Browsed by
Month: October 2025

Senin Pekan Biasa XXVIII

Senin Pekan Biasa XXVIII

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
13 Oktober 2025
Rom 1, 1-7 + Mzm 98 + Luk 11: 29-32

Lectio
Suatu hari ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”

Meditatio
‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat’, tegas Yesus kepada orang-orang yang mengerumuniNya. Berani kali Yesus berkata demikian terhadap orang-orang. Apakah tidak takut Dia dirajam mereka? Mereka adalah orang-orang jahat. ‘Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus’. Mereka meminta bukti perutusan Yesus, yang berani-beraninya mengajar dan mengadakan aneka mukjizat. Mungkinkah kita juga akan ikut-ikut meminta tanda daripadaNya, jikalau kita hidup di jaman Yesus?
‘Seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini’. Apakah Yesus memperlunak sikapNya? Kehadiran Yesus sendiri adalah tanda dan bukti nyata akan kasih Allah yang menyelamatkan. Allah hadir dalam kehidupan umatNya. Berkat kehadiranNya, semua orang akan sampai kepada Bapa di surge. ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ (Yoh 14: 6).
‘Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!’. Kalau Salomo dan Yunus mendapatkan perhatian, seharusnya Yesus mendapatkan perhatian lebih istimewa. Namun kehadiranNya yang berlawanan arus, seperti pelanggaran hukum Sabat, makan minum dengan para pendosa, dan terang-terangan melawan orang-orang yang duduk di kursi Musa, membuat Dia tidak populer.
Sebagai orang-orang yang menikmati keselamatanNya, dan bahkan sebagai orang-orang merdeka karena Kristus (Gal 4), karena memang kita ‘telah dipanggil menjadi milik Kristus’ (Rom 1: 6), tidakkah kita memberi perhatian utama kepadaNya?

Oratio
Ya Yesus Kristus, teguhkanlah iman kami kepadaMu, bahwa Engkaulah kehidupan dan Sumber keselamatan. KehadiranMu ke dunia menjadi bukti kasihMu kepada kami. Semoga kami semakin berani memberi perhatian utama kepadaMu dalam segala langkah hidup kami. Amin

Contemplatio
‘Orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus’.

Minggu Biasa XXVIII C

Minggu Biasa XXVIII C


(2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudari terkasih, minggu lalu kita diajak untuk merenungkan iman dan
kerendahan hati, bagaimana kita hanya melakukan kehendak Tuhan tanpa menuntut
balasan apa pun. Hari ini, Sabda Tuhan mengajak kita melangkah lebih jauh: untuk
belajar bersyukur, untuk memiliki hati yang tahu berterima kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu betapa wajar dan indahnya ketika seseorang
mengucapkan “terima kasih.” Baik dalam hal-hal kecil maupun besar, ucapan
sederhana itu membuat hubungan menjadi hangat. Namun, ketika seseorang tidak
tahu berterima kasih, hati kita bisa terasa kecewa. Kita mungkin bergumam, “Orang
itu tidak tahu terima kasih.” Ungkapan itu sebenarnya muncul karena kita sadar
bahwa syukur adalah bahasa cinta yang mendalam antar manusia.
Namun, bagaimana dengan relasi kita dengan Allah? Sering kali kita menerima begitu
banyak anugerah: napas kehidupan, kesehatan, kasih keluarga, keberhasilan, bahkan
keselamatan, tetapi kita lupa bersyukur. Kita menerima, menikmati, lalu berjalan
tanpa menoleh kepada Sang Pemberi. Inilah yang membuat Yesus bersedih dalam
Injil hari ini. Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, hanya satu yang kembali dan
berterima kasih. “Bukankah kesepuluhnya telah menjadi tahir?” tanya Yesus dengan
hati yang tersentuh. Hanya satu orang asing yang datang untuk memuliakan Allah, dan
hanya kepadanya Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Saudara-saudari,kesembilan orang lainnya memang sembuh, tetapi mereka berhenti
pada anugerah, bukan pada relasi dengan Pemberi anugerah. Sementara orang
Samaria yang kembali itu menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: perjumpaan
dengan Yesus sendiri. Itulah buah dari hati yang bersyukur.
Sikap syukur membuka jalan bagi kasih dan iman yang mendalam. Syukur mengikat
kita kembali kepada Allah, bukan karena kita menerima sesuatu, tetapi karena kita
menyadari kasih yang menyertai setiap anugerah itu. Hadiah tidak pernah lebih
penting dari cinta yang ada di baliknya. Demikian juga dalam hidup ini: setiap berkat,
setiap kesulitan, bahkan setiap luka yang kita alami, semuanya dapat menjadi tanda
cinta Allah bila kita mau melihatnya dengan hati yang bersyukur.
Allah ingin agar kita mengenal dan mengalami kasih-Nya. Setiap kebaikan yang kita
terima adalah cara-Nya menghadiahkan diri-Nya kepada kita. Maka, ketika kita
bersyukur, kita sedang mengakui bahwa kasih-Nya nyata dan hidup di dalam kita.
Sebaliknya, hati yang tidak tahu berterima kasih mudah menjadi sombong dan
menutup diri dari rahmat-Nya.
Rasul Paulus dalam suratnya mengingatkan, “Bersyukurlah dalam segala hal, sebab
itulah kehendak Allah bagimu dalam Kristus Yesus.” (1Tes 5:18). Bersyukur tidak
hanya ketika hidup berjalan baik, tetapi juga di tengah salib kehidupan. Bahkan Yesus
sendiri, pada malam Ia diserahkan, mengucap syukur. Dalam Ekaristi, Ia mengajarkan
kepada kita bahwa di tengah penderitaan pun, selalu ada alasan untuk berterima
kasih, sebab di sanalah cinta Allah bekerja dengan cara yang paling indah.
Maka, marilah kita belajar menjadi umat yang tahu berterima kasih, bukan hanya
lewat kata, tetapi lewat sikap dan tindakan nyata. Bersyukur dalam hal kecil maupun
besar, dalam sukacita maupun duka. Karena hati yang tahu berterima kasih adalah
hati yang mengenal Tuhan.
Semoga dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan, kita semakin dibentuk menjadi
pribadi yang peka akan kasih Allah dan rela memuliakan-Nya dengan hidup yang
penuh syukur. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »