Kasih yang Tetap Hadir dalam Luka
Rm Agung Wahyudianto O.Carm
Renungan: Kasih yang Tetap Hadir dalam Luka
(Yohanes 15:9–17 | 14 Mei )
“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”(Yohanes 15:13)
Bagi banyak orang di Jakarta, tanggal 14 Mei 1998 menyimpan memori yang getir. Hari itu adalah salah satu titik gelap dalam sejarah Indonesia, ketika kerusuhan politik dan sosial menelan banyak korban dan menorehkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, di antara kekacauan, muncul juga kisah-kisah kasih yang tidak tercatat: mereka yang memilih untuk melindungi tetangganya, membantu orang asing, bahkan menanggung risiko demi menyelamatkan hidup sesama. Tidak ada yang hebat secara lahiriah—semuanya terjadi dalam diam, tapi nyata.
Peru pun pernah mengalami saat-saat serupa, terutama pada masa konflik internal di era 1980–1990-an. Di tengah kekerasan antara kelompok gerilya dan aparat negara, masyarakat biasa menjadi korban yang terlupakan. Namun seperti halnya di tempat lain, justru dalam situasi genting itu muncul tindakan-tindakan kasih yang tak terlihat oleh sorotan media: seorang ibu yang menyembunyikan anak orang lain di rumahnya, seorang guru yang tetap mengajar meski hidup dalam ancaman, seorang imam desa yang tidak pergi saat yang lain lari.
Yesus menyebut bahwa kasih terbesar adalah kasih yang memberi nyawa bagi sahabat. Bukan hanya tentang mati secara harfiah, tetapi tentang keterbukaan untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain—bahkan ketika tidak ada jaminan akan dipahami, diterima, atau dibalas. Di dalam kasih seperti ini, tidak ada lagi batas antara “aku” dan “kamu”, antara penderitaan orang lain dan diriku sendiri. Yang ada hanyalah satu realitas: kehadiran yang utuh, tanpa syarat, tanpa motif tersembunyi.
Bulan Mei dikenal oleh umat sebagai Bulan Maria, Bunda yang kehadirannya tidak pernah memaksa atau mengambil alih, tetapi selalu setia. Ia berdiri di kaki salib bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan untuk menyertai. Kasihnya tidak berbentuk perlindungan dari penderitaan, tapi menjadi ruang tenang di tengah penderitaan. Dalam dirinya, kasih bukan sesuatu yang dikatakan, melainkan dijalani—dengan utuh, dengan tenang, tanpa perlu dipisah-pisahkan dari peristiwa apa pun yang sedang terjadi.
Kita hidup di dunia yang terbiasa memberi label: terang-gelap, benar-salah, baik-jahat. Tapi kasih seperti yang ditunjukkan Yesus, dan seperti yang dijalani oleh Maria, hadir tanpa perlu dikotak-kotakkan. Ia tidak memilih waktu atau tempat yang sempurna. Ia ada di tengah kekacauan, di tengah peristiwa yang tampaknya tanpa harapan. Di situ, kasih tetap bekerja—diam-diam, namun tidak bisa disangkal.
Maka hari ini, dalam mengenang sejarah yang menyakitkan dan menyambut bulan yang penuh kelembutan, kita diajak untuk masuk ke dalam cara hidup yang tidak terbagi-bagi. Bahwa kasih bukanlah reaksi, tapi cara berada. Dan bahwa memberi nyawa untuk sahabat bukanlah tindakan ekstrem semata, tapi keputusan sederhana untuk tetap tinggal, tetap peduli, dan tetap hadir—dalam siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.