Browsed by
Month: February 2022

PERCAYA KEPADA KRISTUS

PERCAYA KEPADA KRISTUS

Senin, 14 Februari 2022


Markus 8:11-13

Orang-orang Farisi tidak percaya kepada Yesus.  Itulah sebabnya mengapa mereka meminta tanda kepada Yesus. “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.”(Mrk 8:11). Yesus sangat heran mengapa mereka menolak dan tidak percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, Yesus tidak memberikan apa yang mereka minta, sebelum mereka mau dengan tulus menerima dan percaya kepada Yesus Kristus. “Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” (Mrk 8:12).

Yesus mengharapkan mereka bisa percaya kepada-Nya. Mengapa? Sebab jika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus maka keselamatan akan turun atas mereka. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”(Ibrani 11:6). Upah bukan dimengerti seperti pandangan dunia, namun maksud Allah adalah buah dari relasi dekat dengan Tuhan adalah damai sejahtera di dalam hati. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia.”(Yoh 14:7).

Dengan demikian, Yesus merindukan semua orang bisa mengalami dan menerima damai sejati yang ditawarkan-Nya. Cara untuk mendapatkan damai tersebut adalah dengan menerima dan percaya kepada-Nya.  “Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kis 16:31). Itulah harta yang paling berharga, yaitu iman kepada Yesus Kristus, yang membawa manusia menerima keselamatan.  “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,  yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,”(Titus 3:4-6).

Rm Didik, CM 

Woe to You

Woe to You

6th Sunday in Ordinary Time [C]

February 13, 2022

Luke 6:17, 20-26

Today’s Gospel presents us with the Beatitudes according to St. Luke. There is a fundamental similarity with Matthew’s version [see Mat 5:1-11], yet there are also some glaring differences between the two. One of the most apparent distinctions is the presence of ‘woes’ in Luke’s version. What is a ‘woe’ anyway?

In the context of the Bible, ‘woe’ is a cry of impending distress used by the prophet Israel [see Is 5:8–22; Amos 6:1; Hab 2:6–20]. The prophets called for repentance of Israel and return to the Lord God, yet if the Israelites remained stubborn, the woe should become a reality, and they would endure the terrible consequences. In the Gospel, Jesus practically did what His predecessors had done. Yet, there is also something new that Jesus introduced.

The prophets were pronouncing the woes to hardened people of Israel who truly did wicked things before the Lord. They worshipped other gods, abandoned the true God, and even worse, offered their children to these gods. They were also involved in sexual immorality and injustice to the weak and the poor. The Israelites were violating every single commandment in the Decalogue. In this context, God’s severe judgment was right and just. However, if we try to compare the prophets of the Old Testament and Jesus, we notice something remarkably odd.

Jesus’ woes were to those who are rich, filled with food, laughing, and praised. Jesus never said, ‘woe to you, idolaters!’ or ‘woe to you adulterers!’, but He pronounced judgment to those who are laughing. But why? Is it not to laugh is healthy? Is it genuinely evil to have money? Is it wrong to praise someone who deserves it? It seems that Jesus is a bit excessive when giving away His woes.

However, we must see entire things of Jesus’ saying. Jesus did not simply say ‘woe to you, rich people.’ The complete sentence is, ‘woe to you, who are rich, for you have received your consolation.’ Jesus emphasized the truth that the woe is for those who make wealth their consolation. Earthly goods, including wealth, are naturally good, but they always serve as means, not the end. The same with laughter and other bodily pleasures. These are good and natural to us human persons. In fact, laughter makes us uniquely human, as no other animals can do the same. Yet, again, if we prioritize our bodily pleasures and lose God in the process, everything will be for nothing.

It is also the same with praises and affirmation we receive. Parents’ honest appreciation will solidify our self-esteem as little kids, and genuine commendation will make us grow in confidence. Yet, if we are obsessed with getting praises and oblations, this may do more harm than good. The highest honors belong to God.

Like the prophets of old, Jesus sounded harsh teachings, but He is genuinely concerned with our salvation and happiness. Jesus tells us that if we fail to make God our end, blessing, especially earthly ones, can turn curses and woes. Jesus’ tough love constantly pulls us away from the eternal sadness.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman yang teguh

Iman yang teguh

Kamis, 10 Februari 2022

Mrk 7:24-30

            Iman akan Allah seringkali diuji dalam situasi yang berat. Kita sebagai orang katolik, kadang hadir sebagai minoritas yang tidak diperhitungkan, atau bahkan diberi label kafir. Dengan situasi demikian, justru Allah hendak memurnikan iman kita. Kisah Injil hari ini memberikan pengalaman berharga bagi kita untuk mempunyai sikap iman yang tangguh dan tahan uji. Dikisahkah seorang ibu yang berkebangsaan Yunani, yang dikenal sebagai orang kafir, yang tidak mengenal Allah. Ia memohon kepada Yesus agar menyembuhkan anak perempuannya yang sedang kerasukan roh jahat. Ibu tersebut datang kepada Yesus dan tersungkur di depan kakiNya memohon kepada Yesus. Namun Yesus menjawabnya dengan suatu ungkapan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” Kata-kata tersebut lebih merupakan kata-kata yang menguji, daripada dimaknai sebagai kata-kata penghinaan, atau kata-kata merendahkan. Yesus sedang menguji ketulusan hatinya dan keteguhan imannya.

            Yesus senantiasa menujukkan belaskasihannya kepada mereka yang mencariNya. Cinta dan iman yang besar akan Allah ditunjukkan oleh ibu yang adalah seorang Yunani itu. Dia mengharapkan kesembuhan bagi anak yang ia kasihi. Ibu tersebut sungguh mempunyai iman yang teguh dan terpikat dengan daya ilahi yang Yesus lakukan yaitu menyembuhkan banyak orang sakit dan mengampuni dosa. Imannya bertumbuh dalam perjumpaannya dengan Yesus. Apakah kita sudah mempunyai iman yang mengagumkan seperti ibu, keturunan Yunani tersebut?

“Tuhan Yesus, kasih dan belaskasihMu sungguh hadir bagi semua orang, tanpa kecuali. Semoga kami percaya dan tidak pernah ragu akan cintaMu dan belaskasihMu. Tambahkanlah iman kami dan bebaskanlah kami dari segala yang jahat”

Munculnya dosa dari dalam hati

Munculnya dosa dari dalam hati

Rabu, 9 Februari 2022

Mrk 7:14-23

            Orang seringkali terbuai dengan apa yang tampak luar saja, tanpa melihat latar belakang. Yesus mengundang kita untuk mempunyai sikap hidup yang lebih mendalam, tidak berhenti pada tampilan luar. Demikian hal mengenai perbuatan jahat atau dosa. Yesus mengingatkan kita bahwa maksud dari perbuatan dosa lahir dari dalam hati. “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7:15).  Dosa tidak hanya sekedar perbuatan yang kelihatan tetapi perbuatan yang lahir dari suatu keinginan. Dosa senantiasa kelihatan menarik di awal namun kemudian akan membawa kita kepada belenggu dosa yang mematikan hati nurani kita. Sekali kita mengijinkan dosa itu masuk ke dalam hati kita, dosa itu akan merusak diri kita sedikit demi sedikit. Seperti digambarkan dalam Kej 4:7, kisah Kain dan Habel, bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Artinya Allah tidak meninggalkan diri kita sendirian untuk melawan dosa tetapi Allah memberikan rahmatNya dan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengalahkan dosa yang sedang mengintip di depan pintu hati kita. Jadi waspadalah, terhadap bujukan dosa itu.

“Tuhan Yesus Kristus, penuhilah kami dengan Roh Kudus dan buatlah hati kami seperti hatiMu. Kuatkanlah hati kami, kehendak kami supaya kami dengan bebas memilih apa yang baik dan menolak apa yang jahat”

Mencari kesalahan orang lain

Mencari kesalahan orang lain

Selasa, 8 Februari 2022


Mrk 7:1-13

            Mencari kesalahan orang lain seringkali menjadi hambatan bagi kita untuk mengoreksi diri dan mensyukuri anugerah kehidupan. Orang farisi dan beberapa ahli taurat juga melakukan hal serupa, mencari kesalahan orang lain, merendahkan orang lain, memegang hukum taurat tetapi ia juga sekaligus memanipulasi hukum Allah demi kepentingannya pribadi. Yesus mengkritik para ahli taurat dan orang farisi karena mereka mengesampingkan perintah Allah supaya mereka dapat memelihara adat istiadat mereka. Padahal Perintah Allah hendaknya menjadi yang utama dan pertama.

            Orang farisi dan ahli taurat kecewa dengan Yesus karena Ia mengijinkan para muridNya melanggar adat istiadat dengan makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Yesus mengajak mereka untuk memahami dan mengerti dengan melihat kembali tujuan Allah memberikan hukum dan peraturan. Allah memberikan hukum agar hidup kita semakin mencintai Allah dan sesama. Namun seringkali kita berusaha memanipulasinya, menafsirkan menurut keinginan kita. Allah mengajak kita untuk menjauhi sikap munafik dan memanipulasi hukum. Sikap munafik ditangkal dengan tindakan taat pada hukum atau peraturan serta dibarengi dengan hati yang senantiasa dipenuhi oleh kasih Allah. Memanipulasi hukum menjadi godaan untuk menempatkan hukum cinta kasih di atas segala peraturan dan adat istiadat. Yesus mengingatkan kita untuk hidup yang benar dengan mengutip Nabi Yesaya 29:13, “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripadaKu dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan…” Kita berusaha agar Sabda Allah menerangi budi dan hati kita sehingga memampukan kita untuk mencintai dan mentaatiNya secara lebih baik.

Tuhan Yesus Kristus, biarkan api Roh KudusMu membersihkan dan memurnikan budi dan hati kami sehingga kami dapat mencintai Allah dengan hati yang murni dan melayaniNya secara lebih baik lagi

Translate »