Browsed by
Month: October 2024

Kepemimpinan yang Menyelamatkan

Kepemimpinan yang Menyelamatkan

Fr Daniel Aji Kurniawan

Rabu, 30 Oktober 2024

Bacaan I: Efesus 6:1-9

      Bukan sekali dua kali kita mendengar ungkapan secara langsung atau pun mendapat kesan bahwa ternyata tidak mudah mengatur orang lain, karyawan, anak-anak, atau kelompok. Ada banyak orang merasakan putus asa, menyerah, dan kebingungan untuk menghadapi berbagai macam kemauan dan keinginan yang muncul dalam hidup bersama di komunitas, kelompok, atau keluarga kita. Hal ini lantas menyadarkan satu aspek medasar dalam hidup manusia ialah setiap manusia pada dasarnya punya potensi dan kecenderungan untuk merasa diri bebas dan tidak suka dikontrol atau diatur oleh orang lain. Semakin diatur dan semakin banyak peraturan yang harus diikuti dan ditaati, bisa saja seseorang semakin merasakan tidak bebas dalam hidupnya. Lalu bagaimana seseorang belajar untuk menyeimbangkan antara harapan dan tuntutan dalam keseharian hidup ini?

      Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus memberikan satu pesan indah kepada para pemimpin, pendidik, dan mereka yang diberi kepercayaan untuk mendampingi sesamanya dalam penziarahan hidup dan iman. Jikalau disadari bahwa pada dasarnya seseorang tidak suka untuk diatur, maka peran seorang pemimpin, pendidik, dan pendamping ialah memberikan arahan, petunjuk, dan wawasan yang berisikan nilai-nilai atau keutamaan iman, pengharapan, dan kasih, bukan sebaliknya mengatur dan mengontrol hidup orang lain seturut kehendaknya sendiri. Ingatlah setiap orang memiliki kerinduan dan keterbatasan yang patut diperhatikan. Rasul Paulus memberikan nasihat: “jangan bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran nasihat Tuhan…. Jangan hanya taat di hadapan mereka untuk menyenangkan hati orang, tetapi taatlah sebagai hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah…. Laksanakanlah pelayananmu dengan rela seperti orang-orang yang melayani Tuhan, dan bukan manusia.”

      Kutipan nasihat rohani tersebut memberikan satu pelajaran kecil untuk umat beriman di mana pun kita berada yaitu seseorang hanya dapat melakukan, memilih, dan menjalani tugas perutusan, panggilan, tanggung jawab dalam hidupnya dengan kesungguhan hati ketika motivasi, niat, dan kehendak itu keluar dari dalam dirinya sendiri karena relasi yang mendalam dengan Allahnya dan rasa syukurnya, bukan semata karena aturan, kewajiban, dan ketakutan diri yang menghantuinya. Marilah kita bersama memohon kepada Allah Tritunggal Mahakudus agar senantiasa menjadi pemimpin, pembimbing, dan penuntun arah hidup kita selalu selarasa dengan sabda-Nya dan kehendak-Nya.

Bertumbuh dari Hal-hal Sederhana

Bertumbuh dari Hal-hal Sederhana

Fr Yusuf Dimas Caesario

Injil hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah melalui dua perumpamaan sederhana: biji sesawi dan ragi. Yesus menggambarkan bahwa Kerajaan Allah tumbuh dari hal-hal kecil yang mungkin dianggap remeh, namun memiliki kekuatan untuk mengubah dan memengaruhi banyak orang.

Biji sesawi, meskipun kecil, mampu tumbuh menjadi pohon yang besar, cukup kuat untuk menjadi tempat berteduh bagi burung-burung. Demikian juga dengan ragi yang sedikit, dapat membuat adonan mengembang dan berubah. Dari gambaran ini, Yesus mengajarkan kita tentang kekuatan dari hal-hal kecil. Tindakan kasih, doa yang tulus, serta niat yang baik mungkin terlihat kecil dan tak berarti. Namun, dalam Kerajaan Allah, setiap tindakan kasih yang kita lakukan, sekecil apa pun, akan tumbuh dan memberikan dampak besar.

Kita semua untuk tidak meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang bisa kita lakukan setiap hari. Tindakan sederhana seperti memberi senyuman, menyapa tetangga, mendengarkan orang lain, atau mendoakan mereka yang membutuhkan, adalah benih-benih kasih yang ditaburkan di dunia ini. Seperti biji sesawi, mungkin kita tidak segera melihat hasilnya, tapi Tuhan yang menumbuhkan dan mengembangkannya.

Tuhan ingin kita menjadi “ragi” dalam hidup orang lain, menjadi berkat yang dapat mengubah suasana di sekitar kita. Setiap dari kita memiliki panggilan untuk menjadi agen perubahan di mana pun kita berada – baik di keluarga, tempat kerja, atau komunitas.

Doa Singkat

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk menghargai setiap tindakan kecil yang kami lakukan demi kasih kepada-Mu. Semoga kami menjadi biji sesawi yang Engkau tumbuhkan dan ragi yang menghidupkan sesama kami. Jadikan hidup kami berbuah bagi dunia di sekitar kami. Amin.

PESTA S. SIMON DAN YUDAS, RASUL

PESTA S. SIMON DAN YUDAS, RASUL

(Lukas 6:12-19)

Fr. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus, setelah semalam suntuk berdoa di atas bukit, dalam rangka pemilihan para Rasul; Ia turun ke lembah untuk menemui orang banyak yang datang dari berbagai penjuru. Mereka datang dengan harapan besar, ada yang sakit, yang dirasuki roh jahat, dan yang membutuhkan sentuhan belas kasih Tuhan. Menarik untuk dicermati bahwa Yesus tidak hanya hadir sebagai tokoh yang mengajar dari ketinggian, tetapi sebagai pribadi yang turun dan mendekat, siap menyembuhkan dan mendengarkan dengan hati penuh empati.

Saat Yesus “turun” dari Bukit, kita melihat kasih Allah yang juga “turun” ke dalam kehidupan kita. Ini adalah gambaran bahwa Allah tidak jauh, melainkan hadir dan menyertai kita, terutama pada saat-saat kita mengalami kelelahan, merasa lemah dalam perjalanan hidup ini. Yesus, yang menghabiskan malamnya dalam doa, datang dengan kekuatan yang bersumber dari relasi intim dengan Bapa. Dia menjadi cerminan empati Allah bagi manusia, sebuah kasih yang tak hanya menyaksikan tetapi turut merasakan dan peduli.

Melalui tindakan-Nya, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa empati adalah tindakan yang lahir dari hati yang bersatu dengan Allah. Ia tidak datang untuk menghakimi atau mencela, tetapi untuk membawa harapan. Yesus memahami bahwa hidup sering kali dipenuhi dengan pergulatan dan penderitaan. Maka, Ia hadir untuk menunjukkan bahwa kita tidak sendirian, dan Allah selalu siap untuk menyembuhkan, menguatkan, dan mendampingi kita.

Pesan Injil ini mengajak kita untuk meniru empati Yesus dalam hidup kita. Menjadi orang Kristen berarti memiliki hati yang mau “turun” untuk menemui mereka yang terluka, terlantar, dan membutuhkan penghiburan. Dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas, kita dipanggil untuk hadir dengan kasih yang nyata, yang bukan hanya melihat dari kejauhan, tetapi mau menyentuh hidup mereka yang menderita.

Mari kita bertanya pada diri kita: sudahkah kita menaruh empati dalam pelayanan kita sehari-hari? Mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang terluka, yang membutuhkan perhatian dan pengertian kita. Semoga kasih dan belas kasih Yesus menginspirasi kita untuk menjadi saudara bagi mereka, membawa harapan dan sentuhan kasih Allah yang menyembuhkan. Semoga kita pun selalu diingatkan bahwa dalam setiap kesulitan hidup, Tuhan tidak jauh. Seperti Yesus yang “turun” dari bukit, Allah selalu hadir dalam lembah kehidupan kita, menyertai, menguatkan, dan memberi kita harapan.

Translate »