PESTA S. SIMON DAN YUDAS, RASUL
(Lukas 6:12-19)
Fr. Ignasius Joko Purnomo O.Carm
Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus, setelah semalam suntuk berdoa di atas bukit, dalam rangka pemilihan para Rasul; Ia turun ke lembah untuk menemui orang banyak yang datang dari berbagai penjuru. Mereka datang dengan harapan besar, ada yang sakit, yang dirasuki roh jahat, dan yang membutuhkan sentuhan belas kasih Tuhan. Menarik untuk dicermati bahwa Yesus tidak hanya hadir sebagai tokoh yang mengajar dari ketinggian, tetapi sebagai pribadi yang turun dan mendekat, siap menyembuhkan dan mendengarkan dengan hati penuh empati.
Saat Yesus “turun” dari Bukit, kita melihat kasih Allah yang juga “turun” ke dalam kehidupan kita. Ini adalah gambaran bahwa Allah tidak jauh, melainkan hadir dan menyertai kita, terutama pada saat-saat kita mengalami kelelahan, merasa lemah dalam perjalanan hidup ini. Yesus, yang menghabiskan malamnya dalam doa, datang dengan kekuatan yang bersumber dari relasi intim dengan Bapa. Dia menjadi cerminan empati Allah bagi manusia, sebuah kasih yang tak hanya menyaksikan tetapi turut merasakan dan peduli.
Melalui tindakan-Nya, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa empati adalah tindakan yang lahir dari hati yang bersatu dengan Allah. Ia tidak datang untuk menghakimi atau mencela, tetapi untuk membawa harapan. Yesus memahami bahwa hidup sering kali dipenuhi dengan pergulatan dan penderitaan. Maka, Ia hadir untuk menunjukkan bahwa kita tidak sendirian, dan Allah selalu siap untuk menyembuhkan, menguatkan, dan mendampingi kita.
Pesan Injil ini mengajak kita untuk meniru empati Yesus dalam hidup kita. Menjadi orang Kristen berarti memiliki hati yang mau “turun” untuk menemui mereka yang terluka, terlantar, dan membutuhkan penghiburan. Dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas, kita dipanggil untuk hadir dengan kasih yang nyata, yang bukan hanya melihat dari kejauhan, tetapi mau menyentuh hidup mereka yang menderita.
Mari kita bertanya pada diri kita: sudahkah kita menaruh empati dalam pelayanan kita sehari-hari? Mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang terluka, yang membutuhkan perhatian dan pengertian kita. Semoga kasih dan belas kasih Yesus menginspirasi kita untuk menjadi saudara bagi mereka, membawa harapan dan sentuhan kasih Allah yang menyembuhkan. Semoga kita pun selalu diingatkan bahwa dalam setiap kesulitan hidup, Tuhan tidak jauh. Seperti Yesus yang “turun” dari bukit, Allah selalu hadir dalam lembah kehidupan kita, menyertai, menguatkan, dan memberi kita harapan.