Browsed by
Month: January 2019

Tenanglah! Aku ini, jangan Takut!

Tenanglah! Aku ini, jangan Takut!

Tenanglah! Aku ini, jangan Takut!

Jan 9, 2019

Mrk 6:45-52

Hidup di dunia seperti berada di atas samudera lautan yang luas, dengan pelbagai peluang dan kesempatan untuk berkreasi dan berbuat baik dan memperoleh kebahagiaan. Namun sering kali kita berhadapan dengan pelbagai cobaan, tantangan dan penolakan yang membuat kita menderita, merasa cemas, takut dan tak berdaya sehingga kita semakin terkurung dengan diri kita sendiri.

Hari ini Yesus memanggil kita keluar dari penjara ketakutan dan ketertutupan diri: Tenanglah. Aku ini. Jangan takut! Kata-kata Yesus ini adalah manisfestasi keterbukaan dan kehadiran Allah untuk mengeluarkan manusia dari ketakutan dan ketakberdayaan yang sering kali diciptakan sendiri. Ketakutan tidak membawa ketenangan dan kedamaian karena batin dan pikiran manusia terganggu, tak terkontrol dan menjadi berantakan. Tenanglah adalah sapaan Yesus yang membawa kita kepada ketentraman dan keteraturan. Tenanglah adalah suara Roh yang membawa kita keluar dari keterasingan dan penjara ketakutan kepada kebebasan dan kepercayaan diri. Tenanglah adalah suara Allah, yang menghalau kuasa kegelapan dan maut kepada hidup dan keselamatan Allah.

 

Penderitaan sering terjadi karena ketidakpercayaan, ketertutupan diri dan penolakan terhadap intervensi Allah. Penderitaan juga sering muncul karena kehilangan harapan: sikap menolak rahmat dan kekayaan hidup yang terbentang luas di depan mata, dengan pelbagai mimpi dan ide, kesempatan dan kesuksesan yang ditawarkan. Penderitaan juga sering terjadi karena tiadanya kasih: ketidakmauan untuk berkorban, memberi dan berbuat baik bagi sesama. Semoga kata-kata Yesus: “Tenanglah. Aku ini, Jangan takut!” membangkitkan dan menguatkan iman, harap dan kasih untuk selalu terbuka terhadap kuasa dan karya keselamatan Allah.

Kamu harus memberi mereka makan

Kamu harus memberi mereka makan

Kamu harus memberi mereka makan

Mark 6:34-44

Jan 8, 2019

Hari ini Injil berbicara tentang mujizat pemberian makan 5000 orang oleh Yesus. Mujizat hanya bisa dilakukan oleh Allah untuk menyatakan kehadiran-Nya dan mengangkat keyakinan iman umat bahwa Allah sungguh nyata dan menyertai kehidupan mereka.

Kesulitan yang dihadapi para murid nampak dalam permintaan agar Yesus menyuruh orang banyak itu pergi mencari makanan karena mereka jauh dari perkampungan. Kesulitan ini ditantang oleh Yesus dengan kata-kata: Kamu harus memberi mereka makan. Ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Namun di tengah kesulitan ini, ada jalan. Yesus bertanya tentang apa yang ada para mereka. Ada lima roti dan dua ikan. Yesus menyuruh agar orang-orang duduk berkelompok. Yesus mengambil lima roti dan dua ikan lalu mengucapkan syukur kepada Tuhan, Bapa-Nya dan memecah-mecahkan roti dan dibagikan kepada orang banyak. Semua makan sampai kenyang dan masih sisa dua belas bakul penuh.

Melalui mujizat tersebut Yesus mengajarkan bahwa makanan yang diberikan-Nya sungguh adalah manifestasi kasih Allah, berkat kehadiran Yesus, Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Yesus mau menunjukkan bahwa sumber utama kehidupan manusia adalah Allah, pencipta dan penyelenggara segala sesuatu. Selain mengarahkan pandangan orang banyak, dan terutama para murid akan hubungan langsung dan dekat Allah dan manusia dalam dan melalui diri-Nya, mujizat ini menjadi bukti konkret kasih dan kebaikan Allah.

Dengan mengucapkan syukur Yesus juga mengingatkan akan pentingnya iman dan pengakuan terhadap kemahakuasaan Allah dalam hidup manusia. Perintah pertama sepuluh hukum Allah adalah jangan menyembah berhala. Saat susah manusia cenderung cari jalan sendiri. Tapi kecenderungan ini dikoreksi karena mengandalkan diri atau tanpa iman, kesulitan justru makin banyak dan bahkan membuat orang putus asa.

Memang ada banyak jalan kepada Allah, dan itu adalah jalan manusia. Tapi satu-satunya jalan adalah Kristus, yang adalah “jalan” itu sendiri, sebab Ia datang dari Allah.

Untuk kita orang kristen, mujizat perbanyakan roti juga mengingatkan kita akan makanan yang paling utama dalam hidup kita, yakni Ekaristi. Ini adalah santapan rohani yang tidak berasal dari dunia, bukan hasil kerja manusia semata, atau manipulasi setan, melainkan semata-mata berkat dan pemberian Allah. Di dalam ekaristi, ada santapan Sabda dan santapan tubuh dan darah Kristus, santapan keselamatan bagi jiwa-jiwa yang lapar dan haus, yang rindu untuk bersatu dengan Allah, yang adalah kebaikan dan kebenaran sejati, bagi hidup kekal.

Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!

Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!

Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!

Mat 4:12-17, 23-25

Jan 7, 2019

Pertobatan adalah sikap beralih, mundur dari keinginan dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan membahayakan, dan berbalik, kembali kepada kebaikan dan kebenaran Tuhan. Keinginan-keinginan yang tak teratur memperbudak jiwa manusia dan membuatnya tidak berdaya, menyesatkan, bahkan mematikan. Akar dari penyakit dan kesesatan ini adalah dosa manusia. Dan semua penyakit dan kesesatan ini hanya bisa disembuhkan dengan kuasa Allah.

Yesus adalah Mesias yang datang ke dalam dunia. Ia memulai karya pembebasan-Nya dengan seruan tobat sambil melakukan penyembuhan: menghalau kejahatan dan kegelapan yang bercokol dalam jiwa dan hati manusia, dalam tubuh yang sakit, dalam pikiran yang tidak benar dan tak teratur, dalam kehendak dan keinginan yang tidak sejalan dengan kehendak dan pikiran Allah. Roh Kudus yang bekerja dalam diri Yesus ini hendak membawa kita kembali agar hidup dalam terang, yakni Allah sendiri.

Semoga komitmen-komitmen yang sudah kita buat di awal tahun baru ini tidak terlepas dari komitmen Yesus sendiri, Sang Guru Ilahi dan Juruselamat, yakni sabda pertobatan kepada semua orang, khususnya orang-orang sakit yang butuh disembuhkan karena terjerat oleh penyakit fisik maupun jiwa oleh keinginan dan cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak dan kasih Allah, yang masih hidup dalam gelap, tanpa iman dan penuh permusuhan, kepada rahmat yang dibawa oleh Kristus, yakni rekonsiliasi, kasih dan damai dengan Allah dan dengan sesama.

RINDU SEBAGAI KEKUATAN HIDUP

RINDU SEBAGAI KEKUATAN HIDUP

Sabtu, 5 Januari 2019

Carolus Houben, Yohanes Neuman
1Yoh. 3:11-21; Mzm. 100:2,3,4,5; Yoh. 1:43-51

RINDU SEBAGAI KEKUATAN HIDUP

Seorang yang dilanda rindu, akan mudah tanggap ketika ada kabar atau informasi tentang orang yang dirindukannya. Dengan segala penantian, dan waktu yang digunakan untuk menunggu, orang yang rindu akan menjadi sedemikian gembira dan bahagia, meski sedikit saja merasakan kehadiran pribadi yang dirindukannya. RAN, dalam lagunya: “Dekat di Hati’, menyenandungkan demikian: “Aku di sini, dan kau di sana, hanya berjumpa via suara. Namun, ‘ku s’lalu menunggu saat kita akan berjumpa. Meski kau kini jauh di sana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun dekat di hati.” Kegembiraan hakiki dari sebuah kerinduan adalah perjumpaan dengan pribadi yang dirindukan. Maka, salah satu hal yang paling dinanti dari orang yang sedang rindu adalah perjumpaan itu sendiri.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan seorang bernama Natanael, yang memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu Mesias, dan dia bertekad untuk pergi menemukan Yesus. Kerinduan yang besar inilah yang menjadi kekuatan baginya untuk bertemu dengan Yesus. Dan Yesus pun mengatakan pada Natanael, bahwa dia adalah gambaran orang Israel Sejati, yang mau melakukan apapun demi bisa bertemu dengan Allah. Namun, apakah juga demikian dengan kita, yang menjadikan Yesus adalah pokok kerinduan kita? Kadang kita lebih merindukan hal yang lain, namun justru Allah yang rindu berjumpa dengan kita. Maka, semoga kerinduan akan kehadiran Yesus ini  menjadi pendorong hidup kita, sehingga segala sesuatu terarah padaNya, demi sesuatu yang lebih baik.

Selamat pagi, selamat merindukan kehadiran Yesus. BDG.

TAHU, TERTARIK DAN MENCOBA

TAHU, TERTARIK DAN MENCOBA

Jumat, 4 Januari 2019

Elisabeth Anna Bayley Seton, Angela dari Foligno
1Yoh. 3:7-10; Mzm. 98:1,7-8,9; Yoh. 1:35-42

TAHU, TERTARIK DAN MENCOBA

Kekuatan industri apa pun jaman sekarang, terletak pada faktor promosi. Faktor promosi dan iklan menjadi penentu sebuah produk atau merk berhasil di pasaran. Maka tidak mengherankan jika sekarang banyak industri kuliner yang mengedepankan promosi di atas segalanya. Media sosial menjadi sarana efektif untuk membuat orang tertarik dan mencoba produk kuliner tertentu. Banyak ‘trend’ kuliner berkembang, karena promosi yang kuat, sehingga orang yang datang tidak kecewa karena mendapatkan sesuai yang diinginkan.

Kisah Injil hari ini juga mengkisahkan seorang yang bernama Andreas yang mengikuti Yesus karena kesaksian Yohanes Pembaptis. Iman Andreas bertumbuh karena ‘promosi’ dan kesaksian Yohanes Pembaptis, yang akhirnya membuat ia datang dan menemui Yesus. Semoga kita pun tergerak untuk selalu ‘mempromosikan’ Yesus agar semakin banyak orang yang tertarik dan dekat dengan Yesus. Banyak orang sekarang hidup tanpa pegangan, dan barangkali lewat kesaksian kita, hidup mereka terbantu karena kesaksian kita akan Yesus.

Selamat pagi, selamat ‘mempromosikan’ Yesus kepada semakin banyak orang. BDG.

Translate »