Browsed by
Month: June 2019

MEWARTAKAN KEBENARAN BUKAN KABAR KABUR

MEWARTAKAN KEBENARAN BUKAN KABAR KABUR

Rabu, 12 Juni 2019

2Kor. 3: 4-11; Mzm. 99:5,6,7,8,9; Mat. 5:17-19

Untuk memuluskan jalan menuju kursi kepemimpinan dalam pemilihan umum, kadang seorang calon akan menyerang calon lain dengan pemberitaan atau isu yang tidak benar atau dikenal dengan sebutan berita-berita hoax. Isu-isu ini bertujuan supaya orang melihat sisi yang salah atau sisi yang tidak benar dari calon tertentu. Cara ini tentu bertujuan untuk memfitnah dan menjatuhkan sehingga dengan semakin pemberitaan meluas, dan orang menangkapnya sebagai kebenaran, maka tujuan pemberitaan yang tidak benar ini akan menemui keberhasilan. Memang, benar adanya bahwa ketika orang berbicara secara keliru tentang diri kita, kita akan cenderung marah dan jengkel, karena itu tidak sungguh menggambarkan diri kita. 
Yesus hari ini menginginkan supaya pemberitaan tentang diriNya juga tidak berujung pada pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar. Maka satu iota atau satu titik pun tidak akan dilenyapkan, karena satu titik ini berpengaruh besar pada arti dan makna dari sebuah pemberitaan tentang keselamatan. Perlu diketahui bahwa titik atau goresan kecil dalam abjad Ibrani berpengaruh pada arti dan makna dari sebuah abjad atau huruf. Dan Yesus hendak menggambarkan pemberitaan kebenaran itu dengan arti dan makna iota pada abjad Ibrani. Maka, Tuhan tidak menginginkan supaya pemberitaan tentang diriNya adalah keliru. Maka, semoga kita pun mengusahakan hal yan sama, yaitu memberitakan sesuatu yang benar tentang keselamatan, dan bukannya membuat kabar tentang keselamatan itu hanya kabar kabur semata. 
Selamat pagi. Selamat mewartakan kebenaran.

IMAN YANG DIPERKAYA DENGAN PERUTUSAN BARU

IMAN YANG DIPERKAYA DENGAN PERUTUSAN BARU

Selasa, 11 Juni 2019

PW St. Barnabas

Kis. 11:21b-26; 13:1-3; Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13

Di hari-hari seperti ini, hal yang paling tidak enak adalah ketika harus melakukan yang namanya ‘pindahan’, berganti tempat tinggal karena tugas. Yang namanya pindahan itu tidak enak karena dua hal. Satu, karena harus berkemas, menata barang kembali, dan dibawa ke tempat yang baru. Dan kalau itu dilakukan hampir setiap tahun, pasti repot, karena baru saja barang ditata rapi, eh harus dimasukkan kardus lagi. Hal yang kedua, yang barangkali sulit adalah soal hati. Biasanya, orang yang sudah krasan, nyaman dengan tempat tugasnya, sudah kenal banyak orang eh tiba-tiba harus pindah lagi. Kadang, keengganan yang dirasakan adalah bahwa di tempat yang baru, belum tentu mendapatkan suasana yang sama seperti yang dirasakan sebelunya. Dan ini, yang saya rasakan, kadang harus pergi dan pindah, di saat segala sesuatunya terasa indah dan penuh sukacita.
Nah, barangkali inilah yang hendak diantisipasi oleh Yesus ketika mengutus para muridNya, yaitu agar tidak membawa bekal di perjalanan, pakaian, kasut, tongkat, emas, perak dan tembaga, karena seorang pekerja patut mendapat upahnya. Bahwa sebuah perutusan menjadi berat, karena kita masih memiliki ‘kelekatan-kelekatan’ berupa materi, relasi dan kenyamanan-kenyaman lain. Yesus hendak menegaskan soal penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi, termasuk ketika memasuki situasi dan suasana yang sama sekali baru, berhadapan dengan masa-masa sulit atau beradaptasi dengan tugas-tugas baru. Kita percaya dan yakin, bahwa dalam setiap perubahan hidup, selalu memunculkan pengalaman dan kemungkinan-kemungkinan baru yang semakin memperkaya hidup. Dan dalam setiap perutusan baru yang diberikan bagi hidup kita, hidup beriman kita pun juga semakin diperkaya dalam penyelenggaraanNya. 
Selamat pagi, selamat meneruskan karya Yesus dalam setiap perutusan kita. 

BUNDA MARIA, BUNDA GEREJA

BUNDA MARIA, BUNDA GEREJA

Senin, 10 Juni 2019

PW. Santa Perawan Maria Bunda Gereja

Kej 3:9-15,20; atau Kis 1:12-14; Mzm 87:1-2,3,5,6-7 (Refren 3); Yoh. 19:25-34

Sebelum Yesus wafat, Dia meminta Yohanes untuk menjaga Ibu-Nya, memastikan bahwa semua dalam keadaan baik. Yesus barangkali tahu dan sadar bahwa hidupNya di dunia tidak lama, maka Dia tidak mungkin bisa merawat IbuNya di masa tua seperti manusia lainnya. Oleh karena itu, Dia melakukan yang bisa dilakukan yaitu, meminta Yohanes, murid yang dikasihiNya untuk menjaga dan merawat Maria, ibu yang sangat dikasihiNya. Jika Yesus saja memiliki rasa sayang yang luar biasa terhadap Ibu-Nya, bukankah kita juga seharusnya memiliki sikap yang seperti itu juga? Yesus memikirkan Ibu-Nya hingga di saat-saat terakhirNya di kayu salib, dan masih ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk Ibu-Nya. Ada banyak momen yang terlewatkan dalam hidup kita ketika berjauhan dengan sosok Ibu, padahal Ibu lah yang dari lahir sampai besar, terus menjagai kita. Ungkapan kasih sayang kepada Ibu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara: menyapa, mencari kabar, dan memastikan bahwa Ibu dalam keadaan sehat. 
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja ditambahkan oleh Paus Fransiskus dalam kalender liturgi di hari Senin setelah hari Minggu Pentakosta, untuk mendorong pertumbuhan rasa keibuan Gereja dalam diri para pastor, kaum religius, dan umat beriman serta pertumbuhan rasa hormat yang sejati kepada Maria. Bunda Maria menjadi Ibu Gereja saat dia menerima pernyataan kasih dari PutraNya dan menyambut semua orang dalam pribadi murid tercinta sebagai putra dan putri yang akan dilahirkan kembali untuk hidup kekal, yaitu saat Bunda Maria berada di kaki salib. Maka, dengan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja ini, mari kita juga mempersatukan diri dalam usaha untuk menghormati Bunda Maria sebagai Bunda Gereja, sekaligus menjaga rasa hormat kita kepada Ibu, yang sedari dulu mendukung, menyapa, mendoakan, dan merindukan kita, dalam segala situasi. Semoga dimanapun Ibu kita berada saat ini, akan selalu bahagia dan dalam keadaan baik, seperti Yesus yang memastikan keadaan Bunda Maria selalu baik.
Selamat pagi, selamat mencintai Ibu kita, dimanapun mereka berada saat ini.

PANGGILAN YANG PERSONAL

PANGGILAN YANG PERSONAL

Sabtu, 8 Juni 2019

1. Bacaan I : Kis 28:16-20.30-31

2. Injil : Yohanes 21:20-25

“Ikutlah Aku” merupakan kata-kata Yesus yang secara personal dikatakan kepada Petrus pada hari ini. Dalam kata-kata itu ada panggilan dan ajakan dari Yesus bahwa Petrus harus mengikutiNya. Panggilan dan ajakan Yesus yang bersifat personal ini menyentuh setiap orang secara khas dan membuat panggilannya menjadi berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Masing-masing dari kita juga dipanggil untuk mengikuti Yesus, ada yang terpanggil untuk menjadi Imam, Biarawan-Biarawati, dan juga dipanggil untuk berkeluarga dan membangun Gereja mini dalam hidup keluarganya. Panggilan yang personal itu pastinya juga berdasar pada pengenalan Yesus yang juga personal terhadap pribadi yang dipanggilNya. Yesus tahu siapa yang dipanggilNya, dan yang dipanggil juga diajak untuk secara terus menerus mengenal Yesus yang telah memanggil. Dari sinilah panggilan yang personal juga harus dijalani dengan segala kekhasan pribadi setiap orang, namun dengan terus menyandarkan diri pada apa yang menjadi kehendakNya. Panggilan yang personal, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya mengajak kita semua untuk saling melengkapi dalam hidup ini karena dalam panggilan yeng personal dan beraneka ragam itu ada panggilan yang utama yang harus diwujudkan, yaitu ikut mewartakan kerajaan Allah dalam nilai cinta kasih sehingga bisa dirasakan oleh semua orang.

TANGGUNG JAWAB CINTA

TANGGUNG JAWAB CINTA

Jumat, 7 Juni 2019

1. Bacaan I : Kis 25:13-21

2. Injil : Yohanes 21:15-19

Dalam relasi bersama orang lain, kerap kali kita akan sampai pada banyak model relasi yang terjalin. Ada relasi yang hanya kenal saja, ada relasi yang sampai bisa ngobrol tentang permasalahan pribadi, hingga ada relasi cinta yang terjalin secara hangat antara dua orang atau lebih. Namun dalam relasi itu kerap kali kita juga akan menemukan adanya pribadi yang mengatakan cinta namun hanya berhenti dalam ungkapan di mulut saja dan tidak sampai pada perwujudan cinta yang senyatanya. Hari ini Yesus menanyai Petrus tentang bagaimana Petrus mencintaiNya sebanyak tiga kali. Mungkin alasan Yesus menanyakan sebanyak tiga kali adalah karena keinginanNya untuk memastikan apa yang ada di dalam hati Petrus, atau bisa jadi Yesus menyakan sebanyak itu karena Petrus punya pengalmana menyangkal Yesus juga sebanyak tiga kali. Ada banyak kemungkinan yang mungkin muncul berkaitan dengan jumlah Yesus menanyai Petrus. Namun jika kita melihat lebih dalam tentang makna pertanyaan Yesus mungkin Yesus ingin menyakinkan diriNya sekaligus ingin meyakinkan Petrus sendiri akan rasa cintanya pada Yesus. Hal ini Yesus lakukan karena setelah kembangkitanNya, Ia akan kembali pada Sang Bapa dan dengan demikian diperlukan adanya “penerus” karya pewartaan di tengah dunia. Dalam pertanyaanNya, sebenarnya Yesus ingin menyakinkan Petrus bahwa tanggaungjawab setelah Yesus kembali pada Bapa akan lebih besar dan sekaligus menyakinkannya bahwa ia mampu untuk menjalankan tanggungjawab itu. Dengan demikian terlihat bahwa rasa cinta tidak boleh hanya berhenti pada ungkapan secara perkataan saja, namun juga harus disadari bahwa dalam rasa cinta itu juga terkandung tanggungjawab untuk meneruskan dan melanjutkan karya perwataan di tengah dunia. Kita pun sebenarnya memanggul tanggungjawab itu, bahwa rasa cinta kita juga harus diwujudkan dalam tindakan iman yang nyata dalam hidup beriman dan hidup harian kita.

Translate »