, bertobat dan menjadi rasul dan pengarang Injil Matius. Dimata masyarakat pada umumnya Matius tidak layak dan tidak pantas, namun bagi Allah segalanya mungkin dan terjadi.

Oleh karena itu tidak ada yang mustahil bagi Allah dan juga bagi orang yang percaya kepada Nya. Yang menentukan jalan hidup manusia adalah Allah, oleh karena itu setiap perjalanan hidup, sudah sepantasnya orang menyadari bahwa kemampuan manusia terbatas untuk bisa mengerjakan semuanya. Untuk bisa mengalami kuasa dan cinta Allah dibutuhkan kesadaran diri sebagai hamba yang berdosa. Semakin dengan tulus orang menyadari kehinaan dirinya, maka semakin ia memiliki jalan untuk sampai kepada pertobatan dan pengampunan dari Allah.

Sebaliknya jika manusia merasa tinggi hati, maka sulit untuk bisa mengalami kasih dari Allah. Seringkali justru ketika orang berada diposisi enak, sukses, dan terpandang dalam masyarakat ,ada bahaya orang tersebut menjadi lupa atau tidak menyadari dan tidak mengakui kelemahan dan kerapuhannya. Oleh karena itu, untuk bisa hidup seamkin dekat dengan Tuhan dan semakin siap untuk melayani, diperlukan sikap kerendahan hati.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, Ajarilah kami untuk semakin berani untuk mengakui akan segala kelemahan dan dosa kami, agar kami semakin menyadari bahwa hanya melalui Dikau kami menemukan damai dan harapan. Tanpa bantuanMu, kami akan jatuh dan tidak berdaya. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amin.

BERANI MENGAKUI KELEMAHAN DAN DOSA

BERANI MENGAKUI KELEMAHAN DAN DOSA

Kamis, 20 September 2018

BERANI MENGAKUI KELEMAHAN DAN DOSA

1Kor 15:1-11

Luk 7:36-50

Yesus menerima seorang perempuan yang dipandang masyarakat sebagai pendosa. Sekalipun demikian Yesus melihat ketulusan hati perempuan tersebut ketika ia berbuat kasih dan karena itu dosanya diampuni dan ia diselamatkan. Perbedaan cara pandang mentukan sikap dan tindakan. Manusia sering kali hanya melihat sisi luar, namun Yesus Kristus melihat apa yang tersimpan dihati manusia.

Yesus menerima perempuan tersebut sebagai tanda bahwa Allah berbelas kasih kepada perempuan tersebut yang dengan hati yang tulus menyatakan pertobatannya dengan melakukan tindakan kasih. Kasih yang dilakukan menjadi bukti bahwa perempuan tersebut telah berubah dan selalu ingin tinggal dekat dengan Yesus Kristus.

Setiap orang memiliki kelemahan dan karena itu tidak ada orang yang sempurna dan pernah jatuh dalam dosa. Namun tidak semua orang memiliki sikap rendah hati; mengakui kelemahan dan dosanya. Hanya orang yang rendah hati yang memiliki jalan untuk menerima pengampunan dan belas kasih Allah. Dengan ketulusan hati dan diungkapkan dalam pelayanan penuh kasih, dengan cara demikian maka kita akan menerima kekuatan, perlindungan dan belas kasih dari Allah.

Oleh karena itu, jaganlah kita takut dengan pandangan orang lain ketika kita melakukan semakin banyak pelayanan atau tindakan kasih sebagai ungkapan dari pertobatan dan kasih kepada Allah. Dia menerima anak-anakNya yang datang kepada Nya.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, terimalah kami hambaMu ini. Segala dosa-dosa kami sesali dan mohon rahmat pengampunan, agar kami kembali dengan semangat melayaniMu dalam diri sesama kami. Tumbuhkanlah dalam diri kami keberanian untuk selalu mengakui segala kelemahan dan dosa kami, agar kami bertumbuh dalam kasih yang tulus kepada Mu dan sesama kami. Demi Kristus, Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

BELAJAR UNTUK RENDAH HATI

BELAJAR UNTUK RENDAH HATI

RABU, 19 SEPTEMBER 2018

BELAJAR UNTUK RENDAH HATI

1Kor 12:31-13:13

Luk 7:31-35

Orang-orang yang menolak kehadiran Yesus, yaitu orang Farisi dan Ahli Taurat, berusaha menghambat dan menggagalkan karya-karya Yesus. Dimana mata mereka apapun yang baik yang dilakukan oleh Yesus, bagi mereka salah. Hati dan pikiran mereka tertutup oleh kesombongan dan kebencian. Namun Yesus tidak berhenti untuk tetap berkarya. Yesus mengkritik mereka karena “kekerasan hati mereka”, sehingga dengan sikap mereka yang demikian rahmat Allah mereka abaikan.

Injil, mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa kehadiran Yesus Kristus dalam diri kita, membutuhkan kesiapan untuk menerima Nya. Kesiapan hati terlihat dari keberanian kita untuk menyangkal diri, yaitu menolak segala bentuk kesombongan dan kejahatan. Jika hati manusia masing terbelenggu dengan kesombonganya, maka sulit bagi orang tersebut merasakan kasih Allah.

Seringkali manusia tidak menyadari bahwa kesombongan membuat relasi dengan Allah menjadi jauh. Ketika relasi kita dengan Allah jauh, maka relasi kita dengan sesama juga kan buruk. Tanda bahwa ada ketidakberesan menyangkut relasi dengan Allah dan sesama, yaitu munculnya sikap curiga, iri hati, benci, marah, dendam, tidak mau kalang, mudah tersinggung dll. Jika muncul hal-hal tersebut, itu tanda bahwa relasi dengan Allah jauh. Kita hari ini diajak melepaskan segala bentuk kesombongan diri agar rahmat, damai dan belas kasih Allah semakin tercurah dalam hidup kita.

Marilah berdoa,

Allah yang maha Kasih, terima kasih atas kesetiaan dan kasih yang selalu mengalir dalam hidup kami. Kami menyerahkan hidup kamu kedalam tangan Mu. Bimbinglah kami di jalan yang benar dan jauhkanlah sikap sombong, agar hanya nama Mu yang selalu kami muliakan dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

SEMUA HAL YANG BAIK BERASAL DARI KASIH

SEMUA HAL YANG BAIK BERASAL DARI KASIH

SEMUA HAL YANG BAIK BERASAL DARI KASIH

Selasa, 18 September 2018

1Kor 12:12-14,27-31a

Luk 7:11-17

Yesus tergerak hatiNya ketika bertemu dan merasakan kesedihan seorang janda di Nain yang ditinggal anaknya yang tunggal. Karena Kasih Nya, maka Yesus datang dan kemudian menghidupkan kembali pemuda di Nain tersebut. Dengan demikian Yesus mengajarkan kepada para muridNya bahwa, belas kasih menjadi dasar semua sendi kehidupan. Sebab kasih menghadirkan harapan, kesembuhan dan damai. Jika orang memiliki kasih, ia akan bisa mengalami kehidupan yang bahagia.

Seringkali manusia kurang menyadari bahwa dengan kasih orang bisa melakukan banyak hal yang baik. Sebaliknya jika orang terbenggu dengan kebenciannya, ia akan semakin sempit pandangannya, cenderung tertutup dan akan sering mengalami kecemasan, kemarahan dan kegelisahan. Yesus merindukan semua orang yang percaya kepada Nya, meninggalkan cara hidup yang dikuasai oleh egoisme dan kebencian. Sebab kebencian akan membawa kehancuran dalam hidup manusia.

Jika semua orang hidup dalam kasih maka dunia, masyarakat, keluarga akan hidup damai, rukun dan sejahtera. Perjuangan kita adalah bagaimana kasih bisa meresap dalam hati, dan pikiran kita sehingga apapun yang dilakukan mengalir dari kasih yang pasti akan membawa perubahan yang baik. Yesus telah turun ke dunia untuk menghadirkan Kerajaan Allah, yaitu Kasih yang menjadi fondasinya. Sebagai murid-muridNya, kita diutus dan dipanggil untuk mewartakan Kasih Allah kepada sesama. Kita mulai dari diri sendiri, berjuang agar hati dan pikiran dipenuhi oleh suka cita karena Allah mengasihi kita. Kasih yang kita alami tersebut yang akan kita bagikan kepada sesama.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih. Tanamkanlah dalam hati dan budi kami, Kasih Mu yang sungguh nyata. Agar kami siap mewartakan kasih kepada sesama kami. Jauhkanlah kami dari sikap iri dan benci, agar hanya damai dan kasihMu yang tinggal dan memenuhi hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami, Amin.

TERUS MENJADI ORANG YANG RENDAH HATI

TERUS MENJADI ORANG YANG RENDAH HATI

RENUNGAN LUBUK HATI

SENIN, 17 SEPETEMBER 2018

TERUS MENJADI ORANG YANG RENDAH HATI

1Kor 11:17-26

Luk 7:1-10

Yesus kagum dengan salah satu dari perwira, bukan karena pangkat dan jabatannya yang tinggi tetapi karena sikapnya yang rendah hati. Perwira itu mengatakan kepada Yesus; “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku”. Sekalipun perwira tersebut memiliki kuasa dan jabatan yang tinggi, namun ia tidak menganggap jabatannya sebagai sesuatu yang penting dan justru sebaliknya ia merasakan dirinya yang tidak pantas dihadapan Tuhan.

Jabatan, harta, dan semua kemegahan duniawi bisa menyilaukan dan menggoda manusia dalam kesembongan dan tajuh dalam dosa. Oleh karena itu agar orang tidak jatuh dalam dosa dan kesembongan karena harta dan jabatan, maka perlu kembali menyadari siapa diri manusia sebenarnya? Orang yang sadar akan melihat dengan benar bahwa pada hakekatnya semua manusia dihadapan Allah adalah sama martabatnya. Jadi kemuliaan manusia tidak diukur dan dinilai dari berapa banyak harta dan berapa tinggi jabatannya.

Sudah banyak terjadi karena berebut harta dan jabatan, manusia saling memusuhi, membenci dan membunuh. Oleh karena itu penting kembali disadari bahwa jabatan dan harta dunia adalah sebatas sarana dan bukan tujuan hidup manusia. Keselamatan manusia tergantung dari kesetiaan akan kebenaran yang bersumber dari Allah. Kehidupan di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulakn harta surgawi yaitu iman yang dihayati dalam perbuatan. Semakin orang beriman ia akan semakin rendah hati, semakin murah hati dan semakin mampu berserah serta bersandar pada Allah.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, tanamkanlah dalam diri kami sikap rendah hati, agar kami semakin menyadari bahwa hanya Engkulah yang menjadi sumber damai dan harapan kami. Semoga kami tidak terlena dengan jabatan dan kekayaan yang akan menjadikan kami sombong, namun jadikanlah kami hamba Mu yang taat dan setia. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

Translate »