Browsed by
Month: March 2022

KEPEDULIAN DALAM KASIH

KEPEDULIAN DALAM KASIH

Senin, 7 Maret 2022


Matius 25:31-46

Yesus menyatakan bahwa Dia hadir di dalam diri orang-orang yang menderita, tersingkirkan dan yang terbuang. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25:40).  Dengan demikian Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk melakukan hal yang sama: peduli dengan tulus kepada mereka yang lemah, papa dan menderita.

Bagaimana harapan Yesus itu bisa terwujud? Apa yang baik dan berbuah dalam tindakan mucul dari dalam diri manusia. Oleh karena itu sebelum seseorang bisa peduli terhadap sesamanya, maka terlebih dahulu ia mengolah di dalam hatinya agar memiliki belas kasih untuk melayani sesamanya. Belas kasih tersebut hanya dimiliki oleh Allah, oleh karena itu untuk memperolehnya maka ia harus percaya, dekat dan mau belajar pada Yesus Kristus Putera-Nya. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat 11:29).

Dengan demikian Yesus selalu mengundang para murid-Nya untuk datang kepada-Nya apapun kondisinya, sebab Dia akan memberikan  hati yang baru, untuk bisa menjalankan Misi menghadirkan Kerajaan Allah. “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yehezkiel 36:26).

Oleh karena itu, relasi dengan Yesus Kristus adalah fondasi bagi semua pengikut Yesus, agar bisa berbuah dalam kepedulian dan kasih. Relasi tersebut dijalin semakin di dalam ketekunan dan kesetian doa dan nerenungakan Sabda-Nya. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”(Yoh 15:4).

Rm. Didik, CM 

Yesus, sang Setan, dan Sabda Allah

Yesus, sang Setan, dan Sabda Allah

Minggu Prapaskah ke-1 [C]

6 Maret 2022

Lukas 4:1-13

Pada Minggu pertama Prapaskah, Gereja selalu memberikan bacaan Injil tentang Yesus di padang gurun selama 40 hari. Ada beberapa alasan untuk pilihan ini. Pertama, karena Yesus tinggal selama empat puluh hari di padang gurun, kita juga diundang untuk memasuki padang gurun Prapaskah selama 40 hari. Kedua, karena Yesus berpuasa dan berdoa di padang gurun, kita juga dipanggil untuk berpuasa dan berdoa selama masa Prapaskah ini. Ketiga, Yesus mengajar kita bagaimana melawan iblis dan godaannya. Karena saat ini kita berada di Tahun Liturgi C, kita dapat belajar dari kisah Yesus di padang gurun dari sudut pandang Lukas. Salah satu yang menonjol dalam perdebatan antara Yesus dan sang iblis adalah bagaimana firman Tuhan digunakan.

Yesus menghadapi tiga godaan Iblis. Ini adalah tiga area di mana pribadi manusia secara rohani lemah. Yang pertama adalah godaan kedagingan, dan hal ini menyerang keinginan kita untuk kenikmatan badani seperti makanan dan hubungan suami-istri. Yang kedua adalah godaan keserakahan, dan hal ini mengeksploitasi keinginan kita untuk memiliki hal-hal yang kita lihat. Terakhir tapi paling mematikan, adalah godaan keangkuhan. Godaan ini membingungkan cinta-diri yang sejati dengan perilaku narsistik. Godaan ini adalah yang terburuk karena keangkuhan akhirnya menyedot kita ke dalam gagasan palsu bahwa kita bisa menjadi tuhan-tuhan kecil.

Ini adalah godaan yang Iblis lemparkan kepada Yesus. Godaan kedagingan diluncurkan ketika Yesus lapar dan diminta untuk mengubah batu dan roti. Godaan keserakahan dimulai ketika Yesus dibawa untuk melihat keajaiban dunia dan ditawarkan untuk memiliki semuanya. Terakhir, godaan keangkuhan dimulai ketika Yesus diundang untuk memamerkan kuasa-Nya karena Dia memiliki otoritas untuk memerintahkan para malaikat.

Tentu saja, iblis gagal total. Namun, yang lebih menarik adalah cara Yesus melawan iblis. Setiap kali iblis melancarkan serangan, Yesus dengan bijak membalasnya dengan kutipan dari Perjanjian Lama. Sungguh, Firman Tuhan adalah senjata ampuh melawan serangan dan godaan iblis. Jadi, penting bagi kita untuk mengenal Alkitab kita dan mempelajarinya dengan baik.

Namun, itu bukan akhir dari cerita karena iblis pun menggunakan ayat Alkitab. Dia mengutip bagian dari Mazmur 91, “Dia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya tentang kamu, untuk menjaga kamu… [Mzm 91:11]”. Apa yang lebih luar biasa adalah bahwa Mazmur 91 secara tradisional digunakan untuk pengusiran setan. Iblis menggunakan kata-kata yang digunakan untuk mengusirnya! Bagaimana ini mungkin? Pasalnya, iblis menggunakan ayat alkitab di luar konteks dan hanya sesuai dengan tujuannya, yaitu menjebak Yesus.

Dari kisah ini, kita mendapat pelajaran berharga. Kata-kata Kitab Suci, bila digunakan dengan cara yang tidak tepat dan hanya sesuai dengan tujuan kita, menjadi alat Iblis. Kita dipanggil untuk meneladani Yesus dalam menjalankan firman Tuhan. Hanya jika kita benar-benar membaca Alkitab dalam konteks yang tepat dan dalam relasi kasih dengan Tuhan, ini benar-benar menjadi Firman Tuhan yang penuh kuasa.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, the devil, and the Word of God

Jesus, the devil, and the Word of God

1st Sunday of Lent [C]
March 6, 2022
Luke 4:1-13

On the first Sunday of Lent, the Church always gives the Gospel reading on Jesus in the desert for 40 days. There are several reasons for this choice. Firstly, as Jesus stayed for forty days in the desert, we are also invited to enter the desert of Lenten season for 40 days. Secondly, as Jesus fasted and prayed in the desert, we are also called to fast and pray during this season of Lent. Thirdly, Jesus teaches us how to fight against the devil and his temptation. Since we are currently in the Liturgical Year C, we can learn from the story of Jesus in the wilderness from Luke’s perspective. One is prominent in the debate between Jesus and the devil is how the word of God is used.

Jesus is facing three devil’s temptations. The traditions call the three Concupiscences. These are three areas where human persons are spiritually weak. The first is the lust of the flesh, and it attacks our desire for bodily pleasures like food and sexual relationship. The second is the lust of eyes, and it exploits our desire to possess the things we see. Lastly but most deadly is pride. This confuses genuine self-love with narcissistic behaviors. This is the worst because pride eventually sucks us into the false idea that we can become a god without God.

These are the temptations that the devil throws into Jesus. The lust of the flesh is launched when Jesus is hungry and asked to turn stone and bread. The lust of the eye is commenced when Jesus is brought to see the worldly wonders and offers to have them all. Lastly, the temptation of pride is initiated when Jesus is invited to show off His power as He has the authority to command the angels.

Surely enough, the devil fails miserably. Yet, what is more, interesting is the way Jesus resists the devil. Every time the devil launches an attack, Jesus wisely counters it with the quotations from the Old Testaments. Indeed, the Word of God is a powerful weapon against the assault and temptation of the devil. Thus, we need to know our Bible and learn them by heart!

Yet, that is not the end of the story because even the devil uses the Bible verse. He quotes parts of Psalm 91, “He will command his angels concerning you, to guard you… [Psa 91:11]”. What is more remarkable is that Psalm 91 is traditionally used for exorcism. The devil is using the very words that used to expel him! How is this possible? The reason is that the devil uses the bible verse out of context and only to suit his purpose: to trap Jesus.

From this story, we learn a valuable lesson. The words of Scriptures, when misused way and only to fit our purpose, are become the instruments of the devil. We are called to imitate Jesus in living the word of God. Only if we indeed read the Bible in its proper context and a loving relationship with God, they truly become the powerful Word of God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Renungan Pra Paskah

Renungan Pra Paskah

Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku ! (Luk 23:46) 

Saudara Saudari yang terkasih,  Konon Sabda Yesus ini menjadi doa yang diajarkan para ibu yahudi kepada anak-anak mereka sebelum tidur. “Bapa, ke dalam tanganmu kuserahkan nyawaKu”. Doa ini juga mengungkapkan penyerahan total kepada Allah. Ungkapan itu juga serupa dengan doa yang didoakan Raja Daud kepada Tuhan yang ditemukan dalam Mazmur 31 :6 , “Kedalam tanganMulah kuserahkan nyawaku, Engkau membebaskan aku ya Tuhan, Allah yang setia”.  

Sabda ini ini merupakan sabda Yesus yang terakhir sebagai ungkapan ketaatanNya kepada Bapa. Selain menjadi yang terakhir, sabda ini mengingatkan kembali untuk pertama kalinya Yesus mengatakan bahwa DiriNya senantiasa melakukan kehendak Bapanya, yang tersirat dalam Luk 2 :49, « Mengapa kamu mencari Aku ? Tidahkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu ? »  

Saudara-saudari yang terkasih, sabda Yesus ini mengundang kita semua untuk masuk ke dalam kisah sengsara Yesus. Dalam saat-saat terakhir, Yesus menyerahkan DiriNya kepada Bapa yang mengutusNya. Karena sengsara dan wafatNya akan mengantarkan kepada kebangkitanNya.  Bapa sungguh memberikan segala sesuatu indah pada wakyunya meski harus mengalami perbagai macam penderitaan. Hal yang sama akan dialami para murid Yesus, tentu kita semua akan mengalami penderitaan dan berbagai kesulitan dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan kita, ada saatnya kita memasuki saat-saat gelap. Namun itu semua bukanlah akhir dari kisah hidup kita, karena kebangkitanNya dan kemuliaanNya akan dinyatakan kepada kita. Harapan akan kebangkitan dan kemuliaan ini akan diberikan Yesus kepada kita: suatu kekuatan, ketabahan, daya tahan dan kesetiaan sampai akhir. Hal serupa itu diungkapankan dalam Ibrani 12:1-2, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” 

Saudara-saudari yang terkasih, sabda terakhir Yesus ini mengundang kita semua untuk mengenakan kesetiaan, daya juang, dan harapan ketika kita mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita. Yesus terlebih dahulu memberikan kepada kita suatu teladan kesetiaan dan ketaatan sampai akhir. Marilah kita memohon kepadaNya.  

Tuhan Yesus, Engkau mengetahui kedosaan kami. Engkau mengalami penderitaan karena dosa-dosa kami. Terima kasih atas penderitaan dan penebusanMu di atas kayu salib. Kami mohon ampunilah dosa-dosa kami dan berikanlah RohMu untuk memulai hidup yang baru. Kami hendak mengikutiMu dan peka akan kehendakMu. Kami percaya kepadaMu ya Tuhan Yesus, Engkaulah,  Raja dalam hidup kami. Amin. 

YANG RENDAH DITINGGIKAN

YANG RENDAH DITINGGIKAN

Sabtu, 5 Maret 2022


Lukas 5:27-32

Yesus memilih Lewi pemungut cukai menjadi murid-Nya dan bahwa Dia juga mau datang berkumpul dan makan bersama dengan pemungut-pemungut cukai lainnya. “Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”  Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.”(Luk 5:27-28). Keputusan dan tindakan Yesus tersebut ditentang oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena Yesus dianggap berpihak pada orang-orang berdosa. “Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Luk 5:30).

Mereka memprotes Yesus karena mereka tidak memahami tujuan dan rencana-Nya. Mereka mudah mencurigai dan mengadili Yesus sebelum memahami maksud-Nya. Yesus menarik Lewi dalam pertobatan menjadi murid-Nya karena Dia ingin menyelamatkannya dari dosa dan menjadikannya sebagai saksi akan kuasa dan kasih Allah yang Maha Murah. Dengan demikian Tuhan Yesus menyatakan bahwa dihadapan-Nya, setiap pribadi manusia berharga, sekalipun masing-masing orang memiliki kelemahan dan dosa. Setiap orang diundang dan dipanggil-Nya karena belas kasih-Nya dengan semangat pertobatan sehingga mereka bisa ambil bagian di dalam karya dan Misi-Nya menghadirkan Kerajaan Allah (komunitas dan masyarakat yang penuh damai). “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”(Luk 5:32).

Dengan demikian, Allah benar-benar mengasihi umat manusia sedemikian besar. Dia tidak memandang kelemahan dan dosa-dosa mereka, tetapi memandang manusia sebagai pribadi-pribadi yang dikasihi dan berharga. Oleh karena itu, semua orang dengan segala kerapuhannya tetap memiliki kesempatan untuk menerima belas kasihan-Nya. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”(Efesus 2:8-9).

Oleh karena itu, agar seseorang bisa menerima kemurahan kasih Allah, maka diperlukan sikap rendah hati, karena semakin orang merasa lebih dari yang lain semakin ia jauh dari Allah. Sebaliknya semakin orang menyadari dosa-dosa dan kelemahannya, ia akan semakin dekat dengan Kristus. Itu sebabnya banyak yang merasa lebih ia semakin di rendahkan dan sebaliknya orang yang merasa rendah dan tidak berdaya semakin ditinggikan dan dikuatkan.  “….Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”(Lih. Luk 18:14)

Rm. Didik, CM 

Translate »