Hendaknya kita setia sampai akhir
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
MAT 10 : 7-15
Setiap orang Kristiani yang dibaptis menjalani tugas perutusan dari Tuhan Yesus. Baptisan yang diterima merupakan meterai kekal satu kali untuk selamanya yang tidak terhapuskan oleh apapun.
Hari ini Tuhan Yesus memberikan tugas perutusan kepada para murid. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat”. Kerajaan Sorga sudah dekat, yang merupakan proses di mana Allah mulai memerintah di dalam kehidupan manusia di dunia. Kerajaan Sorga berpuncak pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Saat ini Kerajaan Sorga sudah hadir dalam diri ornag-orang yang percaya dan taat pada Allah.
Berita tentang datangnya Kerajaan Sorga sangat mendesak untuk segera disampaikan oleh para murid kepada orang banyak pada masa itu. Berita itu tidak dapat ditunda-tunda lagi. Para murid dalam memberitakan Kerajaan Sorga diminta oleh Tuhan Yesus untuk menyediakan diri masing-masing dan hanya mengandalkan pada Allah saja. Bukan mengandalkan pada lainnya. Kerajaan Sorga harus dihadirkan dengan tindakan perbuatan nyata melalui mengusir segala roh jahat dan kuasa kegelapan, menyembuhkan orang-orang yang sakit, memberi makan dan minum pada mereka yang lapar dan haus, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta. Itulah situasi dan kondisi yang terjadi pada zamannya.
Tuhan Yesus mengingatkan pada murid bahwa mereka telah menerima kasih karunia dari Allah dengan cum-Cuma. Kini saatnya, para murid membagikan kasih karunia dan setiap rejeki kepada orang lain untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup orang banyak. Dengan cara itu, para murid menghadirkan Kerajaan Sorga di antara manusia.
Para murid yang melaksanakan pemberitaan Kerajaan Sorga, bisa saja mengalami penerimaan atau penolakan di suatu daerah. Orang banyak dapat bersukacita menerima para murid. Namun sebaliknya, orang banyak bisa juga menolak kehadiran para murid dan menyingkirkannya. Orang banyak tidak mau mendengarkan dan tidak mau menggubris apapun setiap berita keselamatan.
Setiap murid Kristus yang berjuang untuk perdamaian, keadilan, kebenaran dan keutuhan ciptaan demi kesejahteraan umum juga tidak jarang mengalami penolakan di setiap jamannya. Kadangkala menyakitkan, namun itulah konsekuensi dari kecintaan pada Tuhan Yesus.
Berita Kerajaan Sorga harus terus menerus disuarakan di jaman kita, sesuai dengan konteks tempat tinggal dan situasi hidup. Tuhan Yesus tidak akan membiarkan para pengikutNya ada dalm kesulitan terus menerus. Dia Tuhan yang akan selalu menyertai umatNya dengan berbagai cara supaya NamaNya tetap dimuliakan dan kehadiranNya dirasakan banyak orang. Tidak ada yang dapat menyurutkan semangat para murid Kristus dalam memberitakan Kerajaan Sorga.
Semoga di manapun kita berada, tidak henti-hentinya mewujudkan kehadiran Kerajaan Sorga yang adil, dalmai, sukacita, penuh belaskah dan murah hati. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (rm. Medyanto, O.Carm)
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Agung Wahyudianto O.carm
Mateo 10:1–7 | 7 Juli
Tanggal 7 Juli 2007, dunia menetapkan Machu Picchu sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru. Keputusan ini menjadi momen penting bagi Peru, karena sebuah warisan leluhur yang selama berabad-abad tersembunyi dan nyaris dilupakan, kini diakui secara global sebagai lambang sejarah, kebijaksanaan, dan keindahan yang tidak ternilai. Tapi bagi masyarakat lokal di sekitar Cusco, Machu Picchu bukan baru “ada” sejak diakui dunia. Ia telah hidup dalam diam, bertahan dalam keheningan, dan tetap menyatu dengan tanah dan langit Andes.
Injil hari ini menampilkan Yesus yang memanggil dua belas murid dan mengutus mereka: “Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.” Sama seperti Machu Picchu yang tidak dibangun untuk pamer, perutusan para murid juga bukan untuk menjadi pusat perhatian, tetapi menjadi perpanjangan kehadiran Tuhan yang selama ini telah ada—hanya perlu disadari dan disapa.
Perintah Yesus agar murid-murid pergi “kepada domba yang hilang dari umat Israel” menunjukkan bahwa misi mereka bukan soal menjelajah jauh, tetapi tentang hadir dan menyentuh yang terlupakan, yang tersembunyi, yang dianggap kecil. Seperti Machu Picchu, banyak hal suci dalam hidup ini tersembunyi karena diabaikan, bukan karena tidak nyata. Maka murid dipanggil bukan untuk membawa sesuatu dari luar, melainkan untuk membangunkan kembali kesadaran akan kehadiran Allah yang telah lama tinggal bersama umat-Nya.
Dalam kehidupan kita sendiri, panggilan untuk “pergi” sering kali bukan berarti melangkah secara fisik. Bisa jadi kita dipanggil untuk menyadari kembali nilai dari sesuatu yang sudah dekat: keluarga yang mulai terasa asing, sesama yang kita abaikan, bahkan diri sendiri yang sering kita tinggalkan dalam keramaian. Sama seperti Machu Picchu akhirnya diakui dunia karena ada mata yang bersedia melihat lebih dalam, hati kita pun bisa menjadi tempat suci, bila kita sungguh hadir di dalamnya.
Yesus tidak menyuruh para murid membawa apa pun—tidak uang, tidak perbekalan, hanya kehadiran dan pesan damai. Karena kekuatan pewartaan bukan datang dari perlengkapan, tetapi dari kedalaman kehadiran. Seorang murid sejati tidak mengubah dunia dengan suara keras, tetapi dengan keheningan yang terhubung dengan sumber hidup.