Browsed by
Month: January 2022

Melihat dengan Mata Allah

Melihat dengan Mata Allah

Selasa, 18 Januari 2022

Bacaan 1 Sam 16: 1-13; Mark 2: 23-28

Allah meminta Samuel untuk mengurapi salah satu anak Yesse di Betlehem untuk menjadi raja Israel pengganti Saul. Muncullah anak yang pertama, Abinadab yang berperawakan besar dan gagah. Samuel mengira, inilah orang pilihan Allah. Tapi Tuhan ternyata tidak memilihnya. Lalu Tuhan berkata, “jangan menilai lewat penampilan saja, sebab Allah melihat dalam hatinya!”

Saat kesepuluh anak Yesse bertemu Samuel, tak satupun dari mereka yang dipilih Allah. Ternyata Tuhan memilih anak yang paling bungsu yaitu Daud, yang sedang menggembalakan kambing domba di padang.

Sering kali kita menilai orang terbatas dengan penampilannya yang dari luar saja. Orang dinilai pribadinya karena pakaian yang dia kenakan, dari makanan yang dipesan, lewat merek sepatu dan tas yang dia pakai. Memang itu semua adalah ukuran yang mudah dilihat dan menimbulkan impresi tertentu. Orang terkagum-kagum karena mobil yang dikendari seseorang, dandanan yang mewah, dan makanan yang dipesan. Namun semua itu belum menunjukkan seutuhnya identitas seseorang.

Allah melihat seseorang dari hatinya. Artinya, Allah melihat seseorang dari apa yang dipikirkan, dijalankan, dan hayati dalam hidup sehari-hari. Penampilan dan apa yang tampak sering kali hanyalah penilaian luaran yang belum tentu mencerminkan apa yang tampak dari kedalaman hati orang. Semoga kita juga belajar menilai segala sesuatu dengan lebih mendalam, baik secara tampilan luaran maupun dari kedalaman hati seseorang.

CARA MENERIMA KASIH TUHAN

CARA MENERIMA KASIH TUHAN

Senin, 17 Januari 2022


Markus 2:18-22

Yesus mengajak para kepada para murid-Nya untuk memahami bahwa kebaikan dan kasih Tuhan perlu ditanggapi oleh masing-masing orang agar kasih dan kebaikan Tuhan tidak berlalu begitu saja. Bagaimana cara menggapi-Nya? Seperti halnya ketika seseorang mau menerima hal yang penting dan berharga maka diperlukan tempat yang layak untuk menyimpannya, demikian juga kasih Tuhan perlu disimpan dan ditumbuhkembangkan di dalam tempat yang paling istimewa yaitu hati yang bersih dan tulus. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”(Mrk 2:22).

Dengan demikian dengan hati yang tulus, bersih dan rendah hati maka seseorang akan bisa menerima kasih Allah secara berlimpah-limpah. Sebaliknya jika hati seseorang tidak siap karena masih dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan duniawi maka sedikit saja yang akan ia terima dari Tuhan. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.”(Mrk 2:21). Oleh karena itu, sebelum menerima kasih Tuhan Yesus, seseorang perlu menyiapkan dan menyediakan hati yang baru dan bersih untuk Tuhan.

Rm Didik, CM 

Rahasia Pernikahan yang Bahagia

Rahasia Pernikahan yang Bahagia

Minggu ke-2 Waktu Biasa [C]

16 Januari 2022

Yohanes 2:1-11

Saya benar-benar beruntung dapat mengunjungi kota Kana di Galilea tepat sebelum pandemi covid-19 merajalela. Di sana, saya berkesempatan memimpin pembaruan ikrar janji nikah pasangan-pasangan yang ikut dalam perziarahan. Salah satunya adalah orang tua saya, dan tentu saja, itu adalah saat yang cukup membuat saya canggung. Namun, saya sangat bersyukur ketika saya menyadari kesetiaan mereka, melalui suka dan duka kehidupan pernikahan, tetapi yang terpenting, saya bersyukur atas rahmat Tuhan yang berkerja dalam hidup mereka.

Masyarakat modern kita ditandai oleh banyaknya pasangan suami istri yang menghadapi masalah pelik pernikahan dan juga orang-orang muda yang tidak lagi melihat pernikahan sebagai bagian mendasar dari kehidupan mereka. Perceraian menjadi normal baru, dan perselingkuhan merajalela. Kekerasan dalam rumah tangga mewarnai media berita dan media sosial kita. Ada pasangan-pasangan menolak untuk memiliki anak atau hanya menyerahkan anak kecil mereka ke babysitter. Beberapa orang bahkan menolak sama sekali pernikahan, dan menganggap pernikahan dan keluarga sebagai beban dan ‘penjara’. Beberapa lebih memilih hewan peliharaan daripada membesarkan keluarga manusia yang nyata.

Pernikahan dan membesarkan anak tentunya tidak mudah, tetapi itu sangat penting bagi masa depan kita sebagai umat manusia. Namun, hal ini bukan hanya masalah kelansungan kita sebagai spesies, tetapi juga merupakan rencana Tuhan bagi kita untuk berpartisipasi dalam kepenuhan hidup. Jika kita melihat lebih dekat pada Alkitab, kita akan menemukan tempat sentral dari pernikahan di dalam Kitab Suci. Kisah penciptaan memuncak dengan pria dan wanita menjadi satu dalam perjanjian pernikahan. Mukjizat pertama Yesus terjadi dalam konteks pernikahan dan bagi pasangan yang sedang menikah. Buku terakhir dari Alkitab, Kitab Wahyu, berakhir dengan pesta pernikahan Anak Domba.

Lalu, bagaimana kita mengatasi masalah-masalah besar yang menimpa pernikahan? Tentu banyak hal yang perlu kita lakukan, namun ada satu cara mendasar yang tidak boleh kita lewatkan. Injil memberitahu kita bahwa masalah kekurangan anggur dihindari karena pasangan itu mengundang Yesus, dan ibu-Nya. Maria memperhatikan masalah serius yang ada dan meminta Putranya untuk campur tangan. Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama, dan bukan hanya masalah anggur terpecahkan, tetapi mereka juga mendapatkan anggur terbaik. Semua ini terjadi bahkan tanpa disadari oleh pasangan yang berpesta tersebut tersebut.

Ini adalah pelajaran berharga dari Pernikahan Kana. Sudahkah kita mengundang Yesus dan sang Bunda-Nya ke dalam pernikahan dan keluarga kita? Apakah kita mengandalkan Tuhan dalam upaya kita membesarkan anak-anak kita? Sudahkah kita mendekatkan satu sama lain kepada Tuhan? Jika kita membawa Tuhan dalam pernikahan dan keluarga kita, saya percaya bahwa Tuhan telah melakukan hal-hal yang luar biasa bahkan tanpa kita sadari.

Kembali ke Injil ini, kepala pelayan memuji pengantin pria karena anggur terbaik yang bertahan sampai akhir. Ketika pernikahan dan keluarga kita berhasil melewati badai kehidupan, kita diundang untuk menyadari bahwa anggur terbaik adalah dari Tuhan. Pernikahan yang bahagia terdiri dari pasangan yang bersyukur.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Secret of Happy Marriage

The Secret of Happy Marriage

2nd Sunday in Ordinary Time [C]

January 16, 2022

John 2:1-11

I was truly fortunate that I could visit Cana in Galilee just before the covid-19 pandemic. There, I had the opportunity to officiate the renewal of marriage vows of the couples who participated in the pilgrimage. One of them was my parents, and indeed, it was an awkward moment for me. Yet, I was full of gratitude as I recognized their faithfulness to one another through the thick and thin of marriage life, but most of all, I am grateful for God’s grace in their life.

Our modern societies are marked by countless married couples facing complex problems and young people who do not see marriage as a fundamental part of their lives. Divorce becomes the new normal, and infidelity is rampant. Domestic violence colors our news outlets and social media. Couples refuse to have children or hand over their little children to babysitters. Some people even decline to commit to married life and consider marriage and family a burden and ‘prison.’ Some choose pets rather than raising a real human family.

Marriage and rearing children are not easy, but they are critical to our survival to our future as a human race. Yet, it is not only for us as species, but it is also God’s plan for us to participate in the fullness of life. If we look closely at the Bible, we will discover the central place of marriage within the Scriptures. The story of creation culminates with the man and the woman becoming one in a marriage covenant. The first miracle of Jesus took place within the context of marriage and for the sake of the married couples. The final book of the Bible, the Revelation, ends with the wedding feast of the Lamb.

How, then, do we counter these herculean problems that beset marriage? Indeed, there are many things we need to do, yet, there is one fundamental way we must not miss. The Gospel tells us that the lack of wine was averted because the couple invited Jesus and His mother. Mary noticed the looming serious problem and requested her Son to intervene. Jesus did His first miracle, and not only problem solved, but they got the best wine. All this happened even without the couple being aware of it.

This is a precious lesson from the Wedding of Cana. Have we invited Jesus and His mother into our marriage and family? Do we rely on God in our effort to raise our children? Do we bring one another closer to God? If we bring God into our marriage and family, I believe that God has done marvelous things even without noticing it.

Going back to the story, the steward praised the groom for the best wine that lasted to the end. When our marriages and families succeed through the storms of life, we are invited to recognize that the best wine is from the Lord. Happy marriages consist of grateful couples.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »