Browsed by
Month: November 2024

BEKERJA DENGAN SEMANGAT MELAYANI

BEKERJA DENGAN SEMANGAT MELAYANI

Fr Yusuf Dimas Caesario

Ada seorang pemilik kafe kecil yang mempunyai satu pekerja. Setiap kali pelanggan datang, si pekerja menyapa, “Selamat datang! Apa yang bisa saya bantu?” Setelah melayani dan membuat minuman, dia berkata, “Kamu sangat beruntung punya karyawan sepertiku!”

Lucunya, tiap kali dia berkata begitu, si pemilik kafe hanya tertawa kecil. Dalam hatinya, dia tahu bahwa pekerjaan ini adalah bagian dari tugas si pekerja. Jadi, mengapa harus merasa luar biasa hanya karena sudah melakukannya?

Refleksi dari Injil: Injil hari ini mengajarkan tentang sikap seorang hamba sejati. Yesus memberi gambaran sederhana tentang seorang hamba yang bekerja keras di ladang atau di dapur, lalu pulang melanjutkan pelayanannya. Bagi Yesus, sikap yang tepat adalah melayani dengan tulus tanpa mengharapkan pujian, karena itu memang tugas seorang hamba.

Kita sering kali terjebak dalam pikiran bahwa semua usaha kita pantas untuk mendapat pujian dan penghargaan. Misalnya, di pelayanan, setelah melakukan banyak hal untuk Gereja, ada perasaan yang muncul, “Kok gak ada yang bilang terima kasih ya?” Tapi Yesus ingin kita melihat melampaui perasaan itu. Belajar melayani karena cinta, bukan karena pujian.

Kadang kita ingin juga seperti artis, yang mendapat standing ovation tiap kali melakukan sesuatu yang luar biasa. Coba bayangkan, kalau setiap kali Romo selesai misa, umat langsung tepuk tangan sambil berteriak, “Luar biasa, Romo!” Lucu, kan? Tapi itulah yang sering kali kita inginkan secara tidak sadar, bukan?

Inspirasi dari Hati Seorang Pelayan: Yesus mengajak kita semua—baik Romo, suster, karyawan Gereja, maupun umat—untuk selalu kembali pada hati seorang pelayan yang rendah hati. Bayangkan seorang ibu yang memasak untuk anak-anaknya tanpa lelah. Dia tidak menunggu pujian setiap kali menyajikan makanan. Demikian pula Yesus memanggil kita untuk melayani dalam kesederhanaan hati, tanpa merasa diri “lebih” dari yang lain.

Ingat, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan untuk sekadar mendapat penghargaan dari manusia, tetapi untuk mendapatkan sukacita karena melayani Tuhan. Ketika kita bisa melakukan tugas kita dengan hati yang tulus, kita akan mengalami damai dan sukacita yang sejati. Sukacita yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari sekadar tepuk tangan atau ucapan “terima kasih.”

Doa Singkat: Doa Hati Seorang Pelayan

Ya Tuhan yang penuh kasih,
kami bersyukur atas panggilan-Mu bagi kami untuk melayani.
Berilah kami hati yang tulus dan rendah hati,
agar kami dapat bekerja dengan sukacita,
tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan.

Ajarkan kami, ya Tuhan, untuk melayani seperti Yesus, Hamba yang rendah hati dan setia, yang memberi diri-Nya dengan sepenuh hati.


Bimbinglah kami agar tetap setia, melakukan yang terbaik, dan melihat setiap tugas sebagai kesempatan mencintai-Mu dan sesama.

Amin.

Renungan berdasarkan Lukas 17:1-6

Renungan berdasarkan Lukas 17:1-6

Fr Ignasius Joko Purnomo O.Carm

  1. Saudara-saudari terkasih. Sebuah pepatah Inggris mengatakan  “To err is human – Melakukan  kesalahan itu manusiawi.”  Adalah sebuah keniscayaan bahwa dalam kehidupan ini, kita akan selalu berhadapan dengan situasi yang bisa membuat kita atau orang lain jatuh dalam dosa atau kesalahan.
  • Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan. Tetapi celakalah orang yang menyebabkannya.” Penyesatan yang dimaksudkan Yesus adalah segala sesuatu yang bisa menjauhkan kita dari kehendak Tuhan, baik itu melalui tindakan kita sendiri maupun melalui godaan yang datang dari dunia sekitar.

Yesus tidak hanya menyatakan bahwa penyesatan pasti akan ada, tetapi juga memberikan tanggung jawab kepada murid-murid-Nya agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.  Para murid dipanggil bukan hanya untuk menjadi pelajar atau pengikut yang pasif, tetapi untuk benar-benar menjalani hidup yang mencerminkan kasih, kerendahan hati, dan pengampunan Allah.  Mereka harus menyadari bahwa tindakan dan perkataan mereka dapat mempengaruhi iman dan kehidupan banyak orang.

  • Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup dengan hati-hati, menjaga kata dan tindakan kita, agar tidak menjadi alasan bagi orang lain untuk jatuh dalam dosa. Adalah menjadi batu sandungan, jika kita para murid Yesus, terlalu mudah menghakimi, penuh dengan kesombongan, pemarah dan kasar terhadap sesama. Adalah menjadi batu sandungan, jika kita sebagai murid-murid Yesus hidup dalam kemunafikan, egois, tidak memiliki kepedulian terhadap saudara-saudari kita yang lemah – miskin dan terlantar. Adalah menjadi batu sandungan, jika kita murid-murid Yesus tidak jujur, tidak bisa dipercaya, atau sering mengingkari janji; dan masih banyak lagi sikap hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani, yang bisa menjadikan kita batu sandungan bagi orang lain. Adalah menjadi batu sandungan bagi orang lain, jika kita sebagai murid-murid Yesus tidak hidup dalam kasih satu sama lain dan tidak memiliki semangat mengampuni, seberapapun sering orang melakukan kesalahan terhadap kita; sebab Tuhan telah begitu mengasihi kita yang nyata lewat mengampunan-Nya yang tiada batas.
  • Saudara-saudari terkasih. Yesus ingin agar cara hidup kita sebagai murid-murid-Nya sungguh-sungguh  dapat memberi teladan yang baik, yang mampu meneguhkan iman dan hidup lebih dekat dengan Tuhan, serta menjadi berkat bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Mari kita mohon, bimbingan dan penyertaan Tuhan senantiasa, agar hidup kita sungguh tidak menjadi batu sandungan bagi sesame; dan sebaliknya, dapat menjadi puji-pujian bagi kemuliaan nama-Nya. TuhanSemoga Tuhan memberkati kita semua.
Translate »