Aneka tantangan memurnikan iman
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
(Kis. 15:1-2.22-29; Why. 21:10-14.22-25; Yoh. 14: 23-29)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan perintah untuk saling mengasihi. Setiap mereka yang mengasihi itu berarti ikut ambil bagian dalam perutusan sebagai anak-anak Allah. Mengasihi sama dengan membawa berkat. Kali ini Yesus menghibur kita dengan kata-kata yang sangat indah, sungguh menegguhkan dan menyejukkan hati.
Dia menjanjikan seorang Penolong yang akan menghibur kita. Yesus mengawali janjiNya dengan berkata, “Barang siapa mengasihi Aku, akan menepati SabdaKu… Barang siapa tidak mengasihi Aku, tidak menuruti firmanKu”. Janji Yesus ini dia berikan agar kepergianNya tidak menimbulkan rasa kehilangan melainkan kedamaian.
Penolong itu akan menyertai kita, akan mengajarkan segala sesuatu dan menuntun kita pada seluruh kebenaran. Sang Penolong yang dijanjikan oleh Yesus akan menyingkapkan seluruh rahasia Bapa dan memberikan kesaksian tentang diri-Nya. Cara Penolong menuntun kita tidak lagi dengan menggunakan kata-kata verbal, tetapi dengan berdiam di dalam kita. Dalam hati kitalah Penolong berdiam, menggemakan bisikan “jangan”, bahkah akan mengusik terus-menerus batin kita jika kita hendak menyimpang dari Firman Allah. Penolong itu akan menggemakan kata “ayo, lakukan!” jika kita mau melaksanakan Firman atau berbuat baik. Penolong itu akan mendorong kita untuk mengatakan “Ya” jika memang “ya” dan mengatakan “tidak” jika memang kenyataannya “tidak”. Sebab selebihnya berasal dari si jahat. Dia juga mendorong kita untuk bersikap jujur terhadap siapa pun, baik terhadap Tuhan, sesama maupun diri sendiri. Dia benar-benar menjadi pembela kita untuk tidak terjerumus oleh roh jahat ke dalam usaha penyesatannya. Namun gemanya kerap kali nyaris tak terdengar oleh hiruk pikuk dunia batin kita yang kacau. Akan tetapi tidak jarang pula Ia begitu kuat menggoncang-goncang hati kita, kala kita bersikeras untuk melakukan sesuatu kejahatan, terutama jika kejahatan itu baru pertama kali kita lakukan. Jantung kita akan berdebar lebih keras dan berdetak lebih cepat dari biasanya. Kita akan diliputi keragu-raguan
besar, tangan kita gemetar dan mata kita menjadi merah, keringat dingin mengucuri punggung dan seluruh badan kita.
Saat-saat kita selesai berbuat baik, kita tidak akan dapat menyangkal bahwa Penolong menyusupkan kedamaian dalam batin kita dan kekuatan yang tak terlukiskan dalam diri kita untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Intuisi kita bergema kuat bahwa kedamaian dan kekuatan itu bukan berasal dari diri kita sendiri. Kalau toh suatu kali kita mengalami kekeringan, mengalami bahwa hidup kita terasa hampa, segala yang kita lakukan seperti tidak berarti lagi, kita akan tetap merasakan bahwa di dasar hati kita ada sesuatu yang tertingal dan mengendap yang menjadi semacam fondasi yang menguatkan kita untuk tetap percaya kepada Allah yang tidak sepenuhnya kita mengerti misteri-Nya. Penolong akan membuat mata hati kita melihat bahwa dunia ini begitu indah jika dilihat sebagai lahan yang luas untuk dapat berkiprah dalam banyak kebajikan, menolong sebanyak mungkin orang, sebagaimana peranan Penolong itu sendiri. Kita akan selalu diusik oleh pertanyaan ini: “Apa yang dapat kubuat untuk membahagiakan sesamaku sebagai baktiku pada Allah?”. Kita selalu didorong untuk ingin mempersembahkan yang terbaik bagi orang lain. Kita diusik untuk terus-menerus menjadi pewarna yang indah bagi dunia ini, sehingga kehadiran kita sungguh membawa sukacita, kegembiraan dan sumber kedamaian bagi sesama yang kita jumpai. Penolong menyadarkan kita bahwa Allah menciptakan kita bukan sekedar untuk ada, memenuhi bumi ini, tetapi untuk ada dan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Betapa indahnya Penolong itu. Orang tidak mungkin akan sesat bila mendengarkan suara-Nya. Oleh karena itu agar suara-Nya selalu terdengar di hati kita, kita bisa memelihara-Nya dengan doa, membaca Kitab Suci, dengan tak henti-hentinya berpikir positif, berbicara dan berbuat baik. Semakin kita menyediakan diri untuk hal-hal positif ini, maka semakin terang dan jernih suara Penolong dalam hati kita. Sebaliknya gema Penolong akan makin hilang, redup, tak terdengar jika kita terus-terusan menentang-Nya, menyingkirkan kehadiran-Nya dengan pikiran, perkataan, niat dan perbuatan yang jahat. Jangan lupa Yesus menegaskan bahwa dosa melawan Penolong secara terus-menerus adalah dosa yang tidak akan diampuni, sebab Penolong itu adalah Roh Kudus (Mat 12:31). Mengapa demikian? Karena Penolong dimiliki oleh setiap orang
yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Jadi Dialah yang menjadi pusat penggerak hidup kita. Dialah yang memberi kita kemampuan dan kejujuran untuk menangkap wahyu dari dalam hati kita masing-masing. Yang diperlukan sekarang adalah kehendak untuk mau dibimbing oleh gema suara hatinya, yaitu gema Roh Kudus itu sendiri. Semoga kita masing-masing menyediakan tempat yang terbaik dalam hati kita untuk Penolong berkarya membaharui terus hati dan pikiran kita, melalui ketekunan berdoa, membaca dan merenungkan KS, melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Ignatius Adam Suncoko
RENUNGAN LUBUK HATI
Jumat 23 Mei 2025
Hari Biasa Pekan Paskah V
Kis 15:22-31, Yoh 15:12-17
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku tidak menyebut kamu hamba. Aku menyebut kamu sahabat”. Setelah Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai sebuah tindakan persahabatan yang sangat kuat. Yesus menunjukkan kepada para muridNya bagaimana makna sabahat yang begitu mendalam. Yesus membasuh kaki mereka hanyalah sebagian dari ekspresi persahabatannya, masih ada tindakan yang lebih kuat untuk mereka pada hari berikutnya, yakni Yesus akan menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya.
Yesus tidak membasuh kaki kita, tetapi Dia telah memberikan nyawa-Nya untuk kita semua. Kita semua dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku hidup oleh iman dalam Anak Allah yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Yesus telah menjadi sahabat kita masing-masing dengan cara yang luar biasa ini. Seperti yang Yesus katakan dalam bacaan Injil: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Yesus telah memberi kepada kita masing-masing karunia persahabatan-Nya. Yesus menjadi sahabat seperjalanan hidup kita dalam situasi dan kondisi apapun! Semoga pengalaman persahabatan dengan Yesus, meneguhkan dan menguatkan persabahatan kita dengan siapa saja yang menjadi bagian hidup kita. Mari kita mengasihi sahabat-sahabat kita, seperti Yesus telah mengasihi kita sebagai sahabatNya. Persahabatan adalah obat untuk hati yang terluka dan vitamin jiwa yang penuh harapan. Tuhan memberkati.
Pergi ke stasi lewat rawa-rawa
Jangan lupa bekal roti canai
Persahabatan adalah vitamin jiwa
Jalani, nikmati dan maknai.