Browsed by
Month: January 2019

TANDA-TANDA KEHADIRANNYA

TANDA-TANDA KEHADIRANNYA

Kamis, 3 Januari 2019

Nama Yesus Yang Tersuci, Fulgensius, Kuriakos Elias Chavara
1Yoh. 2:29-3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34

TANDA-TANDA KEHADIRANNYA

Ada banyak orang yang sudah kita kenal. Mereka silih berganti masuk dalam hidup kita. Dan masing-masing dari mereka memiliki pengalaman yang khas bersama kita. Dan dari pengalaman itulah kita mengenal dan mengingat mereka. Ketika reuni atau kumpul bersama teman-teman lama, yang terjadi selalu pengalaman-pengalaman masa lalu yang mengesan untuk mengingat kembali nama dan wajah seseorang. Bahkan, seseorang diingat karena memiliki pengalaman mengesan dan kadang lucu. Namun, bagaimana kita hendak mengenal Allah, yang secara kasat mata tidak kelihatan? Ya benar, melalui peristiwa-peristiwa hidup yang kalau kita ingat bahwa itu sulit dan berat tapi mampu melaluinya. Allah tampak dalam mukjijat besar hidup kita.

Begitu pula yang dialami Yohanes Pembaptis ketika berbicara tentang Yesus. Pada mulanya, ia juga tidak mengenal Yesus, selain dari apa yang sudah dikerjakanNya dan tanda-tanda yang menyertaiNya. Sampai Yohanes Pembaptis percaya dan yakin bahwa Dia adalah Yesus yang akan menjadi sumber kesaksiannya. Kita pun dalam hidup sering meragukan Allah, hanya karena tak kelihatan, padahal Dia bekerja melalui pengalaman dan peristiwa hidup yang nyata. Kalau sebuah peristiwa dan pengalaman membawa seseorang menjadi lebih beriman, di situlah Allah hadir dan menyertai hidup kita. Maka mari kita mohon supaya kita diberi anugerah untuk mengenalNya melalui tanda-tanda yang dibuatNya.

Selamat pagi, selamat menanti tanda-tanda yang dibuatNya. BDG.

MEWARTAKAN KERENDAHAN HATI

MEWARTAKAN KERENDAHAN HATI

Rabu, 2 Januari 2019
Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze
1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28
MEWARTAKAN KERENDAHAN HATI
Manusia dikendalikan oleh ego. Bagaimana tidak? Orang sekarang berjalan menurut kepentingan dirinya sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan maka disingkirkan saja. Dalam hidup berkomunitas, yang sesungguhnya mementingkan kebersamaan, hidup berdasarkan ego adalah sesuatu yang dikecam. Masing-masing orang memiliki peran dengan kadar berbeda-beda bagi komunitas tersebut, maka tidak boleh seseorang dikorbankan hanya demi menuruti keinginan dari salah satu orang saja. Maka, baik kalau dalam komunitas itu dikembangkan sikap rendah hati, bahwa diri sendiri tidak mampu melakukan, maka orang lain lah yang akan memberi bantuan. Bukan malah gengsi dan menutup-nutupi.
Inilah yang menjadi gambaran bagi seorang Yohanes Pembaptis, yang tidak berusaha menonjolkan egonya. Dia sadar posisi dan peran, maka dia mengatakan sesuatu apa adanya, bukan berdasarkan kepentingannya. Dia sadar bahwa dia sekedar pembuka jalan bagi Mesias, maka dia tidak berusaha untuk lebih menonjol dariNya. Orang jaman sekarang, karena ego yang besar, suka menonjolkan diri dan yang parah, mereka melakukan itu semua demi bisa dihormati dan dihargai orang lain, atau supaya orang menaruh respek padanya. Padahal itu tidak perlu sejauh, ketulusan hati untuk menampilkan diri apa adanya demi kebaikan, adalah yang dilakukan oleh setiap orang. Semoga hidup kita adalah hidup yang dikendalikan oleh kerendahan hati, bukan hidup yang dikendalikan oleh ego dan kepentingan pribadi.
Selamat pagi, selamat mewartakan kerendahan hati. BDG.
[jakal7/III/15]
Translate »