Browsed by
Month: November 2021

“Sabda yang bergema”

“Sabda yang bergema”

Jumat Pekan Biasa XXXIV, 26 November 2021

Bacaan: Daniel 7:2-14; Lukas 21:29-33

Tuhan Yesus mengatakan, ’’Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu’’. Dengan mengatakan ini, Yesus mau menyadarkan kita semua bahwa semua yang dikatakanNya selama ini sungguh benar dan akan terjadi, maka janganlah kita mengabaikannya.  Sabda Yesus disampaikan sebagai wujud nyata kasihNya kepada manusia dan hanya satu tujuannya adalah keselamatan kita semua. Maka dibutuhkan kerjasama yang erat antara kita dengan Tuhan yang selalu menawarkan keselamatan kepada kita semua. Bagaimana kita bisa mengalami keselamatan, jika kita mengabaikan Sabda Tuhan dan bahkan menolaknya. Bukankah dengan menolak Sabda Tuhan, itu sama saja kita menolak keselamatan yang ditawarkanNya kepada kita semua. Namun Sabda Yesus ini terus bergema tanpa henti sampai hari ini, itulah tanda kasih Allah yang nyata bagi semua manusia.

Kita sudah pandai untuk memprediksi dan meramalkan cuaca, musim serta berbagai hal lainnya, seperti yang dikatakan Yesus ini. semuanya itu kita lakukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan juga kepandaian yang dikaruniakan oleh Tuhan. Namun sayangnya kita hanya berhenti pada realita alam dunia yang kita cermati, teliti dan pelajari. Yesus mengajak kita untuk juga memperhatikan dan membaca tanda-tanda jaman yang selama ini telah terjadi. Pengetahuan dan kepandaian kita janganlah berhenti pada alam dunia saja, namun marilah kita juga melihat dan membaca kehadiran Tuhan di dalam kehidupan harian kita. Apa yang terjadi di dalam kehidupan kita sekarang ini tidak hanya berhenti pada gejala dan realita alam, namun juga menunjukkan sikap manusia kepada alam dan Tuhan sang Penciptanya. Sabda Tuhan perlu didengarkan dan menjadi pegangan dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat melihat dunia kita ini juga dengan ‘kacamata’ Tuhan.

Oleh sebab itulah Yesus mengatakan bahwa ketika kita melihat semua realita yang terjadi itu, bersiaplah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Jika dikatakan sudah dekat berarti perlu segera dipersiapkan walaupun belum tiba dan juga belum tahu kapan akan datang. Tuhan Yesus sangat memperhatikan kita dan mempersiapkan keselamatan bagi kita, luar biasa! Apakah kita akan mengalami kedatangan Kerajaan Allah, yakni kedatangan Tuhan Yesus di akhir jaman? Jelas kita tidak tahu. Yang kita tahu adalah bahwa kedatangan itu akan terjadi dan sudah dekat, maka jangan menunda lagi untuk mempersiapkannya. Jangan takut karena Tuhan selalu menyertai kita dengan Roh KudusNya.   

“Menyongsong Sang Penyelamat”

“Menyongsong Sang Penyelamat”

Kamis Pekan Biasa XXXIV, 25 November 2021

Bacaan: Daniel 6:12-28; Lukas 21:20-28

Kita berada di penghujung Tahun Litugi dan dalam beberapa hari lagi kita akan memasuki Masa Adven, sebagai awal Tahun Baru Liturgi dalam Gereja Katolik. Selama bulan November ini kita diajak untuk merenungkan akan datangnya akhir jaman bersamaan dengan doa bagi semua jiwa yang telah meninggal. Bacaan-bacaan Kitab Suci menghantar kita kepada realita kehidupan dengan berbagai pergolakannya, yang tidak selalu mudah. Gambaran kedatangan akhir jaman yang dikisahkan dalam Kitab Suci memang tidaklah nyaman untuk didengarkan dan terkadang menakutkan. Sebenarnya semua realita yang Yesus katakan itu mau menunjukkan suasana kehidupan manusia dan juga kita semua yang pada waktunya akan berakhir. Kita diajak untuk menyadari bahwa semua ciptaan Tuhan ini tidak ada yang sempurna dan akan berakhir pada waktunya. Oleh sebab itulah kita jangan sampai terikat kepada semua yang sementara itu, yakni semua yang ada di dunia ini. Kehancuran dan mala petaka yang sedang dan akan melanda dunia ini menunjukkan pula realita bahwa sebagian manusia mulai menjauh dari Tuhan yang abadi dan telah merusak alam dunia ini.

Dengan mengatakan realita itu, Tuhan Yesus mau membuka mata hati kita agar kita mulai memusatkan kepada yang ilahi, yakni kepada Tuhan yang menjadi sumber dan pusat kehidupan kita. Kehancuran dan mala perataka sudah banyak terjadi dan masih terus terjadi sampai sekarang, namun itu bukanlah berarti akhir jaman segera akan datang. Semua realita itu menjadi peringatan bagi kita dan penyadaran agar kita berbenah diri dan bertobat. Karena fokusnya justru adalah pada kedatangan Sang Penyelamat kita di akhir jaman, Tuhan Yesus Kristus. kedatanganNya itu yang akan menyempurnakan Karya Keselamatan yang telah dimulai dan terus berlangsung hingga hari ini. Saat itu menjadi saat yang membahagiakan bagi kita semua, karena Tuhan akan membawa kita dalam persatuan denganNya, selamanya.

Untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus itulah, maka kita perlu mempersiapkan diri dan selalu berjaga. Tuhan Yesus mengatakan dalam Injil hari ini, “apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat”. Jelas sekali pesan ini, yang walaupun sudah dikatakan dua ribu tahun yang lalu masih tetap aktual hingga hari ini, bahkan sampai kedatangan Tuhan. Nah, apakah kita sudah bangkit dan mengangkat muka kita, yang artinya bangun, bertobat dan siap memandang Sang Penyelamat datang? Sudah banyak realita yang terjadi dalam kehidupan dunia kita sekarang ini, maka jangan menunda lagi untuk mempersiapkan diri. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, namun kita sudah diingatkan bahwa Dia akan datang, mari bersiap diri.

“Siap bersaksi”

“Siap bersaksi”

Rabu Pekan Biasa XXXIV, 24 November 2021 – St. Andreas Dung-Lac dkk.

Bacaan: 5:1-6, 13-14, 16-17, 23-18; Lukas 21:12-19

Pada hari ini bersama seluruh Gereja, kita merayakan Santo Andreas Dung-Lac dan teman-temannya yang menjadi martir di Vietnam. Mereka semua dibunuh dengan cara yang mengerikan karena mempertahankan iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Darah mereka telah menyuburkan Vietnam, sehingga iman Katolik bertumbuh subur walaupun di tengah berbagai himpitan yang tidak mudah. Mereka semua telah menjadi saksi Kristus yang setia dan memberikan kesaksian pula kepada kita semua yang masih berziarah di dunia ini agar tetap setia selamanya.  

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus juga sudah mengingatkan kepada semua muridNya, termasuk kita, untuk bersiap menjadi saksiNya di tengah dunia ini. Bahkan Yesus menunjukkan realita yang tidak mudah dalam mengikutiNya dan menjadi saksiNya. Walaupun realitanya tidak selalu mudah, namun sebagai saksi Kristus, kita tetap terus harus maju mewartakan karya keselamatan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Bahkan Yesus menyadarkan kita bahwa realita yang tidak mudah ini menjadi kesempatan untuk membawa sebuah pengharapan akan keselamatan. Memang kita harus berani melawan arus dunia yang justru ingin membawa kita menjauh dari Tuhan.

Tuhan Yesus tidak hanya mengutus kita menjadi saksi-saksiNya, namun Ia memberikan kita kemampuan untuk mewartakan melalui kesaksian kita. Tuhan akan selalu menyertai dan menjaga kita sehingga tidak ada lawan yang dapat mengalahkan dan merebut kita dari Tuhan. Tentu saja Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa kita tidak akan mengalami penderitaan atau kematian, karena itu semua adalah bagian dalam pemberian diri kita sebagai saksi Kristus. Dengan memberikan ilustrasi realita yang tidak selalu mudah ini, Yesus mau menguatkan dan membuat kita tidak takut dalam melangkah, karena kita berjuang bersama kekuatan Tuhan. Tantangan dunia sekarang ini memang sudah berbeda, yang tidak hanya meyerang fisik kita namun melanda pikiran dan bahkan iman kita dengan berbagai ajaran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang bisa membawa kita jauh dari Tuhan. Inilah saatnya kita bersaksi lebih bersemangat lagi melalui kehidupan kita setiap hari, perkataan dan perbuatan kita yang sederhana sekalipun.

“Waspada dan berjaga !”

“Waspada dan berjaga !”

Selasa Pekan Biasa XXXIV, 23 November 2021

Bacaan: Daniel 2:31-45; Lukas 21:5-11

Kita berada di penghujung Tahun Liturgi Gereja, yang segera akan berakhir. Pada hari ini Tuhan Yesus ingin membuka mata hati kita akan realita yang tidak selalu menyenangkan, yang sedang dan akan melanda dunia kita termasuk diri kita semua. Bait Allah akan hancur dan memang sudah hancur di tahun 70 setelah Yesus wafat, begitu pun sekarang ini banyak gereja sudah tutup, dijual dan bahkan beralih fungsinya, yang banyak terjadi di negara Barat. Ini menjadi tanda bahwa iman kita kepada Tuhan tidak boleh melekat pada gedung dan rumah ibadat, karena seringkali tempat atau bagunan begitu diutamakan, namun iman dan sikap hidup diabaikan. Itu pula yang sekarang ini terjadi, kemegahan rumah ibadat terkadang tidak disertai dengan kemegahan iman umatnya, termasuk kita semua.

Tuhan Yesus juga mengajak kita untuk tetap waspada dan berjaga karena ada berbagai ajaran sesat mulai muncul dan terus bermunculan di dunia ini. Kitab Suci dan nama Tuhan sering digunakan untuk menyesatkan dan ternyata sudah banyak yang terseret ke dalamnya. Sejak awal Yesus sudah mengingatkan realita ini, karena kuasa jahat akan terus berusaha menghancurkan manusia dan menarik kita jauh dari Tuhan bahkan untuk memisahkan kita dari Tuhan. Begitu pula berbagai kejadian alam sekarang ini menunjukkan betapa rusaknya dunia kita, yang dirusak oleh kita sendiri yang tinggal di dalamnya. Berbagai kejahatan dan bahkan mengatasnamakan Tuhan dan agama pun sudah terjadi sekarang ini. Realita ini akan membuat hidup manusia menjadi tercemar. Situasi ini telah digunakan pula oleh berbagai kelompok untuk membuat ramalan palsu tentang akhir jaman yang segera akan datang. Jika kita tidak waspada, maka kita juga akan terseret ke dalamnya, menjadi yakin dan hidup dalam ketakutan.

Saatnya sekarang ini kita membangun sikap waspada dan berjaga, sehingga kita tidak lengah dan kehilangan iman kepada Tuhan. Relasi yang dekat dengan Tuhan harus selalu kita perdalam. Kita harus belajar dari berbagai tanda jaman dan realita yang selama ini terjadi, supaya kita mulai membangun sikap iman dan bertobat. Dunia ini hanya bisa berubah jika dimulai dari diri kita masing-masing. Marilah kita semakin mengandalkan Tuhan, membangun sikap iman yang tulus tanpa melekat pada hal-hal duniawi yang sementara.

“Persembahan hidup”

“Persembahan hidup”

Senin Pekan Biasa XXXIV, 22 November 2021 – Peringatan St. Cecilia 

Bacaan: Daniel 1:1-6, 8-20; Lukas 21 :1-4

Kisah Injil yang kita dengarkan pada hari ini sudah sangat terkenal, yakni persembahan janda miskin. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita arti sebuah persembahan, yang ternyata tidak hanya sekadar materi, melainkan menyangkut hidup dan kehidupan. Dengan mengatakan persembahan, maka makna yang dikandungnya lebih mendalam dari pada pemberian atau derma. Persembahan berarti memberikan kepada yang disembah, yakni kepada yang Ilahi, Tuhan sendiri. Maka tujuannya jelas, yakni memberikan kepada Tuhan yang kita miliki dan itupun sesuai dengan seberapa yang ingin kita berikan atau persembahkan. Persembahan ini diberikan dengan kebebasan dan bukan paksaan, yang menunjukkan ketulusan hati yang memberi. 

Yesus melihat tindakan sang janda ini bukan berdasarkan besarnya yang diberikan, namun totalitas sang janda yang memberikan dengan tulus bahkan ia mempersembahkan dari kekurangannya. Ada sikap lepas bebas tanpa terikat pada materi walaupaun jelas tetap dibutuhkan. Ia sadar memberikan kepada Tuhan menunjukkan sebuah kepercayaan dan hanya terikat pada Tuhan, yang telah memberikan rejeki kehidupan dan yang terus menjaga dan merawatnya. Hal ini sama dengan St. Cecilia yang kita peringati hari ini, ia memberikan diri dan hidupnya kepada Tuhan hingga akhir. Inilah persembahan hidup yang tulus dan penuh kepercayaan akan kehidupan kekal yang telah Tuhan sediakan bagi semua manusia, termasuk kita semua.

Bagaimanakah selama ini kita memberikan persembahan atau kolekte? Apakah kita melihatnya sebagi derma atau memang mempersembahkan kepada Tuhan bagi kepentingan seluruh Gereja kita? Terkadang kita terlalu banyak perhitungan sehingga pemberian kita tidak menjadi persembahan, karena diberikan kurang dengan tulus hati. Kita perlu belajar dari sang janda miskin, yang mempunyai sikap hanya terikat pada Tuhan. Semuanya telah kita terima secara cuma-cuma dari Tuhan, maka kita juga ingin memberikan dan mempersembahkannya secara cuma-cuma. Melalui persembahan ini, kita juga menunjukkan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Marilah kita memulainya dari sekarang.  

Translate »