Browsed by
Month: October 2018

Kesempatan…

Kesempatan…

Sabtu, 27 Oktober 2018

1. Bacaan I : Efesus 4:7-16

2. Injil : Lukas 13:1-9

Kesempatan…

Kita sudah sering mendengar bahwa kesempatan adalah hal yang mahal, karena mungkin hanya datang sekali dan setalahnya tidak lagi datang untuk kita. Karena hal inilah maka jika kesempatan itu datang kita akan segera “menangkapnya” dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. Namun kerap kali kita hanya menempatkan kata “kesempatan” terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi, seperti: kesempatan untuk naik jawabatan, kesempatan untuk mendapat untung lebih besar, kesempatan untuk lari dari realita yang buruk, dan kesempatan-kesempatan lain yang bersifat memudahkan hidup kita. Hal yang sebaliknya justru terjadi saat kesempatan itu adalah kesempatan untuk kita bisa memperbaiki diri. Kita kerap kali tidak mudah menangkapnya, atau jika kita tahu pun kadang kita tidak ada niat untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Alasannya karena kesempatan macam itu harus kita jalani dengan cara yang berat dan tidak mudah, maka kita memilih untuk menghindarinya.

Hari ini Yesus juga berbicara tentang kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, namun jika kesempatan itu tidak diambil maka selamanya kita tidak akan berkembang dan tidak akan pernah berbuah bagi diri kita dan bagi orang lain. Kesempatan untuk berkembang lebih baik dalam pertobatan selalu ditawarkan pada kita, dan tidak hanya datang sekali saja. Yesus selalu memberi kesempatan untuk kembali padanya, maka mari kita segera gunakan kesempatan itu agar kita dapat memperbaiki diri dan membangun pertobatan agar hidup kita dapat berbuah dengan lebat sehingga bisa kita syukuri dan akhirnya juga bisa kita bagikan pada orang lain yang kita jumpai. Amin.

Kita tahu menilai gelagat langit dan bumi, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini (orang lain)?

Kita tahu menilai gelagat langit dan bumi, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini (orang lain)?

Jumat, 26 Oktober 2018

1. Bacaan I : Efesus 4: 1-6

2. Injil : Lukas 12:54-59

Kita tahu menilai gelagat langit dan bumi, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini (orang lain)?

Kerap kali dalam hidup harian kita amat mudah untuk menilai banyak hal dari segi fisik saja. Kita peka dengan sesuatu yang sudah “biasanya”, layaknya musim yang berganti dengan tanda-tanda yang mengawali dan mengikutinya. Namun kita kadang kurang peka dengan apa yang menjadi kedalaman hati orang lain. Kita mungkin bisa menilai orang lain secara fisik yang kelihatan, namun tentang batin dan situasi hatinya kita sulit untuk menangkapnya. Kesulitan ini adalah hal yang normal, karena kita saja kadang tidak paham dengan suasana dan situasi diri kita sendiri apalagi dengan situasi diri orang lain. Hal inilah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa dalam berelasi dengan orang lain kita tidak bisa menempatkan mereka sesuai dengan apa yang menjadi standard diri kita karena semua orang pasti punya kekhasan yang tidak bisa seluruhnya dipahami oleh orang lain. Kita diajak untuk mau memahami dan akhirnya menghormati orang lain agar kehadiran dan relasi kita dapat menjadi berkat bagi diri kita dan juga bagi orang lain yang berelasi dengan kita. Jangan sampai karena ketidakpahaman kita pada orang lain justru membuat apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan malahan menyakiti hati sesama.

Hari ini selain mengajak kita untuk mau memahami orang lain, Yesus juga mengajak kita untuk mau berdamai dengan sesama kita. Relasi yang kita bangun, yang mungkin saja harus diwarnai dengan konflik juga harus disikapi dengan kesediaan untuk mau berdamai. Berdamai lebih sulit karena perlu kerendahan hati yang besar untuk melakukannya, namuan jika berdamai dapat kita lakukan maka darinya kita akan mendapatkan kelegaan dan kebahagiaan untuk kembali melanjutkan hidup kita.

Semoga hari ini kita mau belajar untuk memahami orang lain, dan berani untuk berdamai jika ternyata dalam relasi bersama dengan sesama ada konflik yang terjadi. Amin

Kamis, 25 Oktober 2018

Kamis, 25 Oktober 2018

Kamis, 25 Oktober 2018

1. Bacaan I : Efesus 3:14-21

2. Injil : Lukas 12:49-53

Yesus yang digambarkan sebagai pembawa damai dan sukacita bagi umatNya, hari ini justru ditampilkan dalam gambaran yang sungguh bertolak belakang. Ia digambarkan sebagai pribadi yang mendatangkan perpecahan dan permusuhan, bahkan dengan sesama anggota keluarga sekalipun. Namun pertama-tama agaknya bukan perpecahan atau permusuhan yang menjadi fokus kita. Karena jika itu yang menjadi fokus kita maka kita hanya akan melihat Yesus dari sisi negatif yang akhirnya justru membuat kita menjadi mudah membenarkan tindakan-tindakan yang berbau kekerasan. Fokus lain yang bisa kita lihat dan kita dalami adalah kehendakNya agar semakin banyak orang yang dipatis dan menjadi murid-muridNya. Baptisan itulah yang bisa jadi membuat seseorang menjadi “lain” dari orang kebanyakan, entah itu dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Karena dianggap “lain” inilah maka kerap kali orang yang memutuskan dibaptis dan menjadi murid Yesus harus mengalami diskriminasi dan dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya, bahkan tidak jarang ada yang harus diusir atau tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga. Tantangan inilah yang harus diambil oleh mereka yang memilih Yesus sebagai pilihan hidupnya. Tantangan dikucilkan atau bahkan dimusuhi harusnya menjadikan iman kita semakin kuat dan berakar karena Yesus ditempatkan sungguh-sungguh sebagai andalan dalam situasi yang sulit bersama orang lain yang memusuhi. Namun tetap saja kita tetap harus ingat bahwa hukum utama dalam teladan Yesus adalah cinta kasih, maka walau dalam situasi sulit dan penuh tantangan kita tetap diajak untuk menyikapinya dengan sikap yang penuh kasih dan pengampunan.

Semoga dalam tantangan yang tidak mudah, Iman kita pada Yesus semakin bertumbuh dan berkembang menjadi makin dewasa.

Hendaklah kalian juga siap-sedia

Hendaklah kalian juga siap-sedia

Rabu, 24 Oktober 2018

1. Bacaan I : Efesus 3:2-12

2. Injil : Lukas 12:39-48

“Hendaklah kalian juga siap-sedia”

Sekali lagi Yesus mengajak kita untuk menjadi pribadi yang siap sedia. Perumpamaan yang digunakan oleh Injil Lukas juga kurang lebih masih sama karena menggunakan kehidupan hamba yang seharusnya siap-sedia dengan kedatangan tuannya. Sikap siap-sedia ini amat dekat hubungannya dengan nilai kesetiaan. Kesetiaan terletak bukan pada saat semuanya terawasi, namun kesetiaan akan menemukan nilai lebihnya pada saat kita bebas dari pengawasan karena di sanalah kesetiaan yang sejati muncul. Kesetiaan juga bukan hanya pada hal yang mudah dan baik saja, namun lebih-lebih di saat kita ada di dalam situasi yang tidak nyaman. Dalam situasi tidak nyaman dan tanpa pengawasanlah kesetiaan kita menjadi teruji dan kerenanya menjadi lebih dewasa. Kesetiaan macam itu membuat iman kita menjadi otentik, karena kita beriman bukan karena merasa terkekang dan dalam situasi ketakutan. Kesetiaan yang dewasa dalam iman inilah yang agaknya dimaksud oleh Yesus menjadi bekal bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal nantinya.

Semoga kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang setia dalam iman yang diwujudkan dalam hidup harian melalui hal-hal yang kecil. Amin.

Berbahagilah para Hamba yang Didapati Tengah Bekerja dan Berjaga-jaga

Berbahagilah para Hamba yang Didapati Tengah Bekerja dan Berjaga-jaga

Selasa, 23 Oktober 2018

1. Bacaan I : Efesus 2:12-22

2. Injil : Lukas 12:35-38

Berbahagilah para Hamba yang Didapati Tengah Bekerja dan Berjaga-jaga

Dinamika kerja untuk sebagian orang mungkin adalah situasi yang tidak nyaman dan serba penuh tekanan. Tekanan dari atasan agar menghasillam target maksimal atau tekanan tempat kerja kerap kali membuat “kerja” menjadi begitu berat untuk dijalani. Suasana itu semakin parah jika ada nuansa persaingan diantara sesama pekerja dengan beragam motivasi yang mengikutinya. Ada yang motivasinya supaya cepat naik gaji, cepat naik jabatan, atau motivasi untuk mendapat simpati dari atasan atau pemilik perusahaan. Semua usaha dilakukan agar kita terlihat baik dimata majikan, namun saat majikan itu pergi semua orang seolah kembali menjadi dirinya. Bagi mereka yang menganggap kerja sebagai beban maka akan mengambil kesempatan ini untuk sejenang meluruskan badan dan bersantai. Bagi yang motivasinya hanya untuk mendapat simpati juga sudah bisa dipastikan akan menunjukan sifat aslinya karena merasa bebas dari sorotan dan pengawasan atasan. Sifat inilah yang hari ini dikritik oleh Lukas; sifat ini membuat kita menjadi tidak integral. Kita hanya bekerja saat ada majikan atau saat ada pengawasan. Kerap kali kita juga melakukannya dalam hal dosa; kita merasa tidak diawasi maka kita bisa melakukan apa yang jadi nafsu dan keingian kita. semoga hari ini kita sungguh-sungguh bisa menjadi pribadi-pribadi yang integral juga dalam iman. Iman kita semoga kita wujudkan bukan karena merasa terawasi atau merasa tertekan, namun sungguh karena apa yang kita imani memang selaras dengan apa yang kita wujudkan tanpa ada rasa terpaksa sehingga kita siap kapanpun Tuhan kita datang.

Translate »