Browsed by
Month: September 2020

Tuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?

Tuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?

Sabtu , 26 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Bacaan I Pkh 11:9-12:8; Injil Luk 9:43b-45
PF S. Kosmas dan S. Damianus, Martir
Tuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?
Pandemic covid 19 membuka mata kita semua bahwa hidup kita secara material
tampaknya tidak bisa dibanggakan. Segala kehebatan akal budi yang tampak lewat
kemajuan teknologi untuk sementara belum bisa mengatasi virus yang telah mematikan
ribuan jiwa manusia. Semakin hebat penemuan manusia dengan teknologi yang canggih
rupanya tidak membuat manusia serta-merta hidup dalam kebahagiaan. Banyak orang
yang mengandalkan kehebatan manusiawinya ternyata harus menyadari bahwa
kehebatanya tidak mampu menjinakan virus ini. Lalu pertanyaan yang muncul dalam
benak kita, kepada siapa kita harus bersandar? Bagi kita yang mengimani Tuhan, kita
bisa menjawab hanya Tuhan yang memampukan kita untuk menenmukan cara yang baik
dalam mengatasi virus ini; bagi mereka yang tidak percaya Tuhan mungkin mereka tetap
mengandalkan logika berpikir mereka untuk terus mencari berbagai macam cara untuk
mengatasinya tanpa mengandalkan Tuhan.
Hari ini dalam bacaan pertama kita diingatkan oleh kitab pengkhotbah untuk tetap
waspada. Jangan mengandalkan kemampuan manusiawi kita sampai melupakan Tuhan
yang telah memberikan segala sesuatu kepada kita secara gratis.
Kita yang selalu mengandalkan kemampuan dan kehebatan kita hendaklah mulai sadar
bahwa segala yang kita miliki bukan berasal dari diri kita. Segala kehebatan kita
sesungguhnya telah dianugerahkan kepada kita sejak semula, kita hanya
mengembangkan dan memaksimalkannya.
Kita bisa saja mengandalkan diri kita selama kita merasa masih kuat. Akan tetapi ingat
bahwa sekuat-kuatnya diri kita, satu saat kita harus menerima kenyataan bahwa kita
tidak bisa mengandalkan kehebatan diri kita.
Kitab pengkotbah mengajak kita untuk terus menerus menyadari akan singkatnya
hidup kita di dunia ini. Pengkotbah mengingatkan kita, janganlah berbangga dengan halhal lahiria yang menyenangkan sesaat. Hendaklah kita juga memikirkan hal-hal yang
membuat kita bahagia di akhirat. Jangan mengumpulkan materi yang menyesatkan kita
untuk tidak lagi mengakui dan mengandalkan Tuhan yang telah mempercayai hidup ini
kepada kita. Jangan selalu mengikuti keinginan hati dan pikiran kita semata seolah-olah
kita tidak mempunyai Tuhan.
Sangat membahagiakan bagi kita karena kita diingatkan untuk tidak pernah melupakan
Tuhan disaat kita kuat dan merasa bisa melakukan segala sesuatu. Hendaknya dalam
situasi apapun kita terus mengandalkan Tuhan.
Pertanyaan buat permenungan kita: apakah kita selalu mengandalkan Tuhan dalam
hidup kita? Apakah Tuhan menjadi prioritas dalam hidup kita? Apakah kita hanya datang
kepada Tuhan ketika kita dalam keadaan kepepet, sulit dan menederita? Apakah kita juga
bersyukur ketika kita mengalami kebahagiaan dan sukacita?

Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?

Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?

Jumat , 25 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Bacaan Injil Lukas 9:19-22
Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?
Seseorang dikatakan baik atau tidak seringkali tergantung dari kesaksian orang lain yang
ada disekitarnya. Orang dikatakan baik atau tidak tergantung cara hidup orang tersebut
dalam tindakan dan perkataannya. Semakin lama kita hidup bersama orang lain, semakin
kita mengenal dan memahami orang lain. Tentu pandangan kita bisa berbeda-beda satu
dengan yang lain sesuai dengan pengalaman kita bersama orang lain.
Hal yang sama juga kita dengar dalam bacaan injil hari ini. Setelah sekian lama hidup
dengan para muridNya, Yesus rupanya penasaran untuk mengetahui sejauh mana mereka
mengenal Dia. Pertanyaan pertama yang ditujukan kepada mereka sesungguhnya sangat
umum. Kata orang siapa Yesus itu? Para muridNya tentu mendengar banyak hal tentang
gurunya. Apa yang mereka dengarkan mereka dengan bangga mengatakan kepada
Yesus. Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, ada yang
mengatakan bahwa Yesus adalah Elia, ada pula yang mengatakan bahwa Yesus adalah
salah satu dari nabi-nabi dahulu yang telah bangkit. Bagi Yesus, kata orang ini adalah
expresi pengalaman mereka bagaimana mereka lihat dan alami apa yang dilakukanNya.
Rupanya apa yang mereka alami hampir pasti sama dengan apa yang dengar dan alami
sendir dari Yohanes Pembaptis, Elia dan nabi-nabi terdahulu.
Pertanyaan Yesus kepada para murid tidak hanya sampaI disitu. Yesus justru mau
mengetahui lebih jauh apa pengalaman para murid secara pribadi dengan diriNya. Yesus
tentu secara personal mau mendengarkan para muridNya, sejauh mana mereka
mengenal Dia. Tentu para murid sendiri mempunyai pengalaman secara personal dengan
Yesus. Perjumpaan pribadi dan selalu bersama dengan Yesus tentu berbeda dengan
orang-orang lain. Maka jawaban Petrus dari pertanyaan Yesus, Siapakah Aku ini menurut
kalian? Menunjukkan bahwa mereka sungguh mempunyai pengalam bereda dengan
orang lain. Jawaban Petrus, “Mesias dari Allah” menunjukkan bahwa para murid yang
diwakili Petrus sungguh mengerti betul siapa itu Yesus. Dengan jawaban tersebut, Yesus
sungguh tahu bahwa murid-muridNa sudah siap untuk mengalami pengalaman yang
baru. Yesus sungguh mau mempersiapkan mereka untuk menghadapi konsekuensi yang
bakal terjadi. Hal ini bisa kita lihat dalam kalimat berikut setelah mendengarkan jawaban
Petrus. Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan
ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan
dibangkitkan pada hari ketiga.”
Ada konsekuensi yang harus mereka siap hadapi. Bahwa mengikuti Yesus tidak hanya
mengalami hal-hal yang menyenangkan saja. Akan tetapi harus siap juga untuk masuk
dan mengalami pengalaman penderitaan dan penolakan. Lebih lanjut Yesus juga
memberikan harapan dan kekuatan bahwa setelah mengalami semua pengalaman
tersebut mereka akan mengalami pengalaman yang lebih exclusive lagi yakni
kebangkitan (pembebasan).
Bagi kita pengikut Kristus, Yesus bertanya kepada kita secara pribadi juga pertanyaan
yang sama. Menurutmu, siapakah Aku ini? Tentu masing-masing kita mempunyai
jawaban yang berbeda. Apapun jawaban kita, ada konsekuensi yang harus kita terima.
Menjadi pengikut Yesus, kita tidak hanya mengalaman pengalaman yang menyenangkan
saja. Pengalaman penderitaan dan kekecewaan selalu menjadi bagian dari hidup kita.
Pengalaman ditolak karena menjadi pengikut Kristus, dicaci maki, dibenci dsb bukan
suatu hal yang aneh. Akan tetapi pengalaman-pengalaman pahit seperti itu tidak akan
sebanding dengan apa yang Yesus janjikan kepada kita kelak. Kebangkitan/Pembebasan
kekal akan menjadi jaminan pasti dalam mengikuti Yesus.
Mari kita menyadari bahwa pengalaman perjumpaan kita dengan Yesus sungguh menjadi
kekuatan kita yang memampukan kita untuk meraih kebahagiaan yang dijanjikan Yesus
kepada kita. Apapun kesibukan kita mari kita tetap tingkatkan relasi kita dengan Yesus
sehingga kita semakin lebih dekat denganNya. Dengan demikian, kita diharakan
mempunyai perkataan dan perbuatan sama seperti yang dilakukan oleh Yesus juga. Mari
kita terus bertekun. Amin

Pilihanku: mewartakan kebenaran

Pilihanku: mewartakan kebenaran

Kamis , 24 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Bacaan Luk 9:7-9
Pilihanku: mewartakan kebenaran
Orang benar selalu melakukan sesuatu dengan jujur tanpa ada ada kecurangan dalam
hatinya karena segala perbuatannya sungguh berasal dari hati yang tenteram dan tanpa
ada kebohongan. Hati yang tenteram dan damai selalu membawa aura positif bagi orang
lain. Sebaliknya hati yang penuh kepalsuan dan selalu iri, dengki membuat orang tidak
tenang dalam hidupnya. Segala sesuatu selalu dilihat sebagai persaingan dan perlu
dihabisi. Hidup orang ini penuh dengan kecurigaan dan selalu negatif terhadap orang
lain. Singkatnya hidup orang ini penuh dengan kepalsuhan dan selalu dalam kecemasan
tanpa alasan.
Contoh sikap hidup penuh kepalsuan dapat kita temukan dalam bacaan hari ini. Herodes
adalah pribadi yang selalu merasa tidak nyaman akan keadaan dirinya. Kecemasan yang
kuat dalam hatinya menunjukan adanya ketidak-beresan dalam dirinya. Dan itu benar,
kecongkakan hatinya, menumpulkan hati nuraninya. Hati nurani yang tumpul membuat
Herodes semena-mena membungkam kebenaran yang di wartakan oleh Yohanes. (kasus
Herodes memperisterikan Herodes, isteri saudaranya) Hanya karena kesenangan pribadi,
status dan kekuasaaan, Herodes menolak kebenaran yang diungkapkan oleh Yohanes. .
Hari-kari ini kebenaran sejati sulit untuk disuarakan, aapalagi berurusan dengan
penguasa. Penyuara kebenaran menjadi mandul karena selalu diancam oleh merekamereka yang merasa terancam. Sesungguhnya kebenaran harus dikembangkan, akan
tetapi dalam kenyataan malah sebaliknya dimanipulasi demi kepentingan pribada atau
kelompok.
Menjadi pengikut Yesus, tugas kita sesungguhnya mengedepankan kebenaran, dan
keadilan. Tugas ini menuntut suatu ketekunan yang luar biasa karena kebenaran sejati
sesungguhnya menjadi momok bagi mereka yang tidak jujur dan terbuka. Banyak
Herodes-herodes ada ditengah kita yang siap untuk membungkam kita.
Sebagai pengikut Yesus kita tidak perlu takut dalam menyuarakan kebenaran. Yesus
telah menunjukan contoh yang komplit kepada kita bagaimanakita menyuarakan
kebenaran itu. Menyuarakan kebenaran itu mahal harganya, Nyawa bisa jadi taruhannya.
Kendati demikian, kita tidak perlu pesimis. Yesus Tuhan kita tetap setia membantu kita,
Mari kita terus bertekun untuk menyuarakan kebenaran dalam lingkungan dimana kita
berada,. Mulailah hal kecil dan sederhana dari rumah.
Kebenaran tetap kebenaran yang harus diwartakan. Menyuarakan kebenaran atau tidak
itu pilihan kita.

FOKUS PADA PEWARTAAN KERAJAAN ALLAH, KUASA ALLAH PASTI NYATA

FOKUS PADA PEWARTAAN KERAJAAN ALLAH, KUASA ALLAH PASTI NYATA

Rabu, 23 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Bacaan Luk Mat 9:1-6
Peringatan Wajib St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Imam
FOKUS PADA PEWARTAAN KERAJAAN ALLAH, KUASA ALLAH PASTI NYATA
Kemajuan teknologi dewasa ini membuat manusia menjadi lebih independent. Banyak hal
tidak lagi tergantung pada orang lain. Semua hal bisa diakses lewat internet. Untuk
mengetahui apapun bisa dicari lewat google. Perkembangan dunia teknologi sungguh
mempengaruhi cara orang berpikir dan bertindak. Segala sesuatu tidak butuh waktu
lama. Segala sesuatu sangan instant. Disisi lain, daya juang dan daya tahan, kesabaran
orang terkikis oleh karena kemudahan yang disediakan oleh teknologi.
Dalam hal iman, pengaruh teknologi pun sangat terasa. Contoh nyata yang sering
terjadi adalah kehidupan doa tersingkir akibat gadget. Doa 15 menit terasa tersiksa
ketimbang berjam-jam asyik dengan handphone. Doa rosario yang paling digemari
adalah peristiwa cahaya (rosario diganti dengan memainkan Jari di hanphone
berlama-lama). Misa terasa sangat lama ketimbang search apapun di layar hp atau
komputer.
Dalam bacaan injil hari ini, kalau kita letakan dalam korteks sekarang mungkin
sangat tidak relevan. Sebagai pengikut Kristus yang diutus oleh Yesus dengan
kriteria yang Yesus berikan rasanya tidak mungkin untuk kita jaman sekarang.
Larangan “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat
atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” mungkin terasa aneh. Akan tetapi
bagi Yesus hal tersebut adalah syarat mutlak dalam tugas perutusan. Yesus dengan
tegas menekankan hal ini agar tugas perutusan dilakukan dengan penuh hati.
Fokus pewartaan Karajan Allah lebih penting dari pada yang lain. Di bagian injil yang
lain Yesus mengatakan ”utamakan Kerajaan Allah maka yang lain akan dipenuhi”.
Sebagai pengikut Kristus, kita semua dipanggil dan diutus untuk mewartakaan
kerajaan Allah. Tuntutan Yesus dalam inil hari ini mungkin tidak mudah bagi kita.
Akan tetapi satu kabar sukacita yang kita dengar dari Yesus hari ini adalah Yesus
memberikan kepada kita tenaga dan kuasa dalam perutusan untuk mengusir setan
dan menyembuhkan segala penyakit. Kita harus bangga bahwa kita dipercayai oleh
Yesus untuk sebuah tugas mulia. Yesus tidak membiarkan kita berjalan sendiri.
Yesus tidak menghendaki agar kuasa yang diberikan kepada kita itu sia-sia. Agar
semuanya tidak sia-sia, Yesus Mau supaya kita lebih fokus dalan tugas perutusan
yang dipercayakan kepada kita. Apapun panggilan kita. Jangan membiarkan hal-hal
material menghalangi kita untuk melakukan tugas perutusan ini.
Mari kita gunakan segala sarana yang diberikan Tuhan termasuk teknologi untuk
mewartakan Kerajaan Allah. Bukan sebaliknya berfokus kepada sarana termasuk
teknologi yang membuat kita tidak bertumbuh dan berkembang dalam pewartaan
Kerajaan Allah. Mari kita gunakan tenaga dan kuasa yang diberian Tuhan untuk
membawa lebih banyak orang untuk mengenal dan mencintai Tuhan termasuk lewat
media sosial yang kita punyai. Berfokuslah pada pewartaan Kerajaan Allah maka
kuasa Allah akan terjadi secara nyata lewat tindakan dan perbuatan kita. Mari kita
tetap bertekun.

BERANIKAH MENJADI “IBU DAN SAUDARA-SAUDARA” YESUS?

BERANIKAH MENJADI “IBU DAN SAUDARA-SAUDARA” YESUS?

Selasa, 22 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Bacaan Luk 8:19-21
BERANIKAH MENJADI “IBU DAN SUDARA-SAUDARA” YESUS?
Dalam kehidupan kita sehari-kari kita menjumpai banyak orang baik. Orang
dikatakan baik versinya macam-macam. Baik karena sikapnya, tutur katanya bakan
seluruh kepribadiannya sangat utuh dan menyenangkan. Sebalikya kitapun menjumpai
banyak pribadi yang kesannya baik akan tetapi sesungguhnya bisa mencelakakan orang
lain. Ada kepribadian juga yang pura-pura baik tetapi ada tujuan dibalik kebaikan yang
pura-pura tersebut.
Dalam bacaan injil hari ini kalau kita cermati dengan benar, kita dapat
menemukan sebuah kepribadian yang seolah-olah baik tetapi sebetulnya ada tujuan
pribadi atau kelompok dibaliknya. Hal ini kita bisa lihat dari reaksi Yesus ketika orang
mengatakan bahwa ibu dan saudara-saudaranya ada di luar dan Yesus menjawab “IbuKu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan
melaksanakannya.”
Rupanya dari begitu banyak orang yang datang saat Yesus sedang mengajar, ada
sebagian yang tidak tidak suka akan pengajaran Yesus. Mereka hanya datang untuk
mengamati apa yang dilakukan Yesus dan berusaha mencari kesalahan pengajaran
Yesus. Mereka hair tapi mereka tidak mau mendengarkan apa yang diajarkan Yesus.
Mereka seolah-olah peduli akan Ibu dan dan saudara-saudara Yesus yang datang saat
itu, akan tetapi sesungguhnya mereka berusaha untuk mengganggu dan mengacaukan
pengajaran Yesus.
Dalam kehidupan iman kita, kita ditantang untuk merumuskan diri kita kembali
sebagai pengikut Yesus yang serius. Kita bisa saja terjebak akan hal-hal lahiriah semata,
seolah-olah menjadi pengikut Yesus yang sejati. Kata-kata Yesus hari ini tidak saja
ditujukan kepada orang-orang yang kesannya mendengarkan pengajaran Yesus, akan
tetapi juga kepada kita semua. Untuk menjadi pengikut Yesus sesungguhnya, kita harus
terbuka mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakanya. Mendengarkan Sabda Allah
berarti melibatkan seluruh keberadaan kita. Hati kita yang terbuka, pikiran yang selalu
fokus agar apa yang kita dengarkan dapat kita amalkan dan laksanakan dengan baik.
Tanpa mendengarkan dengan baik dan Penuh perhatian, akan Sabda Allah, tindakan
yang kita lakukan pun tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Sangat jelas apa yang dikatakan oleh Yesus, kalau kita sungguh-sungguh
mendengarkan dengan baik Sabda Allah dan melaksanakannya, maka kita akan masuk
dalam keluarga Allah. Masuk dalam keluarga Allah beratı kita akan menjadi penerus
kabar baik yang telah di wartakan oleh Yesus.
Mari kita terus bertekun agar kita selalu menjadi babian dari keluarga besar
Tuhan karena keseriusan kita untukterus mendengarkan Sabda Allah dan tetap fokus
untuk melaksakan Sabda Allah melalui tugas dan karya yang Tuhan telah percayakan
kepada Kita.

Translate »