Browsed by
Month: January 2020

Ia pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana

Ia pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana

Rabu, 15 Januari 2020 

Bacaan I: 1 Sam 3:1-10.19-20 

Injil: Markus 1:29-39 

Setelah seharian Yesus bekerja begitu keras melakukan penyembuhan pada banyak orang yang sakit dan mengusir banyak roh jahat, Yesus mengundurkan diriNya ke tempat yang sunyi dan berdoa. Yesus melakukannya bukan dengan alasan ingin meninggalkan tanggungjawab dan tidak ingin melanjutkan karyaNya di tengah banyak orang. Dengan mengundurkan diri ke tempat yang sunyi bisa jadi Yesus tidak ingin terus menerus berada dalam puncak populairas, Yesus tidak ingin dirinya selalu ada dalam situasi dielu-elukan oleh orang banyak. Sikap ini menunjukan sisi rendah hati seorang pribadi Allah yang berani mengatakan cukup dan tidak terus menerus larut dalam semua popularotas yang ada. Pilihan Yesus yang mau mengundurkan diri dan beralih dalam kesunyian mungkin kerap kali berbeda dengan sikap manusiawi kita. Di saat kita berada dalam situasi nyaman, kerap kali kita ingin ada terus di sana, apalagi itu adalah situasi dimana ada banyak orang yang membutuhkan dan memuji kita. Dalam menjalankan pekerjaan, kerap kali kita juga larut di dalamnya tanpa ada jeda untuk menghela nafas. Seluruh diri dan waktu seolah hanya untuk pekerjaan yang membuat kita lupa dengan Tuhan dan bahkan bisa jadi lupa dengan tubuh kita yang juga butuh relaksasi setelah sekian lama digunakan untuk bekerja. Hari ini kita diajak untuk mau rehat sejenang dari padatnya tugas dan semua ketegangan, selain tubuh kita butuh istirahat dan relaksasi, jiwa kita juga butuh saat untuk hening dan berjumpa dengan Tuhan Sang pemberi kekuatan.  

Roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepadaNya

Roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepadaNya

Selasa, 14 Januari 2020

Bacaan I : 1 Sam 1:9-20

Injil : Mrk 1:21b-28

Kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia menjadi kabar suka cita bagi banyak orang; ada banyak orang yang mengalami kesembuhan karena kemurahan dan kebaikan Tuhan, ada yang kembali punya harapan di saat sebelumnya seolah tak ada harapan yang ia miliki. Namun sukacita sepertinya bukan milik roh jahat dalam menyikapi kehadiran Yesus di dinia, kehadiran Yesus membuat Roh Jahat menjadi gelisah dan bagaimana pun kuasa Yesus nyatanya lebih besar dari mereka. Yesus membuat roh jahat takut dan bertekuk lutut padaNya. di sinilah Kuasa Allah menjadi begitu nyata jika dibandingkan dengan kuasa manapun; maka kita sebagai manusia juga diajak utuk mau menyerahkan segala diri kita pada kuasa itu. Kita diajak untuk mau percaya dan yakin dengan penyelenggaraan Allah dalam diri Yesus Kristus yang dengan kuasaNya yang dahsyat bisa mengalahkan kuasa jahat manapun. Maka jika masih ada di antara kita yang percaya pada kuasa jahat yang ada segeralah tinggalkan kuasa itu, dan jika masih ada di antara kita yang bergelut dengan ketakutan; maka yakinlah karena ada Yesus yang akan selalu menjaga dan memberi perlindungan dengan kuasaNya.

Selasa, 14 Januari 2020

Selasa, 14 Januari 2020

Markus 1: 21b-28

Dari Rm Djoko Prakosa Pr Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta

Hari Biasa Pekan I

1. Tidak cukup hanya sekedar takjub. Sudah merupakan kebiasaan Yesus, seperti orang Yahudi lainnya, untuk beribadat di sinagoge atau rumah ibadat. Di rumah ibadat ada suatu tradisi yang dikembangkan, yaitu siapa saja yang hadir dalam ibadah saat itu, boleh berkhotbah. Kesempatan ini dimanfaatkan Yesus untuk mengajar. Mengenai apa yang diajarkan-Nya, tidak dicatat oleh Markus. Markus mencatat dua pengaruh yang dirasakan langsung dari khotbah Yesus. Pertama, orang banyak takjub mendengar khotbah-Nya: “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Takjub karena khotbah Yesus berbeda dengan khotbah para pemimpin agama Yahudi yang selama ini mereka dengar. Meski fakta ini nyata, namun tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa orang banyak yang takjub itu menjadi percaya pada Yesus. Mereka hanya sekadar takjub, tidak lebih.

Kedua, roh jahat yang biasanya dengan tenang turut beribadah di sinagoga, menjadi terganggu dan terancam: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Menarik untuk diperhatikan bahwa roh jahat juga beribadah dengan tenang di rumah ibadat. Namun, kehadiran Yesus menguak kehadiran roh jahat tersebut. Roh jahat tidak dapat bertahan di depan mata Yesus karena tidak tahan melihat kesucian Yesus. Ketika orang banyak melihat bahwa roh-roh jahat taat kepada Yesus, mereka semua menjadi takjub. Takjub saja tidak cukup, imanlah yang penting. Semua orang yang hadir dalam rumah ibadat saat itu tentu takjub, tetapi tidak semua orang menjadi percaya.

Tragis sekali saat memperhatikan orang-orang dalam rumah ibadat itu. Firman telah mereka dengar, mukjizat telah mereka saksikan, tetapi semua itu tidak mengubah hati mereka untuk berbalik pada Yesus. Pertanyaan permenungan bagi kita: Apakah kita benar-benar mengenali Yesus sebagai Kristus? Apakah kita mengenal Yesus secara pribadi? Apakah kita memiliki hubungan dengan-Nya atau apakah Dia hanyalah sosok dalam Injil? Yesus sedang bekerja dalam kehidupan kita, meskipun kemungkinan besar tidak dalam cara yang dramatis seperti yang digambarkan dalam perikop ini. Yesus menyembuhkan kita bahkan jika kita tidak melihatnya. Yesus memberkahi kita dengan semua yang kita butuhkan. Hari ini semoga kita mencari Yesus ketika kita menjalani hari kita. Yesus ada bersama kita.

2. Kuasa Yesus atas roh jahat. Menarik untuk memperhatikan secara khusus tentang kejadian di rumah ibadat: “Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat.” Markus dengan sangat jelas memperlihatkan sosok Yesus yang mampu mengalahkan roh jahat. Dengan otoritas-Nya Yesus mengusir roh jahat yang merasuki orang itu. Yang mengejutkan adalah bahwa roh jahat itu tahu jati diri Yesus: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Ini berarti bahwa Yesus diangap sebagai musuh nomor satu dari roh jahat karena hanya Dia yang dapat mengalahkan mereka secara permanen: “Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” 

Yesus masih sama hari ini dan kemarin dan nanti di masa mendatang. Roh jahat masih bergetar di hadapan-Nya. Dia adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menangkal dan membebaskan cengkraman kuat roh jahat. Karena itu, marilah kita mendengar suara-Nya dan tidak mengeraskan hati kita untuk-Nya. Sebaliknya, marilah kita membuka hati kita kepada-Nya.  Apakah kita sudah berusaha mendengarkan suara Yesus atau akankah kita membuka hati kita kepada-Nya?

 

“Iman itu seperti sinar matahari yang terang. Iman memungkinkan kita untuk melihat Allah dalam segala hal dan juga segala sesuatu di dalam Allah. ”

St. Francis de Sales

Why Jesus needed to be baptized

Why Jesus needed to be baptized

Baptism of The Lord [A] – January 12, 2020 – Mat 3:13-17

One question that always baffles attentive readers of the Scriptures is that why should Jesus be baptized by John the Baptist? John himself proclaimed that his baptism is a sign of repentance. Those who are baptized by John must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, and baptism of water becomes the visible token of turning away from sins and promise of a new and better life. Yet, we all know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. Does it mean Jesus is sinful? Is John the Baptist greater than Jesus?

The Gospel of Matthew has pointed out clearly that John the Baptist is not worthy to baptize Jesus and he is in need of Jesus’ baptism. It is Jesus Himself who insists to be baptized by John. Why? Jesus told John, “to fulfill all righteousness.” These words of Jesus certainly difficult to understand, and many theologians have come up with different interpretations to understand better Jesus’ actions and words in this baptism.

 St. Augustine of Hippo, one of the greatest Fathers of the Church, told us in his sermon, “The Savior willed to be baptized not that He might Himself be cleansed, but to cleanse the water for us.” St. Augustine pointed to us that Jesus entering the water as to prepare the sacrament of baptism, and so everyone who is baptized in the name of Trinity will receive the grace of forgiveness and new life. Meanwhile Catechism of the Catholic Church notes that Jesus’ submission to John’s baptism is an act of self-emptying [CCC 1224].

However, Pope Emeritus Benedict XVI has exposed some interesting in his book, Jesus of Nazareth, that Jesus applied the word “baptism” also to His Passion, Death, and Resurrection [see Mrk 10:38; Luk 12:50]. From here, we discover that Jesus’ insistence to be baptized by John because Jesus’ baptism turns to be a symbolic act of His Cross. As Jesus needs to be baptized, so He shall pass through suffering and death as to reach resurrection and bring salvation for all. From the moment of the baptism in the Jordan, Jesus has set His foot to Calvary.

In the Scriptures, righteousness is being faithful to the Convent, and God as the most righteous fulfills His covenant by saving His people (Deut 32:4; Is 5:16; 42:6). Now, Jesus fulfills that same “righteousness” with a perfect and definitive way by His Cross and Resurrection.

So, what all these biblical and theological stuff are for us?  As we know deeper the meaning of the Baptism of the Lord, we shall also follow the footsteps of Jesus. If baptism means His way of the Cross, then all of us who have been baptized, whether as infants or adults, shall share in Jesus’ cross. We are lucky that we are living comfortably as Christians, but more many, to be Christians means discriminations, persecution, and even death. It may be shocking, but Christians remain the most persecuted people on the earth. For us who are more fortunate, we can manifest our baptism with living authentically as disciples of Christ: to be honest despite the possibility of losing earthly gains, to be loving despite many sufferings, and to be honest despite living without fame.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabtu, 11 Januari 2020

Sabtu, 11 Januari 2020

Yohanes 3: 22-30


Dari Rm Djoko Prakosa Pr Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta

Hari Biasa Sesudah Penampakan.

1. Yesus harus dimuliakan. Perdebatan antara seorang Yahudi dan murid-murid Yohanes memperlihatkan adanya kebingungan tentang pembaptisan yang dilakukan oleh Yesus dan Yohanes. Apalagi pengaruh Yesus terlihat semakin kuat dengan semakin banyaknya orang yang mengikut Dia: “Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Situasi ini mencemaskan para murid Yohanes. Memang melihat perkembangan dan popularitas pelayanan orang lain mudah menimbulkan rasa iri. Tetapi tidak ada rasa cemas sedikit pun di dalam diri Yohanes mendengar cerita murid-muridnya. Ia sadar benar bahwa ia dipanggil untuk menjadi utusan yang bertugas mempersiapkan jalan bagi Mesias. Maka ia menjelaskan bahwa posisinya memang lebih rendah dibandingkan Yesus. Mesias adalah mempelai laki-laki,  sementara Yohanes hanyalah sahabat mempelai laki-laki itu: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” Jelas bahwa kedudukan mempelai pria lebih penting dibandingkan sahabat-Nya: Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” Itulah gambaran seorang hamba Tuhan sejati yang mengerti dengan jelas panggilan pelayanannya. Keinginan Yohanes untuk memuliakan Yesus dan membuat Yesus dikenal orang banyak menunjukkan kerendahan hatinya. Sehingga yang muncul adalah kesadaran untuk mempersembahkan kemuliaan dan kebesaran hanya kepada Tuhan yang dia layani, bukan mengambilnya untuk diri sendiri.

Para pemimpin dan pewarta serta orang-orang yang aktif dalam pelayanan bisa jatuh ke dalam pencobaan untuk lebih fokus pada keberhasilan pelayanan mereka daripada mengumandangkan nama Kristus. Kita perlu mendoakan mereka agar mereka tidak mengejar kesuksesan pelayanan, melainkan mengutamakan pemberitaan Kerajaan Surga. Kita diajak untuk menyadari bahwa misi kita yang sesungguhnya adalah mendorong orang untuk mengikut Kristus, dan bukan menjadi pengikut kita!

2. Ia harus makin besar. Dalam narasi sebelumnya, Yohanes dengan konsisten menggambarkan dirinya sebagai saksi. Kesaksian Yohanes dan Tuhan Yesus sendiri menyebabkan Yesus semakin dikenal banyak orang. Popularitas Yesus, menurut Yohanes, adalah pekerjaan Allah: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” Sama sekali tidak ada nada cemburu atau iri hati dalam perkataannya. Bahkan, Yohanes memberikan pesan kepada murid- muridnya untuk mengikuti Yesus. Mengapa? Karena dalam hal popularitas dan jumlah pengikut, Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Kita bukan sedang membangun kerajaan yang berpusat pada diri sendiri. Jika kita ingin lebih populer dibandingkan Tuhan Yesus yang diberitakan, maka kita perlu segera bertobat. Pada penghujung masa Natal ini, marilah kita mencoba jujur di hadapan Allah dan diri kita sendiri. Segala pekerjaan dan pelayanan kita mungkin sekali dilatarbelakangi motivasi untuk memegahkan diri. Mari kita meminta pada Tuhan agar Ia memurnikan kita dan memakai kita semata-mata untuk kemuliaan nama-Nya!

Translate »