Belaskasihan Allah harus tetap kita usahakan
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Hari Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [B]
27 Oktober 2024
Markus 10:46-52
Bartimeus adalah seorang yang buta, dan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dunia kuno adalah tempat yang kejam dan bahkan tanpa belas kasihan bagi para penyandang disabilitas. Dalam beberapa budaya kuno, bayi yang lahir dengan ketidaksempurnaan fisik akan ditinggalkan di hutan atau dibuang ke jurang. Mereka dikutuk dan akan membawa kutukan bagi orang-orang di sekitarnya. Jika penyandang disabilitas selamat dari masa kanak-kanak, mereka akan terus terpinggirkan, dirundung dan diejek. Bartimeus mengemis, dan itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk bertahan hidup. Gerbang kota Yerikho adalah tempat yang ideal karena banyak orang yang akan melintasi jalan ini.
Namun, meskipun buta dan miskin, Bartimeus adalah orang pertama yang menyebut Yesus sebagai Putra Daud. Gelar “Putra Daud” adalah unik karena beberapa nubuat penting dalam Perjanjian Lama berbicara tentang putra Daud. Salah satu yang terkenal adalah dari 2 Samuel 7, yang mengatakan bahwa Allah akan menegakkan kerajaan putra Daud untuk selama-lamanya (ay.13). Nubuat serupa juga dapat ditemukan dalam Yesaya 9:6-7 dan Yeremia 23:5-6.
Jauh di dalam hatinya, Bartimeus tahu bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat ini. Bartimeus tahu Dia adalah Raja Israel untuk selama-lamanya. Ironisnya, tidak ada murid lain yang memanggil Yesus dengan gelar penting ini. Dibutuhkan seorang yang buta untuk melihat kebenaran. Kemudian, Yesus membenarkan pengakuan Bartimeus dan memberinya mukjizat penglihatan. Kisah ini diakhiri dengan Bartimeus yang mengikuti Yesus. Mungkin inilah alasan mengapa Markus dapat menulis kisah Bartimeus. Ia tetap menjadi pengikut Yesus bahkan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan namanya dikenal oleh Gereja awal.
Bartimeus adalah salah satu dari sedikit tokoh yang mengakui identitas Yesus yang sebenarnya dalam Injil Markus. Ironisnya, tokoh-tokoh ini bukanlah pengikut Yesus. Roh-roh jahat menyebut Yesus sebagai ‘yang kudus dari Allah’ (Mrk. 1:24). Perwira Romawi, musuh orang Yahudi, mengakui Yesus sebagai Anak Allah (15:39). Perempuan dari Siria, tentunya bukan putri Israel, memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan (7:28). Satu-satunya murid yang mengakui identitas Yesus adalah Simon Petrus ketika ia mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (8:29). Namun, Petrus juga gagal memahami apa yang ia akui ketika Yesus menegurnya karena ia memiliki pemahaman yang salah tentang identitas sebagai Mesias.
Melalui Bartimeus dan tokoh-tokoh lainnya, Markus memberi kita sebuah pelajaran penting. Ya, kita adalah pengikut Kristus. Ya, kita dibaptis. Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, itu tidak berarti kita melihat siapa Yesus. Meskipun Bartimeus buta secara fisik, ia memiliki iman yang memampukannya untuk melihat siapa Yesus sebenarnya, dan hal ini menyelamatkannya. Kita mungkin memiliki mata fisik yang sehat, tetapi apakah kita memiliki iman yang benar untuk melihat Yesus dan mengikuti-Nya?
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan refleksi:
Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Allah, tetapi apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau malah kita menyembah ilah-ilah lain seperti uang, kesenangan, dan ketenaran? Kita mungkin mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja, tetapi apakah kita hidup sesuai dengan perkataan dan perintah Raja kita, atau malah apakah kita hanya melakukan apa pun yang ingin kita lakukan? Kita mengakui Yesus sebagai Juruselamat kita, tetapi apakah kita hidup sebagai orang yang telah diselamatkan dan ditebus, atau malah apakah kita masih diperbudak oleh dosa-dosa?
Fr Agustinus Sutiono O.Carm
Some people told Jesus about the Galileans whose blood Pilate had mingled with the blood of their sacrifices. We do not know what was the purpose of reporting that news to Jesus. Probably, they wanted to remind Jesus to be careful to the cruelty of Pilate due to the fact that Jesus too was originally from the same región. However, looking at the response given by Jesus, we can think that Jesus revised their thought about stereotyping others as full of sin. To think in that way, they wanted to highlight that the people of Galilea, including Jesus himself, were sinful. The reality of suffering, sadness and misery, according to this people, were evidence of the existing sin. In another Word they wanted to convey a message to Jesus himself: “Preach to your self and your people”. That was a subtle rejection.
Jesus caught the intention and addressed it wisely, saying: “Do you think that because these Galileans suffered in this way they were greater sinners than all other Galileans? By no means! But I tell you, if you do not repent, you will all perish as they did! Or those eighteen people who were killed when the tower at Siloam fell on them, do you think they were more guilty
than everyone else who lived in Jerusalem? By no means! But I tell you, if you do not repent,
you will all perish as they did!” There might be connection between misery or sufferings or misfortune to the reality of sin. However, Jesus did not emphasize it. Instead, we are to be aware of our own sin when we find before our eyes that other people experience something bad in their life. We are not to call to judge others as sinful, rather, we are to be vigilant to our own failings and not proceed with our stubborness.
Jesus suffered a lot and so did the saints. They were no immune from sufferings, problems, and bitterness. There were so many examples: The pious Job, Paul, the apostles, Saint Bernadette, Saint John of the Cross, and many others. Sufferings, misfortunes, difficulties or problems may come and go in our life. But they are not to be seen as signs of the many sins that someone may have. If they happen to others, they are not to let us judge others as sinful but they may become a reminder for us to repent. If they happen to ourselves, they are not a moment for us to show anger and dissapointment to God, but they are signs for us to come closer to God who will help us see clearly what may be his will on those saddening situation. God gives us a chance to revise our way of living and always expects us to yield a good fruit. A sinner is someone who is in a state of being incapable of yielding good fruit of love and good spirit. Thus, a call to repent means a call to cultivate the ground of our heart, fertilise it with the words of God and yield good deeds.
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Marianus Siriakus Ndolu O.Carm
(Luk 12: 52-59)
Yesus berkata kepada orang banyak: “Apabila kalian melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, “akan datang hujan”. Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, “hari akan panas terik”. Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini? (Luk 12: 54-56).
Yesus menyampaikan sesuatu yang merupakan pengalaman manusiawi kita yang biasa yaitu melihat alam dan membaca tanda-tandanya. Tanda-tanda alam memberikan kepada kita sebuah pesan tertentu. Dalam cara ini Yesus merujuk kepada apa yang disebut kontemplasi alam .
Hanya saja orang banyak itu tidak tahu membaca tanda-tanda alam dan menilai situasi zamannya. Padahal melalui alam dan situasi zaman Allah menyampaikan pesan-pesan dan kehendak-Nya. Itulah sebabnya mengapa St Agustinus, umpamanya, mengatakan bahwa alam-ciptaan adalah buku pertama yang Allah tulis. Dan baru kemudian buku kedua-nya adalah Kitab Suci. Melalui alam, Allah berbicara.
St Yohanes XXIII mendapatkan inspirasi dari kata-kata Yesus ini ketika ia mendorong Gereja untuk membaca tanda-tanda zaman dan lebih mampu merasakan panggilan Allah dalam setiap peristiwa kehidupan kita. Namun mengapa kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman? Dosa rupanya telah membingungkan tulisan-tulisan buku alam sehingga kita tidak mampu membaca pesan-pesan Allah yang tertera dalam alam dan dalam kenyataan hidup kita setiap hari.
Hati yang hening dan tenang, hati yang murni yang tidak dikacaukan oleh dosa, akan mampu menangkap tanda -tanda alam dan tanda-tanda zaman serta realitas kehidupan sehari-hari. Di dalam hati yang demikianlah, alam dan kehidupan ini berbicara lantang tentang kasih Allah dan tentang pesan-pesan ilahi bagi kita.
Baiklah kita belajar untuk membaca tanda-tanda zaman. Ketika kita mendengar atau membaca di Tv atau koran kita dapat merasakan panggilan Allah dalam semua fakta kehidupan ini. Mengikuti Thomas Merton, rahib trappis dan penulis rohani kenamaan, kita dapat selalu bertanya: “Tuhan, apa yang ingin Kau katakan kepadaku melalui angin ini, melalui hujan ini, melalui panas terik ini, melalui pengalaman dan peristiwa ini? Dan Tuhan akan membuka misteri kehadiran dan pesan ilahi-Nya kepada hati yang terbuka dan hati yang murni nan hening.