Aku bersaksi atas kehadiranNya di rumahku
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Marianus Siriakus Ndolu O.Carm
(Yoh 1: 29-34)
Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia..” (Yoh 1:29).
Gelar Anak Domba Allah mengingatkan kita akan peristiwa penyelamatan Allah ketika IA membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pada malam paskah pertama, darah anak domba Paskah dioleskan pada pintu-pintu rumah bagsa Israel sebagai tanda pembebasan.
“Darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah tempat kamu tinggal. Ketika Aku melihat darah itu, Aku akan melewati kamu…” (Kel 12:13).
Dengan demikian Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai darah Anak Domba yang menyelamatkan umat manusia dari maut sebagaimana dialami orang Israel pada malam paskah pertama itu. Dan itu berarti Yesus adalah penyelamat umat manusia dari dosa dan maut, dari kematian kekal. Betapa kita berutang budi kepada darah mulia Tuhan kita Yesus Kristus yang telah ditumpahkan bagi penyelamatan kita.
Doa kita sekarang adalah agar Tuhan menyentuh hati kita untuk semakin mencintai Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menyelamatkan kita dari kematian kekal. Dan cinta kita kepada Sang Anak Domba Allah terungkapkan dalam hidup harian kita yang semakin serupa dengan hidup Yesus sendiri: mencintai Bapa dan mengasihi manusia.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Renungan, 02 Januari 2025
Yohanes 1:19-28
Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm
PEMBUKA
Sejak dikandung Elisabet, Yohanes telah disertai tanda-tanda heran. Ketika dewasa, ia tampil memukau dengan suara menggelegar untuk memersiapkan kedatangan Mesias. Saat banyak orang mengira dirinya mesias, dengan rendah hati ia menunjuk Yesus sebagai tokoh sentral keselamatan. Akhirnya, ia mati dengan dipenggal kepalanya.
Yesus pernah menyebut Yohanes Pembaptis sebagai nabi terbesar dalam sejarah. Kebesarannya bukan karena kehebatannya, tetapi oleh karena pengenalannya akan Yesus yang sempurna sebagai Mesias. Dari situ, ia lantas mampu menjadi pewarta tentang ke-Allah-an Yesus. Ketika banyak orang merindukan datangnya Mesias, ia menarik semua orang dengan kata dan tindakan untuk diserahkan kepada Yesus. Begitu Yesus telah aktif di khalayak, ia pelan-pelan mundur dengan rendah hati.
Orang yang mengenal Tuhan secara tepat, ia bisa memosisikan dirinya di hadapan Tuhan secara tepat pula. Ketika banyak orang menganggap dirinya Mesias, Yohanes berkata, “Membuka tali kasut-Nya pun, aku tidak layak!” Membuka tali kasut adalah pekerjaan seorang budak. Maka, kita bisa melihat betapa rendah hatinya Yohanes. Justru karena itu, Yohanes melonjak kegirangan dan tidak pernah lelah dalam mewartakan Yesus sebagai Mesias. Ketika mengalami keraguan, dari penjara ia mengutus muridnya untuk bertanya kepada-Nya tentang Mesias. Akhirnya, meski mati secara keji, ia diteguhkan oleh yang dilihatnya, yakni Yesus, Sang Mesias.
Hari ini Gereja merayakan dua tokoh besar, yakni Basilius dan Gregorius. Mereka berdua dengan tegas melawan bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam tindakan yang nyata, mereka hidup dengan cara yang saling melengkapi. Basilius yang lembut dan murah hati menampilkan belas kasih Allah. Ia selalu siap menolong orang miskin. “Berikanlah makanan terakhirmu kepada orang miskin yang mengetuk pintumu” demikian nasihatnya. Demikian Gregorius, dia seorang pengkotbah yang ulung. Dengan kotbah dan tulisannya, banyak orang bertobat. Bahkan, ada satu orang pemuda yang hendak membunuhnya juga bertobat.
PENUTUP
Natal, Yesus lahir sebagai manusia, tinggal dalam hati kita juga mesti kita wartakan kepada banyak orang. Melalui kita yang telah ditebus, Tuhan berkenan diwartakan seturut tugas kita masing-masing. Kita dipanggil untuk mengenalkan Yesus kepada dunia melalui kelembutan, kebaikan, dan kerendahan hati.