Browsed by
Month: November 2020

King of Mercy

King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be a subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Check also my Youtube channel for various catechism at “bayu ruseno”

Menjadi Malaikat di Dunia, Seperti Malaikat di Surga

Menjadi Malaikat di Dunia, Seperti Malaikat di Surga

Peringatan Maria Dipersembahkan kepada Allah

21 November 2020

Lukas 20:27-40

Dalam kesempatan yang paling unik, Yesus mengungkapkan apa yang akan terjadi pada pribadi manusia di surga. Sebenarnya, tujuan utama Yesus adalah untuk menyatakan kebenaran tentang kebangkitan orang mati dan menggagalkan argumentasi orang-orang Saduki, tetapi dengan demikian, Dia juga menyoroti kondisi manusia di alam sana. Di surga, kita akan menjadi seperti malaikat dan kita tidak lagi menikah atau dinikahkan. Pengungkapan ini pasti akan menyebabkan reaksi yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang yang tidak menikah atau menyerah kehidupan pernikahan, mereka mungkin menemukan penebusan dalam surga yang seperti ini. Tapi, bagi mereka yang ingin sekali menikah, maka surga semacam ini adalah berita yang sangat buruk.

Kita akan menjadi seperti malaikat. Namun, ada sebuah pertanyaan tersisa. Siapakah malaikat itu? Banyak teolog suci dan brilian telah berspekulasi tentang makhluk rohani ini. Salah satunya adalah St. Thomas Aquinas dan ia telah menulis dengan sangat luas dan mendalam tentang makhluk non-jasmani ini. Sampai saat ini, karya-karyanya telah menjadi landasan bagi Angelologi (Studi para malaikat). Dengan demikian, dia akhirnya dijuluki sebagai ‘dokter Angelicus’ – dokter malaikat. Sayangnya, penjelasan mereka sebagian besar tetap berada di tingkat teoritis. Tidak ada seorangpun yang pernah secara pribadi mengalami apa artinya menjadi seorang malaikat. Hollywood mencoba untuk mengkompensasi kekurangan ini dengan memproduksi film-film tentang mailaikat. Namun, film-film, seperti ‘City of Angels’ yang mencoba menggambarkan kehidupan malaikat, tampaknya lebih terlihat sebagai fantasi daripada kenyataan. Pada akhirnya, surga masih merupakan misteri besar bagi kita manusia.

Namun, ada sesuatu yang lebih penting daripada menjadi seperti malaikat di surga. Yesus mengajarkan kita bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup. Surga adalah tentang hidup dan menjalani hidup kita sepenuhnya di hadapan Allah kita. Hidup bukanlah sekedar berberfungsi secara biologis, seperti bernapas, makan dan tidur, tetapi juga mengambil risiko dalam mengasihi, menghadapi saat-saat yang sulit dan membuat keputusan yang sulit namun bermakna. Michael Lobrin, seorang pewarta awam Katolik dari Filipina, menggambarkan dinamika iman sebagai menari dalam kegelapan, dan saya percaya hal ini juga berlaku bagi dinamika kehidupan. Kita berani untuk menari dalam kegelapan, berani menghadapi semua risiko dan bahaya dalam hidup, karena kita memiliki pasangan yang sempurna, yaitu Tuhan sendiri. Uniknya, Meister Eckhart, Dominikan mistik dari abad ke-14, pernah berkata bahwa tiga Pribadi Ilahi berhubungan satu sama lain dengan cara menari dengan kegembiraan luar biasa dalam keabadian. Tuhan tidak pernah akan mengecewakan mitra tari-Nya. Lalu, mengapa kita harus takut hidup secara penuh? Maju dan menarilah dengan Tuhan!

Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

Bait Allah

Bait Allah

Jumat pada Pekan Biasa ke-33

20 November 2020

Luk 19:45-48

Bait Allah di Yerusalem adalah tempat paling suci bagi bangsa Israel. Di sana, Allah memilih untuk tinggal (Mazmur 78:68). Di sana, orang-orang Yahudi dari segala penjuru mata angin berkumpul untuk menyembah Tuhan. Bait Allah adalah simbol pemersatu dan identitas Yahudi, kebanggaan mereka dan kejayaan mereka yang berharga. Yesus sendiri menyebut Bait Allah sebagai rumah Bapa-Nya (lih Mat 2:49).

Namun, tempat suci ini telah dinajiskan. Sayangnya, penodaan ini dilakukan oleh otoritas agama Yahudi itu sendiri. Bait Allah telah dimanipulasi untuk sekedar mencari keuntungan finansial dan memajukan agenda politik pribadi segelintir orang. Dengan membiarkan Bait Allah berubah menjadi kawasan komersial, mereka pasti mendapat banyak keuntungan. Dengan mengeluarkan peraturan yang mengharuskan orang-orang Yahudi sederhana untuk membeli hewan kurban dan untuk membeli mata uang khusus dari pedagang-pedagang ‘berizin’, mereka menindas rekan-rekan senegara mereka sendiri. Dengan menyuap para pejabat Romawi, mereka dengan licik mempertahankan posisi dan kekuasaan mereka. Sungguh, melihat hal ini, Yesus pun geram karena rumah Bapa-Nya telah menjadi pasar dan sarang penyamun.

Hal yang menarik dari realitas Bait Allah adalah St. Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (lih. 1 Kor 6:19). Kita dijadikan kudus karena Roh Kudus memilih untuk berdiam di dalam kita. Namun, pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah kita memperlakukan Bait kita sendiri sebagai rumah Roh Kudus? Injil hari ini sebenarnya mengajarkan tentang tindakan simbolis Kristus karena sering kali, kita mengisi Bait kita tidak dengan Roh Kudus tetapi dengan sesuatu yang lain.

Seperti Bait Allah di Yerusalem, Bait kita juga merupakan pusat kehidupan kita dan apa yang ada di dalamnya, praktis mengatur sikap kita terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Apakah kita membiarkan uang untuk menempatinya, sehingga prioritas kita adalah untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin dan kadang-kadang mengorbankan hubungan kita dengan Tuhan, keluarga dan teman-teman? Apakah kita menempatkan popularitas dan kesuksesan di Bait kita, dan dengan demikian kita bekerja keras untuk mendaki tangga karier, sampai pada titik yang menghancurkan diri kita sendiri? Apakah kita memasukkan kemarahan dan kedengkian dalam Bait kita, sehingga kita hanya melihat orang lain sebagai musuh untuk dihancurkan dan hidup sebagai permasalahan besar?

Permasalahan nomor satu orang Yahudi dalam Perjanjian Lama adalah penyembahan berhala. Tuhan menuntut kesetiaan kepada-Nya, namun bangsa Yahudi kerap berbelok pada dewa-dewa kecil yang mereka ciptakan sendiri. Paus Fransiskus dalam suratnya Lumen Fidei menulis, “Idols exist, we begin to see, as a pretext for setting ourselves at the center of reality and worshiping the work of our own hands (LF 13).” Oleh karena itu, mengapa Yesus menjadi geram di Bait Allah bukan hanya karena komersialisasi tempat suci, tapi terutama karena telah terjadi penyembahan berhala. Mereka telah mengubah Allah yang hidup dengan dewa-dewa kecil buatan mereka sendiri dan menempatkannya di dalam Bait yang kudus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus Menangisi Yerusalem

Yesus Menangisi Yerusalem

Kamis pada Pekan Biasa ke-33

Lukas 19:41-44

Sebelum Yesus memasuki kota Yerusalem, Yesus melihat kota ini dari sebuah bukit dan mulai menangis. Dia mengetahui bahwa penatua-penatua kota ini akan menolak-Nya dan karena kedegilan hati mereka, Yesus tahu bahwa kota raja besar ini akan dihancurkan oleh tentara musuh pada tahun 70 Masehi. Bala tentara Roma mengepung dan membakar kota Yerusalem, termasuk Bait Allah. Sampai saat ini, Bait Allah tidak pernah dibangun kembali. Yesus sungguh mengasihi bangsa Israel dan terutama kota Yerusalem dan penduduknya, tetapi Yesus menghormati keputusan beberapa dari mereka yang menolak Yesus.

Ini adalah salah satu momen penentuan dan bagaimana Yesus menunjukkan kasih-Nya yang mendalam dengan air mata-Nya. Yesus yang selalu tergerak oleh belas kasih bagi mereka yang menderita, sakit dan miskin, kini membiarkan hati-Nya terkoyak oleh penderitaan yang akan dialami oleh Yerusalem karena dosa-dosa para pemimpin kota ini. Yesus sangat mencintai Yerusalem. Bersama Yusuf dan Maria, Yesus kecil sering mengunjungi kota ini untuk berziarah. Saat umur 12 tahun, Yesus telah mengenali bahwa Bait Allah adalah rumah Bapa-Nya dan Yesus harus selalu terlibat dalam urusan sang Bapa.

St. Gregorius Agung juga melihat kejadian ini sebagai Yesus yang menangisi para pendosa yang menolak bertobat bahkan setelah melihat karya-karya Tuhan di tengah mereka. Saat hari penghakiman datang, mereka, seperti Yerusalem, akan dihancurkan oleh kekuatan jahat.

Yesus juga menangis saat kita terus menolak Dia, saat kita tetap menolak untuk bertobat meskipun kita menyaksikan segala kebaikan-Nya. Yesus sungguh mencintai kita dan oleh karena kasih ini, Dia tidak ingin kita binasa. Tetapi, Yesus juga tidak ingin memaksakan kehendak-Nya dan menghancurkan kebebasan kita. Setiap kali kita berdosa dan berkeras hati, Yesus terluka dan menangis.

Sayangnya, manusia tetap saja berkeras walaupun Yesus telah menangis. Manusia tidak belajar dari kesalahan yang telah diperbuat. Kita terus mengulang kebodohan kita sehingga kebinasaan datang dan menghancurkan kita. Kehancuran Yerusalem menjadi sebuah simbol bahwa sesuatu yang sangat berharga akan diambil dari kita jika kita tidak bertobat. Ini mungkin keluarga kita, keberhasilan kita, kejayaan kita, bahkan hidup kita. Tentunya yang paling menyedihkan adalah saat kita kehilangan Tuhan secara permanen.

Apakah kita sadar bahwa kita sering membuat Yesus menangis dan terluka? Apakah yang membuat kita berkeras hati? Dosa-dosa apa yang terus mengikat kita dan menjauhkan kita dari Yesus? Apakah kita benar-benar mau kehilangan Yesus dalam hidup kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Arti Sebuah Kepercayaan

Arti Sebuah Kepercayaan

Rabu pada Pekan Biasa ke-33

18 November 2020

Lukas 19:11-28

Hari ini kita mendengarkan perumpamaan tentang seorang tuan yang membagikan uang mina. Uang mina merupakan jenis uang yang digunakan oleh orang-orang Yunani. Satu misa sama dengan 100 drakma dan satu drakma sama dengan upah satu hari kerja. Perumpamaan ini merupakan versi Lukas dari perumpamaan talenta di Matius [Mat 25:14-30].

Jika kita lihat lebih mendalam perumpamaan ini, sebenarnya ada sesuatu yang lebih mendasar daripada besaran uang yang diberikan. Hal ini adalah relasi antara sang tuan dan para hambanya. Perumpamaan kita hari ini berbicara tentang relasi yang berlandaskan pada sebuah kepercayaan. Tuan rumah berani memberi hartanya kepada hamba-hamba-Nya karena ia tahu karakter dan kemampuan mereka, dan memiliki kepercayaan kepada mereka. Di sisi lain, dua hamba bekerja keras untuk melipatgandakan uang karena mereka menaruh kepercayaan kepada tuan mereka bahwa kerja keras mereka akan dihargai dengan adil. Pelipatgandaan mina sebenarnya adalah tanda lahiriah relasi manusia yang berdasarkan kepercayaan.

Kepercayaan membangun setiap relasi antar manusia yang otentik. Dari persahabatan sederhana antara dua teman hingga demokrasi kompleks yang melibatkan jutaan warga, semuanya dimulai dengan kepercayaan dan hanya bisa bertahan karena kepercayaan yang sama. Sebuah pernikahan yang sejati dimulai dengan cinta kasih dan kepercayaan antara suami dan istri. Tanpa kepercayaan, tidak mungkin seorang pria akan memberikan seluruh dirinya kepada istrinya dan begitu juga sang wanita terhadap suaminya. Ini sebabnya Gereja hanya melihat pernikahan sebagai sah dan tak terceraikan ketika kedua mempelai memasuki relasi pernikahan mereka dalam kebebasan, cinta kasih dan kepercayaan. Niat-niat lain yang melandasi pernikahan seperti kepentingan pribadi, pencarian kesenangan atau paksaan membuat pernikahan otomatis tidak sah.

Sayangnya, tidak semua hubungan yang dibangun di atas kepercayaan. Kepalsuan dan dusta bersumber pada kepentingan pribadi dan egosentrisme memotivasi beberapa orang untuk masuk ke dalam relasi. Lalu, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka meninggalkan begitu saja pihak lain dalam kehancuran. Hal ini terjadi ketika seorang gadis membuka rahasia teman dekatnya; ketika seorang suami meninggalkan istrinya karena ia tidak lagi cantik dan kaya; atau, saat politisi berjanji palsu hanya untuk memenangkan pemilu. Karena itu, kepercayaan selalu melibatkan risiko. Kita tidak bisa membaca niat orang lain dan meramalkan peristiwa yang akan terjadi. Kita menjadi tidak berdaya dan rentan.

Mengapa sang tuan percaya kepada hamba-hambanya meskipun ia menghadapi ketidakpastian akan masa depan? Perumpamaan hari ini sungguh mengajarkan kita bahwa selalu ada risiko, ketidakpastian dan bahaya, namun intinya adalah bahwa tuan rumah tidak menyerah pada rasa takutnya. Ia mengerti bahwa hanya sebuah kepercayaan yang bisa melahirkan kepercayaan dalam diri orang lain. Mempercayai seseorang adalah hal yang sangat berisiko, tetapi tanpa memberikan kepercayaan kita, ‘mina’ yang kita miliki tidak akan tumbuh dan mempengaruhi kehidupan orang lain. Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin mengajarkan kita cara untuk membangun sebuah komunitas manusia yang sejati. Ini dimulai dengan kepercayaan yang kecil dan kemudian tumbuh dan berlipat-ganda karena kita berani untuk memberikan kepercayaan kita kepada sesama.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »