Browsed by
Month: May 2025

RENUNGAN 15 MEI 2025

RENUNGAN 15 MEI 2025


Kis 13:13-25; Yoh: 13:16-20

Seorang pekerja atau pelayan sering berada pada posisi yang rendah daripada pemberi kerja. Mereka bekerja atas perintah kerja dan sangat diharapkan taat setia pada peraturan kerja yang berlaku. Apabila mereka tidak mengikuti aturan yang berlaku, maka mereka dianggap melakukan penyimpangan atau pelanggaran kerja. Dalam dunia kerja hal ini sangat terasa sekali. Oleh karena itu, setiap pekerja berusaha menunjukkan sikap perilaku dan kemampuannya dalam bekerja.

Hari ini bertepatan dengan perayaan 134 tahun dikeluarkannya ENCYCLICAL OF POPE LEO XIII ON CAPITAL AND LABOR, pada tanggal 15 Mei 1891. Paus Leo XIII dalam Ensiklik Rerum Novarum membahas situasi para pekerja dan dan masalah sosial yang muncul akibat revolusi industri. Setiap pekerja dan pemberi kerja harus diperlakukan dengan adil dan mendapatkan haknya demi keadilan sosial, dan terjalin komunikasi yang harmonis dari kedua belah pihak. Setiap anggota gereja turut berperan aktif menyuarakan dan melaksanakan ensiklik ini dalam dunia kerja, sehingga tercipta keadilan sosial yang dicita-citakan.

Di dalam Injil yang ktia renungkan hari ini, Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan yang sangat mengejutkan, karena hal itu hanya dilakukan oleh seorang pekerja atau pelayan. Seorang tuan rumah tidak mungkin melakukan bagi para tamunya atau pada pelayannya sendiri. Kitapun mungkin tidak akan melakukannya pada para pekerja di rumah atau tempat kita bekerja. Sebuah pekerjaan yang kita anggap paling rendah dan tak sedap dipandang mata.

Melalui pembasuhan kaki para murid, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa betapa setiap manusia bermartabat dan pekerjaan yang dilakukan adalah baik. Yesus mengambil bagian pada pekerjaan yang dianggap paling rendah dan hina.Melalui cara ini, Ia menunjukkan sikap rendah hati dan lemah lembut pada para rasul dan orang yang mengikuti-Nya. Jika Yesus Sang Guru melakukan pekerjaan yang paling hina, maka tidak ada jalan lain bagi para rasul untuk melakukannya juga pada setiap orang. Mereka dipanggil untuk melayani satu sama lain dengan sikap rendah hati dan lemah lembut.

Kerendahan hati dan lemah lembut adalah suatu tindakan yang berulangkali diajarkan oleh Yesus. Yesus ingin para rasul dan pengikut-Nya tidak hanya mengerti kata-kata-Nya dan firman-Nya, tetapi melaksanakannya dalam hidup konkrit. Orang yang melakukan firman-Nya dalam hidup sehari-hari adalah orang yang Bahagia. Bahagia boleh bersatu dengan Yesus dalam kata-kata, pikiran dan perasaan. Orang demikian telah berubah karena Yesus dan berbuah dalam hidupnya yang dapat dirasakan orang banyak.

Kita tak pernah berhenti belajar dari Yesus Kristus. Dia mengutus para rasul bagi karya pewartaan. Setiap orang yang menerima pewartaan para rasul dan penerusnya, maka dia menerima Tuhan Yesus sendiri. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus berasal dari Allah Bapa. Yesus meneruskan ajaran-Nya kepada para rasul sampai kepada kita hari ini. Setiap pekerjaan adalah luhur dan baik untuk memuliakan Tuhan dan sesama. Tuhan Yesus memberkati setiap usaha pekerjaan kita masing-masing. (rm. albertus medyanto, o.carm)

Kasih yang Tetap Hadir dalam Luka

Kasih yang Tetap Hadir dalam Luka

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Renungan: Kasih yang Tetap Hadir dalam Luka
(Yohanes 15:9–17 | 14 Mei )

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”(Yohanes 15:13)

Bagi banyak orang di Jakarta, tanggal 14 Mei 1998 menyimpan memori yang getir. Hari itu adalah salah satu titik gelap dalam sejarah Indonesia, ketika kerusuhan politik dan sosial menelan banyak korban dan menorehkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, di antara kekacauan, muncul juga kisah-kisah kasih yang tidak tercatat: mereka yang memilih untuk melindungi tetangganya, membantu orang asing, bahkan menanggung risiko demi menyelamatkan hidup sesama. Tidak ada yang hebat secara lahiriah—semuanya terjadi dalam diam, tapi nyata.

Peru pun pernah mengalami saat-saat serupa, terutama pada masa konflik internal di era 1980–1990-an. Di tengah kekerasan antara kelompok gerilya dan aparat negara, masyarakat biasa menjadi korban yang terlupakan. Namun seperti halnya di tempat lain, justru dalam situasi genting itu muncul tindakan-tindakan kasih yang tak terlihat oleh sorotan media: seorang ibu yang menyembunyikan anak orang lain di rumahnya, seorang guru yang tetap mengajar meski hidup dalam ancaman, seorang imam desa yang tidak pergi saat yang lain lari.

Yesus menyebut bahwa kasih terbesar adalah kasih yang memberi nyawa bagi sahabat. Bukan hanya tentang mati secara harfiah, tetapi tentang keterbukaan untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain—bahkan ketika tidak ada jaminan akan dipahami, diterima, atau dibalas. Di dalam kasih seperti ini, tidak ada lagi batas antara “aku” dan “kamu”, antara penderitaan orang lain dan diriku sendiri. Yang ada hanyalah satu realitas: kehadiran yang utuh, tanpa syarat, tanpa motif tersembunyi.

Bulan Mei dikenal oleh umat sebagai Bulan Maria, Bunda yang kehadirannya tidak pernah memaksa atau mengambil alih, tetapi selalu setia. Ia berdiri di kaki salib bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan untuk menyertai. Kasihnya tidak berbentuk perlindungan dari penderitaan, tapi menjadi ruang tenang di tengah penderitaan. Dalam dirinya, kasih bukan sesuatu yang dikatakan, melainkan dijalani—dengan utuh, dengan tenang, tanpa perlu dipisah-pisahkan dari peristiwa apa pun yang sedang terjadi.

Kita hidup di dunia yang terbiasa memberi label: terang-gelap, benar-salah, baik-jahat. Tapi kasih seperti yang ditunjukkan Yesus, dan seperti yang dijalani oleh Maria, hadir tanpa perlu dikotak-kotakkan. Ia tidak memilih waktu atau tempat yang sempurna. Ia ada di tengah kekacauan, di tengah peristiwa yang tampaknya tanpa harapan. Di situ, kasih tetap bekerja—diam-diam, namun tidak bisa disangkal.

Maka hari ini, dalam mengenang sejarah yang menyakitkan dan menyambut bulan yang penuh kelembutan, kita diajak untuk masuk ke dalam cara hidup yang tidak terbagi-bagi. Bahwa kasih bukanlah reaksi, tapi cara berada. Dan bahwa memberi nyawa untuk sahabat bukanlah tindakan ekstrem semata, tapi keputusan sederhana untuk tetap tinggal, tetap peduli, dan tetap hadir—dalam siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Relasi Berkualitas

Relasi Berkualitas

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Yoh 10:22-30

Selasa, 13 Mei 2025

Rumi berkata, “Cinta adalah jembatan antara kamu dan segalanya.” Pernyataan tersebut mengingatkan kita akan Paus Fransiskus dan juga penerus beliau, Paus Leo XIV yang mengajak kita untuk membangun jembatan, relasi, dan bukan membangun tembok. Sebab masih banyak orang lebih tertarik membangun tembok daripada membangun jembatan relasi. Mengapa demikian? Karena kebanyakan orang tidak mau repot, bahkan untuk kepentingannya sendiri.

Orang-orang Yahudi yang berhadapan dengan Yesus selalu  membangun tembok, dan bukan membangun jembatan. Akibatnya terjadi sekat pemisah antara mereka dengan Yesus. Segala sesuatu yang dikatakan Yesus selalu terpental, tidak sampai kepada mereka, sebagaimana difirmankan-Nya, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” [Yoh 10: 25-26]. Bagi  Yesus, sebagaian orang Yahudi tidak mau percaya kepada-Nya karena mereka bukan domba-domba-Nya. Sebaliknya mereka yang termasuk domba-domba-Nya mengenal-Nya, dan percaya  kepada-Nya sebagai Mesias yang diutus Allah. Yesus menyatakan kembali kedekatan relasi antara gembala dan domba. Gembala pasti mengenal domba, dan sebaliknya domba mengenal gembalanya. Sang gembala akan menjaganya dengan baik sehingga selamat , sebagaimana difirmankan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku“ [Yoh 10:27-28].

Tuhan Yesus bersabda, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” [Mat 7:21]. Kita mengaku sebagai orang yang mengimani Yesus. Apakah kita memiliki relasi yang berkualitas dengan Yesus? Apakah kita sungguh termasuk dalam kawanan domba-Nya? Apakah kita sungguh mengenal Dia?  Sejauh mana kita telah mengenal dan mengikuti-Nya? Apakah tanda atau buktinya bahwa kita adalah kawanan dombaNya?

Translate »