Browsed by
Month: October 2021

Api misioner

Api misioner

Rm 6:19-23; Lk 12:49-53

Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan api yang membakar dan memisahkan orang: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Injil memperlihatkan relasi antara Permbaptisan dan Api yang dibawa Yesus. Roh Kudus adalah kuasa Allah yang menyucikan hati, pikiran dan jiwa kita dari dosa dan kegelapan. Roh Kudus bukan hanya menguduskan melainkan juga menjaga, mengajar menuntun dan mengarahkan kita untuk hidup dalam kebenaran. Roh Kudus juga adalah penghibur yang setia di saat ada  kesedihan dan kehilangan harapan.

Inilah api yang dimaksudkan oleh Yesus. Api yang membakar habis egoisme manusia yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain; api yang membakar dan memisahkan segala bentuk jaringan sesat dan palsu atas dasar darah, ras dan nasionalisme yang kotor, miskin dan sempit. Inilah api yang memperkaya karena menghadirkan Allah dan kebenaran, menghalau dosa dan kematian, membawa terang dan hidup baru, oleh rahmat belas kasih dan kebangkitan Tuhan sendiri.

Inilah api cinta yang benar, yang membebaskan dan memberi harapan akan dunia baru yang lebih adil dan damai. Inilah api Kristus, api misioner dan kemuridan, yang terus membakar dan merambati setiap hati yang lapar dan haus akan kebenaran: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu menyala!”

Hidup ini singkat: jangan sia-siakan waktu yang ada!

Hidup ini singkat: jangan sia-siakan waktu yang ada!

Rm 6:12-18; Luk 12:39-48

Injil hari ini adalah kelanjutan dari yang kemarin tentang sikap berjaga-jaga di dalam hidup dan pelayanan kita, namun tekanan terarah pada konsekuensi dari pilihan-pilihan real yang kita ambil saat ini. Yesus masih berbicara tentang hamba yang setia dan yang tidak setia – bahkan peringatan terhadap hamba yang jahat yang tidak memperhatikan sesamanya, melainkan memperlakukannya sesuka hati. Kepada mereka yang setia, tekun dan menjaga iman kepercayaan, kasih dan pelayanan yang diberikan pada mereka, Tuhan menjanjikan balasan yang tidak sedikit – berbahagialah mereka! Akan tetapi, bagi mereka yang tidak setia, tidak peduli – “minum-mabok” – dan bahkan berlaku jahat terhadap yang lain, Tuhan tidak akan tinggal diam. Siksaan yang tidak tanggung-tanggung menanti.

Kita diingatkan bahwa hidup ini singkat. Karena itu harus digunakan sebaik mungkin untuk karya cinta kasih kepada sesama. Pekerjaan yang sekarang ada pada kita adalah sebuah pemberian dan kepercayaan. Entah itu sopir, tukang bangunan, nelayan, guru, dokter, CEO, orang tua, pastor/bruder/suster, dll., semua ini adalah panggilan. Apapun pekerjaan yang kita dapat semuanya akan tertuju pada pelayanan. Pelayanan termulia adalah cinta kasih, terutama ketika kita saling mengasihi dan menghargai tanpa melihat perbedaan yang ada. Sebab Tuhan mengorbankan diri dengan wafat di salib dan bangkit untuk siapa saja yang percaya dan butuh diselamatkan. Karena itu, doa dan relasi personal kita dengan Tuhan adalah kekuatan yang harus selalu kita pupuk dan andalkan dalam hidup. Dibutuhkan motivasi dan kemauan yang baik dalam bekerja dan melayani. Namun kita juga tidak bisa kerja dan melayani seorang diri. Perlu kolaborasi dan network. Apresiasi dan saling memberi dukungan sangat penting. Sebab segalanya adalah sia-sia tanpa Tuhan! Tetap semangat dan lakukan yang terbaik. Roh Kudus penghibur dan penolong adalah kekuatan dan andalan kita. Semoga.

Selalu siap sedia

Selalu siap sedia

Rm 5:12.15b.17-19.20b.21; Luk 12:35-38

Perumpamaan dalam Injil hari ini mengajak kita untuk selalu tekun dan siap sedia di dalam panggilan pelayanan kita sebagai murid Yesus: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.”

Arti yang pertama dari perumpamaan ini berkaitan dengan kedatangan Yesus yang Kedua sebagai Raja segala raja dan sebagai Hakim yang Adil untuk Penghakiman Akhir; dan arti kedua berkaitan dengan realitas kematian sebagai nasib yang harus dihadapi setiap orang ketika Sang Pemilik kehidupan ini memanggil kita untuk memberikan pertanggungjawaban atas semua yang telah kita terima secara cuma-cuma dari-Nya.

Sebagai hamba dari Tuan yang empunya hidup, apakah kita siap untuk memberi pertanggungjawaban iman dan kesaksian hidup sebagai murid-murid Yesus?

Yesus mengingatkan bahwa sikap yang paling tepat dalam hidup kita adalah kesetiaan dalam iman dan kesiap-sediaan untuk menyambut kedatangan Tuhan — disimbolkan oleh pinggang yang tetap terikat dan lampu yang terus bernyala. Ini adalah sikap seorang hamba yang baik. Karena itu iman kita hendaknya terbuka kepada realitas eskatologis ini. Kita perlu memiliki mata hati yang terbuka dan telinga yang siap mendengar ketika Tuhan datang dan mengetuk pintu untuk masuk: “Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.”

Marilah bersama St. Agustinus kita berdoa: “Engkau telah menciptakan kami bagi Diri-Mu, ya Allahku, dan hati kami tiada tenang sebelum beristirahat di dalam Dikau.” Semoga rahmat iman dan belas kasih Tuhan selalu menuntun kita hingga keabadian. Amen.

Pesta St. Lukas Penginjil

Pesta St. Lukas Penginjil

2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9

St. Lukas dikenal sebagai satu-satu penulis Perjanjian Baru yang bukan keturunan Yahudi. Asli Suriah, lahir di Antiochia. Ia menjadi Kristen dan pengikut Paulus. Selain Injil, ia juga menulis Kisah para Rasul. Ia dikenal sebagai sastrawan Kitab Suci dan seorang dokter. Ia menemani Paulus dalam beberapa perjalanan misioner dan menjadi Santo Pelindung para dokter dan seniman.

Di dalam Injilnya hari ini, Lukas menceritakan tentang perutusan 72 murid oleh Yesus ke tempat-tempat dimana Ia sendiri akan mengunjunginya. Angka ini bermakna simbolis. Jumlah 72 merujuk pada jumlah bangsa-bangsa bukan Yahudi di dunia. Jumlah ini juga dikenakan kepada anggota kelompok Sanhedrin, juga para penatua yang membantu Musa. Para Ahli menghubungkan perutusan ini dengan Mandat Agung Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28).

Injil Lukas dikenal juga sebagai Injil yang berpihak bagi kaum miskin. Tergantung konteks dan cara baca. Ada yang membagi Injil sebagai Injil kaum kaya dan kaum miskin. Sesungguhnya Injil hanya satu karena sumbernya satu yakni Kristus sendiri sebagai Revelasi Keselamatan Ilahi. Kita memohon semoga semangat misioner Santu Lukas, terutama melalui kisah Injil dan Kisah Rasul-Rasul yang diwariskannya menginspirasi dan mengarahkan panggilan misioner kita untuk benar-benar dekat dan mengabdikan diri dengan kaum miskin dan menderita.

“Jangan lupa orang-orang miskin,” adalah kata-kata Kardinal Hummes dari Brasil kepada temannya Kardinal Bergogglio sesaat sebelum terpilih menjadi Paus dan mengambil nama Fransiskus mengikuti Santu Fransiskus Asisi yang secara total memberi dirinya kepada orang miskin dan juga terkenal oleh cinta dan pengorbanannya bagi keutuhan seluruh alam ciptaan.

The Greatest Power

The Greatest Power

29th Sunday in Ordinary Time [B]
October 17, 2021
Mark 10:35-45

James and John are seeking second-most prized positions in the kingdom. To be seated at the king’s right and left means to co-reign with the king himself. Going back to the Old Testament, one who was seated at the right of King Salomon was no other than his queen-mother, Bathsheba. The king himself highly respected the queen-mother, and she was wielding considerable power [1 Sam 1 – 2].

What makes this episode more intriguing is that James and John attempt to grap this position by the shrewd plot. They go directly to Jesus and seize the opportunity when the rest of the disciples are busy with other things. Indeed, when the other disciples are aware of their plot, they become indignant. Why? They also desire the same spot and the power it brings.

Why is it that the disciples are obsessed with power and position? Why do we want power so badly? Simply put, power is the ability to control oneself and others. When we can do what we need to do and what we want to do, we are powerful. When we can control and influence others, we are even more powerful. When we are powerful, we are in control, and when we are in charge, we feel good about ourselves. No wonder if we want power.

Is power something terrible? Not at all! Like other things in this world, power may serve a good purpose. With power, we can perform things that make us grow and achieve our fullest potential. With power, we can help others, and the community achieves progress, prosperity, and the common good. With power, we can prevent others from harming themselves and others. However, like other earthly things, power is susceptible to abuse. The same power can be used to manipulate and destroy ourselves and others.

Jesus understands well the dynamics of power. He does not teach that power is evil, nor something to be eliminated. Instead, He points out the true purpose of power. Jesus shows that power is not about having military might or economic forces. The genuine use of power is to serve one another. Jesus even goes one step further that the freest and most powerful man is the one who freely gives up his life so that others may have life to the fullest. True power is not about having and accumulating more power and control but giving and empowering others. Power corrupts when inside our hearts are slaved by sins.

What is impressive about power is that practically everyone has it. Now, it is up to us to use this power to serve others or to destroy them. A mother may exercise her power over her baby in her womb by taking care of the baby, but the same mother may use her power to destroy and abort it. A priest can exercise his power to sanctify his people and educate them in the ways of the Lord, or he can use them to gain a more comfortable life and even popularity. Jesus reminds us that there is no greater power than one who freely offers his life so that others may live to the fullest.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: jasmin staab

Translate »