Menjadi Berguna, Bermanfaat
Rp Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm
Mat 5:13-16
Selasa, 10 Juni 2025
Pliny seorang sejarawan Romawi menegaskan, “nihil est utilius sale et sole”, artinya tidak ada yang lebih penting dari pada garam dan terang [matahari] dalam hidup dan kehidupan ini. Pada jaman kuno garam sangat berharga, bahkan pada jaman Romawi kuno, garam digunakan sebagai gaji [salary]. Sementara orang Arab menjadikan garam yang bernilai tinggi sebagai tanda kesetiaan dan ketulusan dalam persahabatan, “ada garam ada kita”. Dalam Kitab Perjanjian Lama, yakni dalam Bilangan 18:19 dan Tawarikh 13:15 ada perjanjian garam. Kenyataan tersebut menunjukkan betapa bernilainya garam.
Selain bernilai, berharga, garam juga mampu memberikan rasa enak serta memberi daya awet. Demikian pula dengan terang [matahari]. Tanpa terang mustahil ada kehidupan. Kiranya dengan latar belakang betapa pentingnya matahari dan garam bagi kehidupan itulah, Yesus menegaskan kepada para muid-Nya, “Kamu adalah garam dunia, Kamu adalah terang dunia” [Mat 5:13.14]. Dengan berkata demikian, Yesus menegaskan bahwa garam dan terang adalah jati diri seorang murid. Artinya sebagaimana matahari dan garam sangat bermanfaat, maka tidak ada yang lebih berharga daripada hidup yang berguna, bermanfaat bagi sesama di dalam masyarakat kita. Hidup yang tidak memberi manfaat, tidak berdaya guna bagaikan garam yang kehilangan rasa asinnya, bagaikan terang yang kehilangan cahayanya. Garam akan memberikan rasa asin ketika ia larut dalam masakan. Lilin menjadi bermakna ketika ia menyala dan leleh. Dengan kata lain, seorang murid Yesus berguna, bermanfaat jika berani berkorban bagi masyarakat, bagi dunia, bagi sesama.
Jika kita tidak bisa menjadi matahari atau bulan, mari kita menjadi lilin-lilin kecil dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Itulah kiranya maksud Yesus dengan mengatakan, “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” [Mat 5:16].