Browsed by
Month: January 2021

APAKAH ANDA MENCARI TUHAN DENGAN KEYAKINAN PENUH?

APAKAH ANDA MENCARI TUHAN DENGAN KEYAKINAN PENUH?

Ibrani 3:7-14; Markus 1:40-45

Injil hari ini mengisahkan seorang penderita kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Saudara-saudariku yang terkasih, pada jaman Yesus, penderita kusta adalah orang buangan dari masyarakat. Mereka diusir dari rumah dan komunitas mereka dan dibiarkan mengurus diri sendiri. Kondisi fisik mereka sangat buruk karena mereka perlahan-lahan kehilangan fungsi anggota tubuh dan layu. Mereka tidak hanya dijauhi tetapi juga dianggap “sudah mati” bahkan oleh kerabat mereka sendiri. Biasanya seorang penderita kusta akan dilempari batu atau setidaknya diusir jika dia mencoba mendekati seorang rabi. Bahkan hukum Yahudi melarang siapa pun menyentuh atau mendekati penderita kusta, agar tidak terjadi pencemaran ritual. 

Maka, kalau melihat konteks dan latar belakang jamannya, penderita kusta ini melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia mendekati Yesus dengan percaya diri dan rendah hati, berharap bahwa Yesus dapat dan akan menyembuhkannya. Dan hasilnya, Yesus tidak hanya mengabulkan permintaan pria kusta itu, tetapi Yesus menunjukkan kasih secara pribadi, dan kelembutan Tuhan dalam sentuhan fisiknya. Apakah Anda mencari Tuhan Yesus dengan keyakinan penuh? Tidak ada orang yang ketika mencari Yesus dan meminta bantuan-Nya ditolak. Bahkan orang yang tidak tersentuh dan orang buangan dari masyarakat Yahudi menemukan bantuan dalam diri-Nya. 

Yesus menghadapi penderitaan pria itu dengan belas kasih dan kebaikan yang lembut. Dia mengomunikasikan cinta dan belas kasihan Tuhan dalam sebuah tanda yang berbicara lebih fasih daripada kata-kata. Dia menyentuh pria itu dan membuatnya bersih. Dikatakan bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” Pengetahuan medis pada zamannya akan menganggap kontak seperti itu sebagai risiko besar untuk menimbulkan infeksi.

Bagaimana Anda dan saya mendekati mereka yang sulit untuk dicintai, atau yang dijauhi oleh orang lain karena mereka berdosa, cacat atau memiliki beberapa kekurangan? Apakah kita menunjukkan kebaikan kepada mereka dan menawarkan belas kasihan serta bantuan seperti yang Yesus lakukan? 

Saudara-sauariku yang terkasih, Tuhan selalu siap untuk menunjukkan belas kasihan-Nya dan membebaskan kita dari apa pun yang membuat kita najis, tidak dapat didekati (seperti seorang kusta), atau tidak mengasihi orang lain. Mari kita datang mendekat kepada Yesus! Seperti ajakan St. Paulus kepada umat di Ibrani, mari kita saling menasehati seorang akan yang lain setiap hari supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hati karena tipu daya dosa. Mari kita juga datang mendekat kepada Yesus karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus.

MARI KITA DATANG KEPADA YESUS

MARI KITA DATANG KEPADA YESUS

Markus 1:29-39

Injil hari ini terdiri dari tiga bagian. Di bagian pertama (1: 29-31), kita diberitahu tentang kesembuhan ibu mertua Simon. Di bagian (1: 32-34), banyak orang sakit dibawa kepada Yesus, dan Ia menyembuhkan mereka. Bagian terakhir  (1: 35-39), kita diberi informasi tentang aspek yang sangat pribadi dari kehidupan Yesus, yakni kehidupan doa-Nya.

Pada bagian pertama, Injil menyatakan bahwa setelah disembuhkan ibu mertua Simon kemudian melayani Yesus dan murid-murid-Nya. Saya merasa bahwa penginjil Markus melalui peristiwa ini hendak mengomunikasikan bahwa ibu mertua Simon telah sembuh sepenuhnya dan sekarang ia dapat melayani. Tetapi di sisi lain, penginjil bermaksud juga untuk mengomunikasikan kepada pembacanya, bahwa penyembuhan terjadi untuk  pelayanan.

Saudara-saudariku yang terkasih, ketika Simon membawa Yesus ke rumahnya, ibu mertuanya langsung sembuh karena Yesus mendengar doa Simon. Kepada siapa Anda membawa masalah Anda? Murid-murid Yesus dengan leluasa menyampaikan kesusahan mereka kepada-Nya karena mereka merasa Yesus siap menolong dan mampu menghadapi kesulitan, penderitaan, atau penyakit apa pun yang dihadapi para murid-Nya. 

Apakah Anda mengizinkan Yesus menjadi Tuhan dan penyembuh dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas? Kuasa penyembuhan Tuhan memulihkan kita tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga untuk pelayanan dan kepedalian kepada orang lain. Seperti yang dikisahkan injil hari ini bahwa Yesus mengajar, memberitakan Kerajaan Allah, dan menyembukan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit. Maka, mari membawa masalah-masalah kita kepada-Nya dengan keyakinan penuh bahwa Yesus akan membantu kita. Apakah Anda datang kepada Yesus dengan keyakinan penuh?

KUASA PENGAJARAN YESUS: KESELAMATAN

KUASA PENGAJARAN YESUS: KESELAMATAN

Markus 1:21b-28

Injil hari ini mengisahkan bahwa orang-orang takjub mendengar pengajaran Yesus, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pengarang Injil Markus dengan sangat gamblangmembandingkan pengajaran Yesus dengan ahli-ahli Taurat. Pertanyaannya, hal apa saja yang membedakan?

Mengenai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi Yesus pernah berkata, “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Oleh karena itu, segala hal yang mereka katakan kepadamu, lakukanlah dan perhatikanlah (Mat 23:3). Berbeda dengan Yesus, mereka mengajar tetapi tidak melakukan apa-apa, sedangkan Yesus melakukan pengajaran disertai dengan tindakan keselamatan. Itulah yang terjadi dalam Injil hari ini ketika Yesus mengeluarkan roh jahat dari dalam diri orang yang kerasukan, yang mau mendekat kepada-Nya, hanya dengan satu kata. Tindakan ini oleh orang banyak ditafsirkan sebagai “ajaran baru”.

Saudara-saudari, Injil hari ini mengajak kita untuk mendekat kepada pribadi Yesus. Ketakjuban orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus itu disampaikan kepada kita agar kita berani datang mendekat dan mendengarkan-Nya. Kita diundang untuk menjalin hubungan dengan Yesus dan bukan hanya kepada sekumpulan ajaran belaka. Kita juga diajak untuk melihat bahwa dalam memberi pengajaran, Yesus juga menyingkirkan pengaruh roh jahat yang mengancam kita. Inilah kebesaran dan kuasa-Nya dibandingkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

YESUS MEMANGGIL MURID-MURID YANG PERTAMA DAN KITA

YESUS MEMANGGIL MURID-MURID YANG PERTAMA DAN KITA

Markus 1:14-20

Pelayanan publik Yesus dimulai setelah pembaptisan-Nya, pestanya kita rayakan kemarin sekaligus menandakan bahwa masa Natal berakhir dan sekarang tahun liturgi memasuki masa biasa. Injil hari ini mengawali pelayanan publik Yesus dengan mengatakan bahwa  Yesus datang ke Galilea setelah Yohanes ditangkap. Hal ini bisa menjadi cara penginjil Markus ‘menyingkirkan’ Yohanes Pembaptis dari panggung yang selama ini menjadi pusat perhatian. Ini juga bisa menjadi pengingat bahwa nasib yang dialami Yohanes Pembaptis juga akan menjadi nasib Yesus, yakni Yesus sama seperti Yohanes Pembaptis akan ‘diserahkan’. 

Yesus mengawali pelayanan publiknya dengan memanggil murid-murid pertama. Yesus memanggil Simon dan saudaranya Andreas, kemudian Yohanes dan Yakobus. Kisah panggilan ini memiliki lima bagian: Yesus lewat, Ia melihat mereka sedang bekerja sebagai nelayan, lalu Ia memanggil mereka, mereka meninggalkan pekerjaan mereka, dan mereka mengikuti Yesus. Panggilan para murid pertama tampaknya menunjukkan bahwa Yesus sadar bahwa Ia akan membutuhkan manusia untuk bekerja sama dalam tugas-Nya yang cukup ‘menakutkan’ seperti kejadian yang menimpa pendahuluNya, Yohanes Pembaptis.

Saudara-saudariku, misi dan panggilan Yesus terus berlanjut sampai hari ini. Dan seperti Simon, Andreas, Yahanes dan Yakobus, kita harus mengikuti Yesus dan membiarkan Dia dan Roh-Nya menuntun dan menempa kita menjadi penjala manusia. Tuhan, Sang Imanuel, hadir bersama kita dalam rutinitas harian kita dan orang-orang yang kita temui setiap hari. Realitas harian kita akan mendapatkan makna yang baru di dalam Kristus: kita tetap menjadi apa adanya kita sekarang, yakni sebagai orang tua, suami atau isteri, anak, pekerja atau pemilik perusahaan, tua dan muda, dari bangsa dan ras apa pun, tetapi kita menjadi saudara dan saudari yang saling memperhatikan dengan kasih Kristus yang kita terima yang salah satunya dari pembaptisan kita. 

Marilah kita berdoa dan mohon berkat Allah agar kita mampu menyertai Kristus dengan setia dalam melaksanakan panggilan kita masing-masing. Tuhan memberkati!

Baptism and the Cross

Baptism and the Cross

Baptism of the Lord

January 10, 2021

Mark 1:7-11

Baptism of the Lord is one of the defining moments in the life of Jesus. The synoptic gospels [Matthew, Mark and Luke] writes this event, though with their own perspective and emphasis. We are in the liturgical year B, and thus, we are listening from the Gospel of Mark. Mark’s version is noticeably the shortest, but it does not mean it does not deliver powerful message. The Baptism of Jesus in the river Jordan is a turning point in Jesus’ life. After this Jesus will be in the desert for 40 days, tempted by the devil, but he will prevail. Then, from this, Jesus will begin His public ministry, and unreservedly move toward Jerusalem, to Cross, Death and Resurrection.

Often, we ask, “why should John baptize Jesus?” We are well aware that John’s baptism is an outward sign of inner repentance. If a person repents, it means that the person has been living a sinful life. Does it mean that Jesus is a sinful man, therefore He asks for John’s baptism? Surely, Jesus who is God, is perfectly sinless, but the question remains, “why should Jesus be baptized?”  Mark does not give us a straight answer, yet the Church offers us the reason. Catechism of the Catholic Church states, “The baptism of Jesus is on his part the acceptance and inauguration of his mission as God’s suffering Servant. He allows himself to be numbered among sinners… Already he is anticipating the “baptism” of his bloody death… [CCC 536].”

Simply put, Jesus’ baptism speaks of this solidarity with us sinners, and this solidarity does not stop in the symbolic baptism of John, but this will find its fulfillment in the cross. As sinners, we deserve to die, but it is God who dies for us. The Church’s answer is beautiful, but is it truly in the mind of the evangelists, especially Mark?

When Jesus is baptized, Mark describes the sky is ‘torn apart’ and a voice came, “You are my Son, the Beloved…” The Greek word for ‘tearing apart’ is ‘schizo,’ and the same word is employed again by Mark when he recounts the happening in the Temple when Jesus died on the cross: the giant curtain that separates the holy place and the holiest place inside the Jerusalem temple [see 15:38]. Meanwhile, Mark also recounts a Roman centurion proclaims that Jesus is truly the Son of God, after witnessing remarkable events during Jesus’ death. From here, we can draw an interesting insight. With this basic pattern between what happens in baptism and in the cross, Mark is telling us that these two events are indeed related. The Baptism points to the Cross, and the Cross is the fulfillment of the Baptism.

It reveals the reason why the Father is so ‘so well pleased with His Son.’ The reason is through baptism, Jesus signals to all of us His eagerness to do His Father’s will. Though Jesus is sinless, He takes up our burden of sin and dies for us as proof of the Father’s love for us.

If in His baptism, Jesus accepts the cross, we, as the baptized Christians, are also called to carry our crosses. As we share Christ’s cross and carry it faithfully, we can hope to love radically. As we love deeply, we may hope for our salvation.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »