Browsed by
Month: June 2025

Diselamatkan: Bukan Dikeluarkan dari Dunia

Diselamatkan: Bukan Dikeluarkan dari Dunia

Rm Yusuf Dimas Caesario

Dalam Yohanes 17:11b-19, kita diajak menguping sebuah percakapan yang sangat intim: Yesus sedang “membisiki” Bapa-Nya tentang kita. Isinya? Bukan agar kita diangkat ke surga saat itu juga, tapi agar kita “jangan dikeluarkan dari dunia, melainkan dijaga dari yang jahat.” Lho, kenapa tidak langsung diselamatkan saja? Jawabannya sederhana: surga nanti, misi sekarang.

Kalau Yesus punya WhatsApp group, namanya mungkin “Team Kudus” – isinya bukan orang-orang yang sempurna, tapi yang siap “dikuduskan dalam kebenaran.” Dunia ini ladang misi kita, bukan zona nyaman. Bayangkan kalau seorang dokter minta dipindah ke ruangan tanpa pasien karena takut tertular. Lucu, kan? Tapi kadang kita juga begitu dalam hidup rohani.

Kudus Bukan Berarti Terpisah, Tapi Terlibat

Yesus tidak minta agar murid-muridNya diambil dari dunia, tetapi dijaga dari si jahat. Artinya: menjadi kudus bukan berarti menjauh dari dunia, tapi menjadi “berbeda” di tengah dunia. Seperti ikan di laut: ia hidup di air asin, tapi dagingnya tetap tawar. Kita dipanggil untuk terlibat, bukan larut.

Dikuduskan Dalam Kebenaran, Bukan Dalam Kenyamanan

Kita sering salah kaprah: mengira kekudusan adalah hasil dari ketenangan batin, lilin, dupa yang wangi, dan retreat yang tenang. Padahal Yesus bicara tentang “kudus” dalam konteks misi. Kata “kudus” di sini berkaitan dengan perutusan. Kita dikuduskan bukan untuk pensiun rohani, tapi untuk diutus. Kebenaran bukan hanya sesuatu yang kita ketahui, tapi sesuatu yang harus kita jalani dan hidupi – bahkan ketika tidak nyaman sekalipun.

Poin Refleksi

·  Dalam kehidupan saya sehari-hari—di tempat kerja, keluarga, atau media sosial—apakah saya sungguh hadir sebagai pribadi yang “berbeda” karena iman, atau justru larut dalam arus dunia?

·  Kapan terakhir kali saya merasa tidak nyaman karena mempertahankan kebenaran Injil? Apakah saya tetap setia, atau memilih aman dan diam?

Doa Singkat:

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mendoakan kami, bukan agar lepas dari dunia, tetapi agar tetap setia di dalamnya. Kuduskanlah kami dalam kebenaran-Mu. Jadikan kami murid-murid-Mu yang hadir, bukan menghindar; yang terlibat, bukan lari; yang berbeda, bukan menjauh. Amin.

RENUNGAN: TGL. 3 JUNI 2025

RENUNGAN: TGL. 3 JUNI 2025

Rm Ignatius Joko Purnomo

        Yohanes 17:1-11a

  1. Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus.

Adalah pengalaman kita semua bahwa ketika kita harus berhadapan dengan berbagai macam kesulitan maka kita bisa merasa sedih, kecewa, marah – baik kepada diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Tuhan. Apalagi kalau kita harus berhadapan dengan penderitaan. Tidak banyak orang yang bisa memahami dan menerima penderitaan sebagai bagian dari kehidupan dan tetap tegar, bahkan menunjukkan ketabahan dan kedamaian batin yang luar biasa.

  • Injil hari ini menampilkan doa Yesus yang penuh keintiman kepada Bapa-Nya. Dalam situasi yang mengharukan – menjelang sengsara dan wafat-Nya – Yesus   tidak memohon keselamatan untuk diri-Nya sendiri, tetapi justru memuliakan Bapa-Nya. Dia berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau”. Dia juga berdoa bagi para murid-Nya sebagaimana terdapat di bagian akhir Injil, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, ……..”
  • Saudara-saudari terkasih. Kita tahu bahwa selama hidup-Nya di dunia, Yesus mengosongkan diri-Nya (bdk. Filipi 2:6-8). Ia tidak menampilkan kemuliaan ilahi-Nya secara penuh. Namun melalui ketaatan-Nya sampai mati di salib, Ia akan dimuliakan kembali. Jadi ketika Ia berkata “permuliakanlah Aku”, Ia menunjuk pada salib sebagai jalan menuju kemuliaan, dan sekaligus kepada kebangkitan dan kenaikan ke surga di mana Ia akan kembali duduk di sebelah kanan Bapa dalam kemuliaan-Nya. Lewat doa-Nya ini Yesus mengungkapkan misteri terdalam tentang siapa diri-Nya sebenar-Nya, yatiu: Dia adalah Putra Allah yang turun ke dunia demi keselamatan kita melalui penderitaan dan wafat di salib, dan kembali kepada kemuliaan-Nya yang semula bersama Bapa.
  • Saudara-saudari terkasih. Setiap orang dalam perjalanan hidupnya pasti pernah mengalami saat-saat yang berat, saat di mana hidup terasa gelap, penuh luka, kehilangan, kegagalan, atau penderitaan yang sulit dijelaskan. Saat itulah kita sedang berhadapan dengan salib. Salib bukanlah hukuman. Salib adalah bagian dari misteri kasih Allah yang memurnikan, mendewasakan, dan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dalam salib, kita bertemu dengan kelemahan kita sendiri, tetapi juga berjumpa dengan kekuatan kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Dia tidak jauh. Dia turut berjalan dan menderita bersama kita.

Salib bukan akhir. Di balik salib ada kebangkitan. Ini adalah janji iman kita: bahwa penderitaan yang dijalani bersama Kristus akan menghasilkan hidup yang baru. Justru dalam salib, kita belajar mengasihi tanpa syarat, menjadi rendah hati, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Dengan demikian, salib dalam hidup kita – penderitaan, pengorbanan, atau ketidaknyamanan – justru menjadi  jalan menuju kemuliaan Allah. 

Saudara-saudari terkasih. Mari belajar dari Yesus agar kita tidak takut dalam menghadapi salib dalam hidup kita. Mari kita mohon rahmat kekuatan dari Yesus, agar kita dapat memikut salib hidup kita bersama-Nya, dan akhirnya boleh mengalami kemuliaan bersama-Nya.  

Translate »