SAHABAT : SETIA DALAM SUKA DAN DUKA
Jumat, 1 Maret 2019
Bac. I : Sir. 6: 5-17
Bac. Injil : Mrk. 10: 1-12
SAHABAT : SETIA DALAM SUKA DAN DUKA
oleh Dn. Reza P
Siapakah diantara kita yang tidak memiliki sahabat? Rasa-rasanya tidak ada, ya. Saya percaya bahwa setiap dari kita pasti memiliki sahabat. Selama kita bersahabat dengan seseorang, pernahkah kita tidak setia kepadanya? Pernahkah kita berpaling darinya disaat sahabat kita sedang menderita?
Bacaan pertama pada hari ini mengajak kita merenungkan apa artinya sahabat. Kitab Putra Sirakh menjelaskan bahwa sahabat adalah orang yang tetap ada di kala kita susah, di saat kemalangan menimpa kita, dan sewaktu kegagalan hadir di dalam hidup kita (bdk. Sir. 6:8-12). Sahabat adalah orang yang setia berada di sisi kita dalam suka dan duka hidup kita. Ia siap untuk bersukacita dalam kebahagiaan kita, pun juga, ia siap meneguhkan kita, disaat kita berada dalam lembah duka hidup kita.
Allah memberi kita sahabat agar kita juga bisa menjadi sahabat bagi yang lain. Dalam persahabatan itu, kita belajar untuk menjadi pribadi peka terhadap kebutuhan sesama dan berani memberikan nasehat yang membangun bagi sesama kita. Melalui persahabatan, Allah juga mengajak kita untuk berani belajar menerima sesama secara utuh, baik dan buruknya; suka dan dukanya. Kita belajar menjadi pribadi yang setia bagi sesama kita.
Dalam bacaan Injil, kesetiaan itu pula yang hendak diajarkan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu tak terceraikan, sabda-Nya “karena itu, apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia” (Mrk. 10:9). Relasi suami-istri menjadi wujud relasi persahabatan yang sejati antara laki-laki dan perempuan. Lewat sabda-Nya itu, Yesus menegaskan bahwa Allah menghendaki adanya persahabatan yang sejati dan utuh (sampai maut memisahkan) di dalam perkawinan. Persahabatan yang sejati dan utuh itu hanya dapat dijaga dan dipertahankan dengan kesetiaan. Maka, marilah kita belajar menjadi sahabat yang sejati bagi sesama kita. Sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka sesama kita. Semoga nantinya, kita pun bisa dipercaya oleh Tuhan menjadi sahabat yang sejati bagi pasangan hidup kita.
Sahabat itu seharusnya jadi obat yang menyembuhkan, bukan racun yang mematikan. Tuhan memberkati.