Browsed by
Month: October 2021

KERINDUAN AKAN DAMAI SEJAHTERA

KERINDUAN AKAN DAMAI SEJAHTERA

Jumat, 8 Oktober 2021

Lukas 11:15-26

            Suatu saat Yesus mengusir setan dari seseorang. Namun sebagian orang yang melihat tidak percaya, namun justru menganggap Yesus melakukannya dengan kuasa Beelzebul.”Tetapi ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.”(Luk 11:15).  Yesus sangat prihatin dengan ketidak-percayaan mereka. Apa yang dilakukan Yesus dengan mengusir setan adalah Dia ingin menyakinkan kepada manusia bahwa Dia datang untuk memberikan harapan dan keselamatan, namun mengapa tanggapan sebagian manusia menolak kehadiran-Nya?

            Seandainya mereka percaya kepada Yesus Kristus, maka mereka akan mendapatkan damai sejahtera, sebab di dalam diri-Nya Kerajaan Allah; Kerajaan Damai hadir di antara umat manusia. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”(Luk 11:20). Kerajaan Allah berbeda dengan kerajaan dunia, sebab Kerajaan Allah dibangun diatas belas-kasihan Allah sendiri, yang memberikan pengampunan, damai, harapan, kesembuhan, membebasan dari segala bentuk kesombongan/kejahatan dan menganugerahkan keselamatan abadi.  Karya penyelamatan kepada kepada umat manusia telah ditunjukkan dan telah dibuktikan oleh Yesus Kristus, Putera Allah.  Dari atas kayu Salib, Yesus mengampuni dan menebus dosa-dosa manusia dengan darah-Nya. “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Luk 23:34).

            Dengan demikian, Kerajaan Allah sungguh menjadi real/nyata ketika seseorang menerima Tuhan Yesus di dalam hati dan seluruh hidupnya. Dia pertama-tama memberikan damai sejahtera yang membuat setiap orang yang percaya merasakan ketenangan dan suka-cita karena kasih Allah sendiri mengalir dalam hidupnya. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.”(Yoh 14:27).

            Bagaimana caranya agar Damai Kristus hadir dalam diri seseorang? Damai tersebut ditemukan bukan diluar diri manusia, tatapi ditemukan di hatinya. Cara untuk mendapatkannya adalah lewat “percaya” kepada Allah yang Maha Baik.  Percaya dimulai dengan menyadari hal-hal yang kecil, dimana kebaikan-kebaikan Allah telah ditebur, diterima, dan ditumbuhkan, namun seringkali kurang disadarinya. Oleh karena itu semakin seseorang menyadari kebaikan-kebaikan Tuhan, maka semakin ia akan terbuka bahwa semua itu terjadi karena kebaikan dan kemurahan Allah. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak, karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.”(Mzm 13:6).

Prigen, Rm. Didik, CM

BERBAHAGIALAH ORANG YANG PERCAYA

BERBAHAGIALAH ORANG YANG PERCAYA

Kamis, 7 Oktober 2021

Lukas 11:5-13

            Yesus mengajak semua yang percaya kepada-Nya, bahwa Dia datang dari Allah Bapa. Kehadiran Yesus Kristus menjadi jawaban bagi semua manusia yang ingin memahami siapakah Allah itu? Melalui kehadiran Putera-Nya, setiap orang dihantar untuk percaya bahwa Allah Bapa adalah Maha Baik dan Murah hati. Oleh karena itu, Dia akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Pertama-tama yang diberikan adalah Roh Kudus, agar manusia bisa mengerti apa yang baik, yang mendatangkan kedamaian dan keselamatan. “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”(Luk 11:13).

            Kebaikan dan Kemurahan hati Allah ditunjukkan oleh Yesus Kristus, di dalam hidup dan karya-Nya, hingga Dia rela mengorbankan jiwa dan raga-Nya di atas kayu salib.  Yesus Kristus melakukan semua karena Allah, sebab Dia dan Allah Bapa adalah satu. Apa yang dilakukan Yesus adalah apa yang dikehendaki Allah Bapa yang mengutus-Nya. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”(Yoh 17: 21).

            Dengan demikian lewat kehadiran Yesus Kristus seseorang yang mau belajar akan bisa melihat dengan jelas bahwa Allah bukan pribadi yang jauh, tetapi Dia dekat selalu ada dan menyertai umat-Nya dalam pergumulan sepanjang hidupnya atau selama-lamanya. “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti Allah menyertai kita.”(Mat 1:23). Yesus Kristus, Sang Imanuel ada dan selalu hadir untuk umat yang disayangi-Nya. Lewat Yesus Kristus semua diundang untuk datang kepada-Nya agar damai dan keselamatan diterima kepada mereka yang percaya. Dia tahu bahwa setiap pribadi memiliki pergulatan dan beban-beban yang berat. Oleh karena itu Dia hadir untuk menemani, meneguhkan, menguatkan, dan menyelamatkan umat-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbenan berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).

Dengan demikian, Allah Bapa selalu hadir dan kehadirannya tidak perlu diragukan lagi, karena Dia telah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia dan mengutus  Roh Kudus untuk membuka hati dan budi untuk mengerti semua kebaikan dan kasih yang telah dilakukan oleh Allah, dan mendorong untuk berani untuk menerima, percaya dan mengikuti Yesus Kristus penyelamat. “Tetapi Penghibur, yatitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”(Yoh 14:26).  

Semua yang baik telah diberikan Allah kepada manusia. Kini saatnya menunggu jawaban setiap pribadi manusia ; apakah mereka semakin terbuka dan percaya kepada-Nya ataukah semakin menjauh hidupnya dari Allah? “Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu.”(Mzm 84:13).

Prigen, Rm. Didik, CM

MAKNA DOA BAPA KAMI

MAKNA DOA BAPA KAMI

Rabu, 6 Oktober 2021

Lukas 11:1-4

Yesus mengajarkan doa yang sederhana dan padat makna, yaitu Doa Bapa Kami.  Doa ini merupakan refleksi iman atas kasih Allah Bapa yang tanpa batas dan  yang hadir untuk anak-anak-Nya. Apa yang  ada di dalam doa tersebut merupakan jalan bagi setiap orang yang percaya untuk sampai kepada Allah Bapa.  Bagaimana cara untuk mengalami kebersamaan dengan Allah ? Pertama-tama dimulai dari iman akan Allah yang adalah Bapa yang Maha Baik, karena itu sudah sepantasnya dimuliakan selalu di dalam hidup agar Kerajaan Kasih-Nya hadir di dalam hidup manusia. “Bapa dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu.”(Luk 11:2).

Setelah seseorang percaya kepada Allah Bapa, maka jalan untuk menuju kepada-Nya menjadi terbuka lebar. Oleh karena itu setiap jiwa manusia bisa berseru mengungkapkan isi hati dan pergulatan hidupnya serta harapannya untuk selalu mendapat berkat-berkat-Nya setiap hari.  “Berilah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya… “(Luk 11:3). Pergulatan seseorang tidak hanya menyangkut soal mencukupi kebutuhan-kebutuhan jasmani, namun lebih-lebih menyangkut juga soal bangaimana berjuang untuk mengalahkan kuasa kegelapan/dosa yang terus akan menghalangi siapa pun yang ingin dekat dengan-Nya. Karena kerapuhannya semua orang pernah jatuh dalam kelemahan dan dosa, namun Allah Bapa siap menerima mereka yang mau datang dalam penyesalan dan berniat kembali kepada-Nya. “ .Dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami.”(Luk 11:4).

Perlindungan Allah Bapa yang Maha Rahim tersebut menjamin seseorang berada di dalam kondisi penuh rahmat-Nya, sehingga ia terhindar dari bahaya maut atau dosa yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan manusia suatu pencobaan. “..Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. “(Luk 11:4b).  Semua itu bisa terjadi, ketika seseorang setia berada di dekat Allah Bapa. Artinya relasi yang dipelihara dalam ketekunan dan kesetiaan merupakan kunci untuk mengalami kerahiman dan kasih setia Allah Bapa.  Oleh karena itu, seseorang akan kesulitan mengalami hidup penuh damai , yaitu hidup di dalam kasih persaudaraan, jika ia mengabaikan ketekunannya dalam menjalin relasi dengan Allah Bapa.

Dengan demikian Doa Bapa kami menjadi jalan untuk bisa mengalami kemurahan hati Allah Bapa dan sekaligus memperbaharui hidup seseorang kearah hidup yang dikehendaki oleh Allah, yaitu hidup sebagai anak-anak Allah yang senantiasa haus dan miskin dihadapan-Nya, mengandalkan Allah dalam setiap perkara yang dihadapi, dan berjuang untuk melakukan kehendak-Nya agar mewujudkan Kerajaan Allah; Kerajaan Damai di bumi.  “Berbahagialah, orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”(Mat 5:3).

Prigen, Rm. Didik, CM

KEMBALI PADA SUMBER HIDUP

KEMBALI PADA SUMBER HIDUP

Selasa, 5 Oktober 2021

Lukas 10:38-42

            Ketika Yesus mengunjungi Maria dan Martha, mereka menyambut Yesus dengan bersuka cita. Masing-masing (Maria dan Martha) memiliki cara yang khas dalam menyambut kehadirian Yesus. Martha dengan segala kesibukannya mencoba melayani Tuhan. Sementara itu Maria dengan tenang dan rendah hati serta setia mendengarkan semua yang disabdakan-Nya. “Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani …”(Luk 10:30). Yesus menerima pelayanan yang mereka ungkapkan.  Ketika mereka mengambil perannya masing-masing, Marta protes kepada Yesus, dan meminta supaya Maria mau mengikuti cara yang telah diambil oleh Marta.”.. Tuhan , tidaklah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan akau melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”(Luk 10:40).

            Yesus mengajak Marta untuk tetap bergembira dengan apa yang telah dan bisa dilakukannya dalam pelayanan dengan tulus dan bersyukur. Dengan bersyukur  dan tulus, maka seseorang akan terhindar dari sikap “superior” atau merasa lebih baik dari yang lain. Jika sikap merasa lebih dari yang lain tersebut muncul maka seseorang akan menganggap orang lain kurang dan menuntut mereka untuk mengikuti pemikiran dan cara hidupnya.  Yesus tidak ingin bahwa murid-murid-Nya jatuh pada kesombongan rohani, maka dalam setiap pelayanan apapun itu sangat perlu dilandasi sikap rendah hati. Maria telah mengambil sikap yang tepat, karena ia dengan kerendahan hatinya mau mendengarkan apa yang di sampaikan Yesus kepadanya. “Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”(Luk 10:41-42).

            Yesus menyatakan hal yang harus selalu ada dalam hidup dan dalam pelayanan adalah sikap rendah hati. Kesombongan bukan hanya datang karena merasa lebih atas barang-barang duniawi dimiliki, namun juga muncul dari pandangan dan pemikiran bahwa seseorang sudah banyak berbuat baik dan berjasa. Kemegahan rohani sering kali tersembunyi namun akan muncul saat seseorang mulai jauh dari Tuhan. Oleh karena itu, semuanya perlu dikembalikan kepada akar dan sumber hidup, yaitu relasi dengan Tuhan Yesus Kristus. Dengan cara ini, maka seseorang akan selalu mengenakan Roh Kristus sendiri dalam setiap pelayanan dan perutusannya. “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”(Yoh 15:4).

Prigen, Rm. Didik, CM

Selasa, 05 Oktober 2021

Selasa, 05 Oktober 2021

Lukas 10: 38-42

Hari Biasa

1. Keunikan Marta dan Maria. Nama-nama tokoh dalam Injil hari ini sangat akrab bagi kita: Marta, Maria, dan Yesus. Kita mengenal kisah Marta dan Maria dengan baik. Yesus telah datang untuk mengunjungi Marta dan Maria. Ketika Yesus tiba, Marta mulai menyiapkan makanan untuk Yesus. Ketika Marta sibuk di dapur,  Maria merasa nyaman duduk mendengarkan Yesus yang mengunjunginya.  Rupanya Marta terpancing marah dengan Maria karena dia “malas!” dan tidak membantu Marta menyiapkan makanan: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Kita masing-masing memiliki kepribadian “Marta” dan “Maria”, apa pun jenis kelamin kita. Kita menyadari ada tipe pria dan perempuan yang cenderung lebih seperti Marta, yaitu bekerja dan bekerja. Dan kita juga mengetahui bahwa ada yang cenderung mempunyai tipe lebih seperti Maria, yaitu berdoa dan berdoa.

Hari ini semoga kita bersyukur atas kekhasan dan keunikan diri kita sendiri! Di tengah aneka kesibukan kerja, kita belajar untuk memberi tempat dan waktu untuk Yesus, sehingga ada budaya “berdoa dan bekerja” – “Ora et labora” secara seimbang.

02. Hati-hati dengan budaya suudzon. Budaya jadwal yang padat dan pengejaran produktivitas yang tiada henti menggoda kita untuk mengukur nilai diri dengan seberapa sibuknya kita, seberapa banyak hal yang kita capai, atau seberapa baik kita memenuhi harapan orang lain. Yesus memberi penegasan dalam Lukas 12:25: “Siapa di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupmu.” Kita tahu bahwa khawatir itu tidak baik. Banyak hal yang tidak begitu penting yang kita khawatirkan, namun kita tidak bisa memadamkan kecemasan dan kepanikan. 

Niat mulia Marta bisa berbelok menjadi rasa khawatir dan menyusahkan diri. Demikian juga halnya dengan kita. Awalnya kita ingin menyediakan waktu bagi keluarga kita, kita ingin memberi anak-anak kita kesempatan untuk memperkaya cakrawala kehidupan mereka, kita ingin melayani sesama kita, dan  kita ingin melayani Tuhan. Namun di kemudian waktu jika semua kegiatan itu membuat kita tidak memiliki waktu untuk diam di hadirat Tuhan dan mendengarkan firman Tuhan, kita cenderung dihinggapi oleh rasa cemas, dan curiga. Hidup dan pelayanan kita cenderung tanpa  cinta dan sukacita, karena kita merasa sendirian dan mencurigai orang lain tidak mempunyai hati yang peduli. Bunda Teresa pernah mengingatkan: “Jika Anda menilai orang, Anda tidak punya waktu untuk mencintai mereka.Mari kita ber-”Hati-hati dengan budaya suudzon).Budaya ini bisa terjadi di mana saja, keluarga dan bahkan biara, di sekitar meja makan arisan atau bahkan di seputar  meja pendalaman Sabda Tuhan, pada saat kumpulberdua dan juga saat kumpul berdoa. Hati-hati dengan godaan pembelokan ke suuzon.

Translate »