Browsed by
Month: April 2025

Senin dalam Pekan Suci

Senin dalam Pekan Suci

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
14 April 2025
Yes 42: 1-7 + Mzm 27 + Yoh 12: 1-11

Lectio
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Meditatio
‘Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku’. Inilah pemaknaan Yesus terhadap tindakan yang Maria, saudari Lazarus, yang membasuh kakiNya dengan minyak narwastu dan menyeka dengan rambutnya. Mengapa Yesus memaknainya seperti itu? Atau memang Maria sungguh tahu akan apa yang terjadi pada Tokoh yang dipuja-pujinya itu?
Waktu akan dimakamkan, adakah orang yang mengurapi jenasah Yesus dengan rempah-rempah? Maria Magdalena pun gagal mengurapi jenasah Yesus, karena memang Dia sudah bangkit pada waktu itu. Apakah Yesus merasakan dan memaknai sungguh bahwa keberangkatanNya esok hari dipersiapkan oleh Maria? Keberangkatan ke Yerusalem adalah proses pemuliaan Yesus oleh Bapa. Maria mempersiapkan dan memberangkatkanNya, dan orang-orang Yerusalem menyambutNya dengan penuh sukacita.
Tindakan Maria juga mengingatkan kita semua, bahwasannya segala tindakan akan sungguh berguna dan mendatangkan keselamatan, bila memang kita satukan dan kita persembahkan kepada Tuhan. Perhatian kita terhadap yang miskin dan melarat, tetapi tidak kita persembahkan kepadaNya, maka tindakan tersebut hanya sebatas mendatangkan pujian dari orang-orang yang ada di sekitar kita, tetapi tidak mendatangkan berkat keselamatan daripadaNya. Keberanian kita menyatukan segala karya dan tindakan kepada Tuhan adalah salah satu bentuk salib tersendiri bagi kita.
Memanggul salib adalah cara satu-satunya yang dilakukan Yesus untuk ditinggikan di salib. Tak mungkin, Yesus tiba-tiba ditinggikan di salib, tanpa harus memanggul salib, yang dipakai Allah Bapa, untuk meninggikan diriNya. ‘Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa’ (Yes 42: 6). Yesus adalah Sakramen keselamatan Allah. Memanggul salib adalah keharusan bagi Yesus untuk ditinggikan di salib, dan demikian juga bagi semua orang yang percaya dan mengikuti diriNya. Barangsiapa mau mengikuti Aku, harus berani memanggul salib, menyangkal diri dan mengikut Aku.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memangul salib hanya demi keselamatan kami. Maria telah memberangkatkan Engkau. Semoga kami pun semakin menaruh hati kepadaMu dalam setiap langkah hidup kami sebagaimana dicontohkan Maria, dan siap memanggul salib seperti Engkau sendiri. Amin.

Contemplatio
‘Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku’.

Yesus, Bukan Raja Biasa

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Translate »