IMAN YANG DIPERKAYA DENGAN PERUTUSAN BARU

IMAN YANG DIPERKAYA DENGAN PERUTUSAN BARU

Selasa, 11 Juni 2019

PW St. Barnabas

Kis. 11:21b-26; 13:1-3; Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13

Di hari-hari seperti ini, hal yang paling tidak enak adalah ketika harus melakukan yang namanya ‘pindahan’, berganti tempat tinggal karena tugas. Yang namanya pindahan itu tidak enak karena dua hal. Satu, karena harus berkemas, menata barang kembali, dan dibawa ke tempat yang baru. Dan kalau itu dilakukan hampir setiap tahun, pasti repot, karena baru saja barang ditata rapi, eh harus dimasukkan kardus lagi. Hal yang kedua, yang barangkali sulit adalah soal hati. Biasanya, orang yang sudah krasan, nyaman dengan tempat tugasnya, sudah kenal banyak orang eh tiba-tiba harus pindah lagi. Kadang, keengganan yang dirasakan adalah bahwa di tempat yang baru, belum tentu mendapatkan suasana yang sama seperti yang dirasakan sebelunya. Dan ini, yang saya rasakan, kadang harus pergi dan pindah, di saat segala sesuatunya terasa indah dan penuh sukacita.
Nah, barangkali inilah yang hendak diantisipasi oleh Yesus ketika mengutus para muridNya, yaitu agar tidak membawa bekal di perjalanan, pakaian, kasut, tongkat, emas, perak dan tembaga, karena seorang pekerja patut mendapat upahnya. Bahwa sebuah perutusan menjadi berat, karena kita masih memiliki ‘kelekatan-kelekatan’ berupa materi, relasi dan kenyamanan-kenyaman lain. Yesus hendak menegaskan soal penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi, termasuk ketika memasuki situasi dan suasana yang sama sekali baru, berhadapan dengan masa-masa sulit atau beradaptasi dengan tugas-tugas baru. Kita percaya dan yakin, bahwa dalam setiap perubahan hidup, selalu memunculkan pengalaman dan kemungkinan-kemungkinan baru yang semakin memperkaya hidup. Dan dalam setiap perutusan baru yang diberikan bagi hidup kita, hidup beriman kita pun juga semakin diperkaya dalam penyelenggaraanNya. 
Selamat pagi, selamat meneruskan karya Yesus dalam setiap perutusan kita. 

Comments are closed.
Translate »