Browsed by
Month: March 2019

JEMBATAN BERKAT

JEMBATAN BERKAT

Sabtu, 2 Maret 2019

Bac. I : Sir. 17: 1-15

Bac. Injil : Mrk. 10: 13-16

JEMBATAN BERKAT

oleh Dn Reza P.

Apa yang anda lakukan bila ada seseorang yang dengan niat baiknya hendak mengenal anda? Tentu, anda akan menyambutnya, bukan? Bacaan Injil hari ini juga memperlihatkan perbedaan sikap antara para murid dan Tuhan Yesus dalam menyambut orang yang datang kepada Yesus. Ketika ada anak-anak datang kepada Yesus, para murid marah. Mereka tidak menyambut dengan baik kedatangan anak-anak itu, “murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu” (Mrk. 10:13). Namun, sikap Yesus berbeda dengan para murid. Yesus justru menyuruh para murid untuk menerima anak-anak itu, kata-Nya kepada mereka, “”Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka …” (Mrk. 10:14). Bahkan Yesus juga memberkati mereka, “Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk. 10:16).

Mari kita belajar dari perbedaan sikap para murid dan Yesus tersebut. Kita dipanggil untuk seperti Yesus yakni menyambut setiap orang yang datang kepada-Nya. janganlah kita bertindak seperti para murid yang penghalang bagi orang lain/saudara kita yang hendak mengenal Yesus. Mungkin, para murid malas untuk repot ketika harus berhadapan dengan anak kecil. Kita jangan sampai merasa seperti itu. Mungkin suatu saat ada teman/saudara kita yang sungguh-sungguh ingin dekat dengan Yesus melalui bimbingan dari kita. Pada saat seperti itu, terimalah dia dengan kasih dan berkatilah dia dengan kesaksian yang penuh kasih dan damai. Jangan sampai kita menolak mereka karena merasa malas dan tidak mau repot untuk menanggapi mereka.

Kita dipanggil untuk mau menjadi jembatan berkat, bukannya menjadi penghambat bagi orang yang hendak dekat dengan Sang Rahmat. Tuhan memberkati.

SAHABAT : SETIA DALAM SUKA DAN DUKA

SAHABAT : SETIA DALAM SUKA DAN DUKA

Jumat, 1 Maret 2019

Bac. I : Sir. 6: 5-17

Bac. Injil : Mrk. 10: 1-12

SAHABAT : SETIA DALAM SUKA DAN DUKA

 

oleh Dn. Reza P

Siapakah diantara kita yang tidak memiliki sahabat? Rasa-rasanya tidak ada, ya. Saya percaya bahwa setiap dari kita pasti memiliki sahabat. Selama kita bersahabat dengan seseorang, pernahkah kita tidak setia kepadanya? Pernahkah kita berpaling darinya disaat sahabat kita sedang menderita?

Bacaan pertama pada hari ini mengajak kita merenungkan apa artinya sahabat. Kitab Putra Sirakh menjelaskan bahwa sahabat adalah orang yang tetap ada di kala kita susah, di saat kemalangan menimpa kita, dan sewaktu kegagalan hadir di dalam hidup kita (bdk. Sir. 6:8-12). Sahabat adalah orang yang setia berada di sisi kita dalam suka dan duka hidup kita. Ia siap untuk bersukacita dalam kebahagiaan kita, pun juga, ia siap meneguhkan kita, disaat kita berada dalam lembah duka hidup kita.

Allah memberi kita sahabat agar kita juga bisa menjadi sahabat bagi yang lain. Dalam persahabatan itu, kita belajar untuk menjadi pribadi peka terhadap kebutuhan sesama dan berani memberikan nasehat yang membangun bagi sesama kita. Melalui persahabatan, Allah juga mengajak kita untuk berani belajar menerima sesama secara utuh, baik dan buruknya; suka dan dukanya. Kita belajar menjadi pribadi yang setia bagi sesama kita.

Dalam bacaan Injil, kesetiaan itu pula yang hendak diajarkan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu tak terceraikan, sabda-Nya “karena itu, apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia” (Mrk. 10:9). Relasi suami-istri menjadi wujud relasi persahabatan yang sejati antara laki-laki dan perempuan. Lewat sabda-Nya itu, Yesus menegaskan bahwa Allah menghendaki adanya persahabatan yang sejati dan utuh (sampai maut memisahkan) di dalam perkawinan. Persahabatan yang sejati dan utuh itu hanya dapat dijaga dan dipertahankan dengan kesetiaan. Maka, marilah kita belajar menjadi sahabat yang sejati bagi sesama kita. Sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka sesama kita. Semoga nantinya, kita pun bisa dipercaya oleh Tuhan menjadi sahabat yang sejati bagi pasangan hidup kita.

Sahabat itu seharusnya jadi obat yang menyembuhkan, bukan racun yang mematikan. Tuhan memberkati.

Translate »