Browsed by
Month: August 2019

Greed

Greed

18th Sunday in Ordinary Time [C]

August 4, 2019

Luke 12:13-21

We were all born without bringing anything with us, and for sure, when we die, we will bring nothing with us. Job once said, “Naked I came forth from my mother’s womb, and naked shall I go back there. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). However, as we grow up and old, we begin to acquire things and possessions. Some are given, but some we earn it. As we are accumulating, we start attaching ourselves to these material belongings. Some of us are obsessed with collecting bags, shoes, and clothes, some others with more expensive things like electronic devices and cars. We believe these are ours, and we can own them until the Kingdom comes.

This kind of attachment is rooted in a bigger and more sinister vice: greed. St. Thomas Aquinas defines greed or avarice as “an inordinate desire for wealth or money.” To desire for richness and possession is not evil itself because, in essence, money and belongings are a means to achieve higher goals in life. However, the problem arises when we are confusing between means and the end. Greed enters the picture when we make money as our goal and no longer a means. We begin to measure our happiness and meaningfulness of our lives in terms of wealth. When we place wealth as our yardstick of happiness, all other problems start flooding our lives. When we do not have enough money, we become anxious, but when we have more than enough money, we are also anxious about how to hoard them. We think that the more we have, the happier we become, but the truth is, the more we acquire, the more we feel lacking. An ancient Roman proverb once said that desire for wealth is like drinking seawater; the more you drink, the thirstier you get.

What sickening about this vice is that it brings other sins along. St. Thomas mentions treachery, corruption, fraud, anxiety, insensibility to mercy, and even violence as the daughters of greed. Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with a sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

So how are we going to cure this vice? If greed makes us turn means as goal, our response should return the right order: to make wealth as our means to achieve higher goals. If we are blessed with a lot of money, we praise the Lord and use this money to praise the Lord even more. If we do not have enough money, we are called to have more faith in God’s providence.  It is the time to use our worldly possession to make “heavenly investment” that no thief can reach, nor moth destroy (Lk. 12:33)

Fr. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yohanes Pembaptis dibunuh

Yohanes Pembaptis dibunuh

Sabtu, 03 Agustus, 2019

Yohanes Pembaptis dibunuh

Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi korban korupsi dan kesombongan pemerintah Herodes. Dia terbunuh tanpa proses yang wajar. Teks ini memberi kita banyak informasi tentang waktu di mana Yesus hidup dan cara kekuasaan digunakan oleh para penguasa pada saat itu. Teks Injil pada hari ini dimulai dengan cerita tentang pendapat Herodes mengenai Yesus: “Ini adalah Yohanes Pembaptis sendiri, ia telah bangkit dari kematian, dan itulah sebabnya kuasa mukjizat bekerja di dalam Dia.” Herodes mencoba memahami Yesus berawal dari Ketakutan yang menyerangnya setelah membunuh Yohanes. Herodes sangat percaya pada takhayul dan menyembunyikan ketakutannya di balik kepura-puraan kekayaan dan kekuasaannya. Sekarang mari kita coba untuk menggali lebih dalam Injil ini. Galilea, tanah Yesus, diperintah oleh Herodes Antipas, putra Raja Herodes Agung, dari tahun 4 SM hingga tahun 38 Masehi. Empat puluh tiga tahun! Selama masa hidup Yesus, tidak ada perubahan pemerintahan di Galilea! Herodes adalah penguasa mutlak segalanya; dia tidak memberikan kepercayaan kepada siapa pun; dia melakukan apa pun yang terlintas dalam benaknya: kesombongan, kurangnya etika, kekuatan absolut, tanpa kendali dari orang-orang di sekitarnya! Namun sayangnya, kekuasaan yang memerintah Palestina sejak tahun 63 SM adalah Kekaisaran Romawi. Ini berarti bahwa Herodes berada di bawah kuasa Romawi. Untuk mengamankan dirinya agar tidak diberhentikan, ia berusaha menyenangkan Roma dalam segala hal. Di atas segalanya, dia bersikeras pada administrasi yang efisien yang akan membawa kekayaan ke Kekaisaran Romawi. Karena alasan ini, ia menekan segala jenis subversi. Matius mengatakan bahwa alasan pembunuhan Yohanes adalah karena Yohanes telah mengecam Herodes, karena Herodes telah menikahi Herodias, istri saudaranya, Filipus. Flavius Joseph, seorang penulis Yahudi pada waktu itu, mengatakan bahwa alasan sebenarnya untuk pemenjaraan Yohanes Pembaptis adalah ketakutan Herodes bahwa akan ada pemberontakan rakyat. Herodes suka disebut sebagai dermawan bagi orang-orang, tetapi dalam kenyataannya ia adalah seorang tiran. Kecaman Yohanes terhadap Herodes menurunkan martabatnya dan membuatnya sangat marah. Karena kritikan yang dilontarkannya kepada Herodes, Yohanes dipenjara, karena ia membela orang-orang Galilea yang ditindas oleh Herodes. Sebenarnya pula bahwa pembunuhan Yohanes telah direncanakan oleh Herodes, dan rencana ini dilaksanakan dalam pesta perayaan ulang tahunnya, di mana di dalamnya ada perjamuan meriah, dengan tarian dan pesta pora! Markus mengatakan bahwa di dalam pesta itu terdapat para penguasa dan para pegawai tinggi kerajaan serta para tamun undangan yang terdiri dari orang-orang penting. Ini adalah lingkungan di mana pembunuhan Yohanes Pembaptis direncanakan. Yohanes, sang nabi, adalah kecaman yang hidup dari sistem yang korup itu. Inilah sebabnya dia tersingkir, sebagai akibat balas dendam pribadi Herodes yang merasa direndahkan. Semua ini mengungkapkan kelemahan moral Herodes. Begitu banyak kekuatan yang terkumpul di tangan satu orang, tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri! Dalam antusiasme pesta dan kemabukan, Herodes membuat janji dengan sumpah kepada Salome, penari muda, putri Herodias. Dia berpikir bahwa dia harus menghormati sumpah ini dan menanggapi permintaan gadis itu, dan karena itu dia memerintahkan prajurit untuk membawa kepala Yohanes di atas nampan dan memberikannya kepada penari, yang kemudian memberikan itu untuk ibunya. Bagi Herodes, kehidupan rakyatnya tidak berharga. Dia membuangnya seperti halnya membuang serpihan sampah dari rumahnya!

Kisah pemenggalan kepala Yohanes oleh Herodes adalah sebuah kenyataan tentang harga mahal yang harus dibayar seseorang yang berani menyuarakan kejujuran karena mengkritik praktek yang salah dalam kehidupan bersama. Semoga kita tidak menjadi takut karena kisah tragis yang dialami oleh Yohanes ini, sebaliknya menjadi berani untuk menyuarakan apa yang benar. Tuhan memberkati.

Yesus ditolak di Nazareth

Yesus ditolak di Nazareth

Jumat 02 Agustus, 2019

Yesus ditolak di Nazareth

Injil hari ini berkisah tentang kunjungan Yesus ke Nazareth, tempat asal-Nya. Melewati Nazaret sangat menyakitkan bagi Yesus. Apa yang dulu merupakan komunitas-Nya, sekarang tidak lagi demikian. Sesuatu telah berubah. Di mana tidak ada iman, Yesus tidak dapat melakukan mukjizat. Adalah suatu hal yang baik bagi seseorang untuk kembali ke tanah kelahirannya. Hal inilah yang terjadi dengan Yesus. Setelah lama absen, Yesus juga kembali ke tanah kelahiranNya. Seperti biasa, pada hari Sabat, dan Ia pergi ke pertemuan komunitas. Yesus bukanlah kepala kelompok itu, tetapi sama saja, Ia memiliki hak untuk berbicara. Ini adalah tanda bahwa orang dapat berpartisipasi dan mengekspresikan pendapat mereka sendiri. Orang-orang takjub. Mereka tidak memahami sikap Yesus: “Dari mana orang itu mendapatkan kebijaksanaan dan kekuatan ajaib ini?” Yesus, putra tempat itu, yang mereka kenal sejak kecil, bagaimana mungkin sekarang Dia begitu berbeda? Orang-orang Nazaret tersinggung dan tidak menerima Dia: “Ini adalah anak tukang kayu, bukankah demikian, dan bukankah kita mengenal keluarganya, dan sebagainya?” Intinya, mereka tidak bisa percaya. Yesus tahu betul bahwa “tidak seorang pun bisa menjadi nabi di negerinya sendiri.”Lewat sabdaNya ini Yesus menekankan bahwa di mana tidak ada penerimaan atau keyakinan akan diriNya, maka Yesus tak mampu melakukan apapun untuk orang-orang tersebut.

Berdasarkan pada teks Injil yang kita baca pada hari ini kita menemukan ungkapan ini “saudara-saudara Yesus” . Ungkapan ini menyebabkan banyak perpecahan antara orang Katolik dan Protestan. Berdasarkan teks ini dan lainnya, orang Protestan mengatakan bahwa Yesus memiliki banyak saudara lelaki dan perempuan dan bahwa Maria memiliki lebih banyak anak! Umat Katolik mengatakan bahwa Maria tidak punya anak lagi. Apa yang kita pikirkan tentang ini? Kedua posisi, yaitu Katolik dan Protestan, berisi argumen yang diambil dari Alkitab dan dari tradisi Gereja masing-masing. Kita harus mempertimbangkan bahwa di komunitas kita saat ini kita juga saling memanggil “saudara” dan “saudara perempuan”, namun kita tidak berasal dari orang tua yang sama. Pada saat itu, anak-anak tidak bergerak jauh dari orang tua mereka seperti yang mungkin mereka lakukan saat ini, begitu banyak hubungan keluarga besar ada dalam komunitas yang sama. Karena alasan ini, tidak ada gunanya membahas pertanyaan ini dengan argumen yang hanya bersifat intelektual, karena itu adalah pertanyaan tentang keyakinan mendalam, yang ada hubungannya dengan iman dan dengan sentimen masing-masing. Argumen yang hanya bersifat intelektual tidak dapat mengubah keyakinan hati! Itu hanya mengganggu dan mengecualikan! Bahkan jika kita tidak setuju dengan pendapat orang lain, kita harus menghormatinya. Di tempat kedua, alih-alih berbicara tentang teks, kita semua, Katolik dan Protestan, harus bersatu untuk memperjuangkan dan mempertahankan hidup yang telah diberikan oleh Tuhan. Kita tahu bahwa ada banyak kehidupan saudara-saudari kita yang cacat karena kemiskinan, ketidakadilan, kurangnya iman dan lain sebagainya. Kita harus mengingat beberapa perkataan Yesus lainnya: “Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan kehidupan yang utuh”; “Supaya semuanya menjadi satu, supaya dunia percaya, bahwa Engkau, Bapa, telah mengutus Aku”; “Jangan mencegah mereka! Siapa pun yang tidak melawan kita adalah untuk kita ”. Semoga kita sekalian mampu belajar banyak dari pengajaran yang kita terima dari Tuhan Yesus Kristus pada hari ini. Amin.

Translate »