Browsed by
Month: September 2020

BERBAGI BELAS KASIH TUHAN SEPERTI YANG KITA ALAMI

BERBAGI BELAS KASIH TUHAN SEPERTI YANG KITA ALAMI

Senin, 21 September 2020
Pekan Minggu Biasa XXV
Pesta St. Matius Rasul
Mat 9:9-13
BERBAGI BELAS KASIH TUHAN SEPERTI YANG KITA ALAMI
Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Matius, Rasul. Dia adalah seorang pemungkut
cukai yang dianggap sebagai pendosa oleh kaum Farisi akan tetapi Yesus justru
memanggil dia menjadi seorang Rasul.
Sangat menarik untuk dikaji mengapa Yesus menjatuhkan pilihanNYA pada Matius dan
bukan orang lain? Bukankah dia seorang pemungut cukai yang bekerja untuk pemerintah
Roma dan bukan untuk membantu orang Yahudi, orangnya sendiri? Bukankah pemungut
cukai dikategorikan oleh orang Farisi sebagai seorang pendosa?
Rupanya Yesus memilih rasulNya bukan berdasarkan kategori yang dipunyai oleh orang
Farisi. Yesus memilih rasulNya berdasarkan kategoriNya sendiri. Kategori yang Yesus
miliki selalu berdasarkan apa yang menjadi misiNya di Dunia ini. MisiNya sangat jelas
sebagaimana diungkapkan dalam periskop yang kita renungan dalam bacaan hari ini, “…
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa”.
Matius dimata orang banyak termasuk orang Farisi adalah orang berdosa dan patut untuk
disingkirkan. Akan tetapi bagi Yesus, Matius adalah Pribadi yang sadar akan
kekurangannya dan terbuka untuk memperbaiki apa yang sekiranya tidak baik. Yesus
memilih Matius bukan karena kehebatannya sebagai pemungut cukai, sebaliknya karena
keterbukaan Matius untuk menjadi lebih baik. Matius bukan seperti orang Farisi yang
merasa diri lebih suci dan tidak merasa bersalah, sehingga tidak mau memperbaiki
dirinya. Matius adalah Pribadi yang sederhana yang sangat menyadari keterbatasannya
tetapi mau memepebaikinya.
Dalam hidup kita sehari-hari, kita selalu menemukan pribadi-pribadi seperti orangorang Farisi yang selalu merasa benar dan selalu merasa menjadi penjaga kebenaran.
Karena merasa paling benar maka apapun yang dilakukan orang lain yang tidak masuk
kategori mereka akan selalu disalahkan.
Di sisi lain kita juga menemukan begitu banyak orang yang sadar akan kerapuhannya lalu
dengan rendah hati mau belajar untuk menjadi lebih baik.
Dari dua tipe manusia di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita masing-masing, pribadi
manakah yang saat ini kita miliki? Orang Farisi atau Matius?
Sebagaimana Matius kita semua dipanggil oleh Yesus menjadi pengikutNya. Kita
semua bukan orang-orang benar dihadapan Tuhan, akan tetapi karena belas KasihNya
maka kita diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah. Dalam kerapuhan dan
kekurangan kita, Yesus mengangkat kita untuk menjadi perpanjangan tangan belas
kasihNya secara nyata kepada mereka yang berada di sekitar kita. Melalui kedosaaan
dan kesalahan yang selalu kita lakukan, Yesus mau memulihkan kita untuk sebuah
perutusan yang telah disiapkan untuk kita. Mari kita selalu menyadari bahwa kita adalah
orang-orang sakit yang terus memerlukan Tabib. Tabib hebat kita ialah Yesus. Agar kita
dipulihkan dan disembuhkan, kita perlu membuka diri kita kepada Tuhan. Dia akan
melakukan semuanya untuk kita. Mari kita terus rendah hati untuk mengalami belaskasih
Allah yang tak terhingga itu dan pada saatnya kita boleh melakukan, membagikan hal
yang sama kepada sesama kita.

The Parable of Mercy

The Parable of Mercy

25th Week in Ordinary Time [A]

September 20, 2020

Matthew 20: 1-16

Among the many parables of Jesus, this parable of the owner of the vineyard is one that I find difficult to understand. Every time I read this parable, I always felt that something was wrong. Perhaps, I easily associate myself with the first-coming workers, who work from morning to sunset. They are laborers who spend their time and energy under the heat of the sun and give their efforts to meet the demands of the vineyard owner. However, they receive the same wages as those who only offer one hour of work. Of course the owner of the vineyard did not break the contract, but there still seemed to be injustice.

Maybe, this experience is like when I was studying in Manila. I was studying hard to get the best that I could achieve. Indeed, I got good grades, but what I could not accept was when my classmates who did not spent much effort, got also the same grades as I did. For me, It was not fair, but I could drop my complaint because the final grade is the prerogative of the professor.

However, things started to look different when I became a teacher myself. At one point, I needed to give my students final grades. And this is the utmost dilemma for me because I realize that on the one hand, I need to provide justice, but on the other hand, I want all my students to pass and graduate. Finally, I often chose compassion and allowed my struggling students to pass. I am fully aware that some of my students will feel that I am unfair, and that is the burden I must bear as a lecturer who chooses to be compassionate.

If we try to look closely at what vineyard owner is doing, we will find it funny and even weird. He kept looking for and hiring new persons almost every three hours. To make matters worse, he gave the same daily wages for all. In the economy and business, overspending and excess labor are a recipe for bankruptcy! However, the owner of the vineyard did not seem to care and was constantly looking for laborers. Perhaps, he knew very well that if these people were without jobs, they would starve to death, but if they worked and received less than the minimum wage, they wouldn’t be able to survive either. He couldn’t satisfy everyone, but at least he would be able to save everyone.

Learning from this parable, rather than complaining to God, we need to rejoice because our Lord is full of mercy, who even takes the initiative and seeks to seek out those of us who need salvation, and who willingly give eternal life even to those who have not lived well, but at the last moment repent.

 We should rejoice because in God’s eyes, we are all the last workers to beg mercy. Who knows, the workers who come first are actually the angels, and we really are the last unworthy laborers. With our sin, we all deserve to go to hell, but God stretches out His hand and opens the Gates of Heaven. We should rejoice that heaven is not a lonely place where few righteous people deserve it, but it is full of grateful people who enjoy God’s mercy even if they are not worthy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[Check also my Youtube Channel ‘bayu ruseno’ to see videos on Catholic faith and catechism]

Iman dan pengampunan

Iman dan pengampunan

Kamis Pekan Biasa XXIV, 17 September 2020

Bacaan: 1 Kor 15: 1-11; Luk 7: 36-50

“Iman dan pengampunan”

Sang Perempuan yang datang menjumpai Yesus tanpa kata namun melakukan perbuatan yang begitu berani, telah mengejutkan banyak orang. Ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal, menyeka dengan rambutnya dan menciumnya. Pikiran sang punya rumah, Simon, wah Yesus kok mau aja ya, padahal dia adalah pendosa. Jelas Yesus tahu siapa perempuan itu dan perempuan itu sendiri tahu siapa dirinya, oleh sebab itulah dia melakukannya kepada Yesus, karena ia pun tahu siapa Yesus. Tindakannya ini justru mau menunjukkan sikap seorang berdosa yang sadar akan kedosaan dan datang memohon belaskasih dan pengampunan. Baginya dirinya dan harta yang dimilikinya tidak ada artinya lagi, yang diperlukannya adalah pertobatan dan hidup baru. Walau tanpa kata, Yesus dapat melihat sikap rendah hati sang perempuan dan berani datang kepada Yesus sambil merendahkan dirinya. Itulah sikap seorang pendosa yang sadar dan mau bertobat.

Simon, sang tuan rumah, melihat kejadian itu dan mulai berpikir negatif tentang perempuan itu. Walaupun pikirannya itu tidak terungkap, namun Yesus bisa mengetahuinya, maka Yesus berbicara kepada Simon. Melalui pembicaraan itu, Yesus mau membuka mata Simon bahwa semua orang adalah pendosa dan memerlukan pertobatan, namun tidak semua orang menyadarinya. Ketika orang merasa dirinya benar dan mulai menghakimi orang lain serta menilai negatif sesamanya, maka ia tetaplah hidup dalam kedosaannya. Sebenarnya dengan melihat dan menilai orang lain, kita sedang melihat dan menilai diri kita sendiri, termasuk kedosaan kita dan kita membuat diri kita semakin berdosa. Maka ketika kita membiarkan diri terus dalam kedosaan dan tidak bertobat, pengampunan menjadi terhambat. Tentu Yesus memberikan pengampunan kepada siapapun yang membuka hatinya.

Iman sang Perempuan yang tampak dengan tindakannya itu mendatangkan rahmat pengampuan, yang diterimanya dari Yesus. Bagi Yesus tindakan ini sudah menunjukkan sikap hati dan pertobatannya. Maka dengan tegas Yesus mengatakan kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”. Apakah kita juga mau mengalami pengampuanan Tuhan dan keselamatan? Apakah kita siap bertindak seperti perempuan itu atau bersikap seperti Simon? Maka marilah dengan dengan rendah hati menghadap Yesus dengan sikap tobat yang mengalir dari iman kita kepadaNya.

Membuka hati bagi Tuhan

Membuka hati bagi Tuhan

Rabu Pekan Biasa XXIV, 16 September 2020  – Pw. St. Kornelius dan St. Siprianus Martir

Bacaan: 1 Kor 12: 31-13:13; Luk 7: 31-35

“Membuka hati bagi Tuhan”

Kedua orang martir yang kita rayakan pada hari ini, St. Kornelius dan St. Siprianus, adalah dua pribadi yang teguh bediri di atas iman akan Tuhan Yesus Kristus. Bagi mereka kasih kepada Tuhan ada di atas segalanya bahkan nyawa mereka pun mereka lepaskan demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan banyak jiwa manusia. Cinta dan pengorbanan itulah yang menjadi dasar seluruh perjuangan dan persembahan diri mereka kepada Tuhan melalui Gereja yang kudus. Sabda Yesus pada hari ini sungguh menjadi nyata di dalam hidup mereka, yakni ‘hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya’. Kedua martir ini menerima hikmat Allah, yakni kehadiran Allah di dalam diri mereka, sehingga mereka mengalami keselamatan dan kehidupan abadi yang dibawa oleh Tuhan Yesus Kristus bagi orang yang percaya kepadaNya.

Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada kita semua, yakni keselamatanNya melalui PutreraNya, Yesus Kristus. Ia yang datang ke dunia dan hidup di tengah manusia serta mewartakan Kabar Gembira Kerajaan Allah. Namun demikian masih saja manusia menolaknya dan lebih memilih hidup menurut keinginan sendiri, yang justru berlawanan dengan jalan keselamatan yang Tuhan siapkan. Dalam Sejarah Keselamatan, Tuhan sudah menggunakan berbagai cara untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, melalui para nabi Perjanjian Lama hingga Tuhan sendiri yang datang di dalam diri Yesus Kristus. Manusia lebih nyaman hidup dalam kegelapan, kesenangan pribadi, yang semua itu datang dari si jahat. Dengan sikap manusia ini, maka perlahan-lahan manusia sedang memasukkan dirinya ke dalam jurang kematian kekal.

Sekarang tiba saatnya kita harus merubah dan meluruskan arah perjalanan hidup kita. Keselamtan Tuhan sudah tersedia bagi kita bahkan kepada kita rahmat itu sudah dicurahkan, maka pintu Kerajaan Surga sudah dibuka untuk kita semua. Yang diperlukan dari kita sekarang adalah keterbukaan hati dan membiarkan rahmat itu masuk ke dalam hati kita. Dengan demikian kita juga masuk ke dalam Hati Tuhan yang terbuka bagi kita. Keberanian kita untuk meninggalkan kesenangan dan semua yang menyesatkan kita, itulah bentuk kematiran dan pengorbanan jaman ini. Dengan demikain kita akan mengalami keselamatan kekal yang sudah Tuhan sediakan. Jika kita sungguh mencintai Tuhan dan menghidupi cinta itu dalam kehidupan harian kita, maka kita pun akan siap berkorban bagi Tuhan dan sesama kita.

Sehati dan Sejiwa

Sehati dan Sejiwa

Selasa Pekan Biasa XXIV, 15 September 2020 – Pw. Santa Maria Berdukacita

Bacaan: Ibr 5: 7-9; Luk 2: 33-35

“Sehati dan Sejiwa”

Setelah kita merayakan Pesta Salib Suci, pada hari ini kita kenangkan Bunda Maria Berdukacita. Tentu saja peringatan ini sangat berkaitan dengan peristiwa hidup Yesus, Sang Putera Maria. Sejak jawaban ‘ya’, yang diberikan Maria kepada malaekat Gabriel, seluruh hidupnya dan perjalanan hidupnya selalu ditegaskan oleh jawabam ‘ya’ itu. Menerima panggilan Tuhan, berarti juga menerima semua konsekuensi yang akan terjadi walaupun belum diketahui. Itulah yang terjadi pada diri Bunda Maria, yang setia dan rendah hati dalam melakukan kehendak Tuhan di dalam dirinya. Bukan sesuatu yang ringan, namun Maria selalu menyatukan dirinya kepada Tuhan yang memanggilnya dengan sikap ‘aku ini hamba Tuhan’. Maka relasi personal dengan Tuhan itulah yang menguatkan dirinya, terutama dalam diri Yesus Kristus, Putera yang dikasihinya.

Dukacita Bunda Maria ini sangat berkaitan erat dengan perjalanan hidup Yesus, Putera yang sangat dicintainya. Tanpa banyak kata, Bunda Maria mengikuti perjalanan Yesus dan hatinya selalu ada bersama Yesus. Maka sejak Yesus dilahirkannya, satu per satu penderitaan itu dialaminya dengan rendah hati. Dukacita Bunda Maria ini secara khusus dikenangkan dalam 7 dukacita Bunda Maria. Dari kelahiran hingga peristiwa salib, Maria selau ada bersama Puteranya, terutama dalam perjalanan salib Yesus, Maria selalu disampingnya. Penderitaan Yesus inilah yang juga dialami oleh Maria dan bukan hanya dirasakan, Maria sungguh menderita dan berdukacita. Hati Maria telah menyatu dengan hati Yesus Putera yang telah dikandung dan dibesarkannya.

Simeon sudah mengatakan kepada Maria, ketika Yesus dibawa dan dipersembahkan di kenisah, bahwa sebilah pedang akan menembus jiwa Maria. Tentu Maria tidak mengerti banyak mengenai hal itu, namun ia mengalaminya. Pedang yang menembus jiwa tentu lebih sakit daripada menembus daging, yang bisa dengan cepat disembuhkan. Ketika penderitaan diterima Yesus, maka Maria pun mengalami penderitaan itu. Pendampingan dan kehadiran Maria di sisi Yesus merupakan bentuk cintanya yang mendalam dan ia telah memberikan yang terbaik kepada Yersus hingga akhir hidupNya di dunia ini. Sikap kesetiaan terhadap panggilan Tuhan dan selalu menyatukan hati kepada Tuhan Yesus, juga seharusnya menjadi sikap hidup kita semua. Maria hingga hari ini masih terus mendampingi perjalanan hidup kita bahkan ia ikut mengalami pula perjuangan dan terkadang penderitaan kita manusia. Apakah kita juga selalu menyadari kehadiran Bunda Maria di dalam kehidupan kita?

Translate »