Membawa kabar sukacita bagi sesama
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Agung Wahyudianto O.Carm
(Matius 10:7–13 | 11 Juni 2025 Peringatan Santo Barnabas Rasul
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:8b)
Dalam masyarakat Andes, ada satu praktik yang terus hidup hingga hari ini—minka. Bukan sekadar gotong royong, minka adalah tindakan bersama yang dilakukan tanpa perhitungan imbalan. Ketika satu keluarga membangun rumah, menanam ladang, atau menghadapi kesulitan, seluruh komunitas datang membantu. Tidak ada kontrak, tidak ada upah. Semuanya datang memberi waktu, tenaga, dan kehadiran, karena apa yang dimiliki satu orang dianggap sebagai bagian dari keseluruhan.
Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan pesan yang sederhana tapi penuh daya: “Beritakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat… Sembuhkan, bangkitkan, bersihkan, usir roh jahat… Kalian telah menerima semuanya dengan cuma-cuma, berikanlah dengan cuma-cuma juga.” Di sini, tidak ada transaksi. Tidak ada pembatas antara siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Yang ada hanyalah aliran kasih, seperti dalam minka, yang bergerak bukan dari keinginan untuk mengubah orang lain, tapi dari kesadaran bahwa tidak ada pemisahan sejati antara kita.
Santo Barnabas disebut sebagai “anak penghiburan”. υἱὸς παρακλήσεως . Ia bukan pewarta yang menonjol karena khotbah-khotbah besar, melainkan karena kehadirannya membawa damai. Ia tahu bagaimana hadir bersama orang lain tanpa tergesa-gesa mengubah mereka. Dalam perjumpaan, ia tidak memaksakan kebenaran dari luar, tetapi membantu orang lain menemukan terang yang sudah ada di dalam diri mereka. Seperti dalam pengutusan para murid, Barnabas memberi bukan sebagai tindakan yang terpisah, tetapi sebagai kelanjutan dari sesuatu yang telah ia terima dan alami.
Dalam pendekatan ini, memberi bukanlah aktivitas yang dilakukan “dari luar ke dalam”, tetapi muncul dari kesadaran bahwa hidup, kasih, dan bahkan penyembuhan bukan milik siapa pun. Mereka hanya bisa mengalir melalui orang-orang yang tidak lagi merasa harus memiliki atau mengontrol. Di sinilah letak kebebasan rohani: ketika kita memberi tanpa agenda, mengunjungi tanpa menuntut perubahan, dan hadir tanpa memisahkan antara siapa yang menolong dan siapa yang ditolong.
Yesus berkata: “Jika rumah itu layak menerimanya, damai sejahtera turun atasnya. Jika tidak, damai itu kembali kepadamu.” Artinya, damai tidak pernah hilang. Kasih yang sejati tidak tergantung pada hasil, karena ia bukan reaksi, melainkan cara hidup. Sama seperti dalam minka, ketika seseorang datang dan tidak memberi apa-apa sebagai imbalan, tidak ada yang merasa kehilangan. Karena kebersamaan itu sendiri sudah merupakan penyembuhan.
Hari ini, saat kita mengenang Santo Barnabas, dan mendengarkan sabda Yesus tentang memberi dengan cuma-cuma, kita diajak untuk meninggalkan cara berpikir yang memisah-misahkan: siapa yang memberi, siapa yang pantas menerima, siapa yang benar atau belum siap. Barangkali hidup rohani menjadi jernih justru ketika kita berhenti mengatur siapa yang layak menerima kasih, dan mulai melihat bahwa setiap orang sudah berada dalam jangkauan Kerajaan—bahkan sebelum kita berbicara sepatah kata pun.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rp Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm
Mat 5:13-16
Selasa, 10 Juni 2025
Pliny seorang sejarawan Romawi menegaskan, “nihil est utilius sale et sole”, artinya tidak ada yang lebih penting dari pada garam dan terang [matahari] dalam hidup dan kehidupan ini. Pada jaman kuno garam sangat berharga, bahkan pada jaman Romawi kuno, garam digunakan sebagai gaji [salary]. Sementara orang Arab menjadikan garam yang bernilai tinggi sebagai tanda kesetiaan dan ketulusan dalam persahabatan, “ada garam ada kita”. Dalam Kitab Perjanjian Lama, yakni dalam Bilangan 18:19 dan Tawarikh 13:15 ada perjanjian garam. Kenyataan tersebut menunjukkan betapa bernilainya garam.
Selain bernilai, berharga, garam juga mampu memberikan rasa enak serta memberi daya awet. Demikian pula dengan terang [matahari]. Tanpa terang mustahil ada kehidupan. Kiranya dengan latar belakang betapa pentingnya matahari dan garam bagi kehidupan itulah, Yesus menegaskan kepada para muid-Nya, “Kamu adalah garam dunia, Kamu adalah terang dunia” [Mat 5:13.14]. Dengan berkata demikian, Yesus menegaskan bahwa garam dan terang adalah jati diri seorang murid. Artinya sebagaimana matahari dan garam sangat bermanfaat, maka tidak ada yang lebih berharga daripada hidup yang berguna, bermanfaat bagi sesama di dalam masyarakat kita. Hidup yang tidak memberi manfaat, tidak berdaya guna bagaikan garam yang kehilangan rasa asinnya, bagaikan terang yang kehilangan cahayanya. Garam akan memberikan rasa asin ketika ia larut dalam masakan. Lilin menjadi bermakna ketika ia menyala dan leleh. Dengan kata lain, seorang murid Yesus berguna, bermanfaat jika berani berkorban bagi masyarakat, bagi dunia, bagi sesama.
Jika kita tidak bisa menjadi matahari atau bulan, mari kita menjadi lilin-lilin kecil dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Itulah kiranya maksud Yesus dengan mengatakan, “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” [Mat 5:16].
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm