Browsed by
Month: January 2026

Minggu Biasa III A

Minggu Biasa III A


(Yes. 8:23b-9:3; 1Kor.1:10-13.17; Mat. 4:12-23)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengarkan sebuah kalimat yang sangat singkat, tetapi memiliki daya yang luar biasa besar: “Mari, ikutilah Aku.” Hanya tiga kata. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Namun justru di situlah kekuatannya. Kata-kata itu telah mengubah arah hidup para nelayan sederhana di Galilea. Kata-kata yang sama telah menggerakkan hati miliaran orang sepanjang sejarah. Dan minggu ini, kata-kata itu kembali diarahkan kepada kita yang hadir dan berkumpul di hadapan Tuhan.
Yang menarik, Injil mencatat bahwa Simon dan Andreas segera meninggalkan jala mereka. Yakobus dan Yohanes pun segera meninggalkan perahu serta ayah mereka. Tidak ada catatan tentang banyak pertimbangan, tidak ada dialog panjang, tidak ada tawar-menawar. Mereka mendengar, dan mereka melangkah. Seolah-olah panggilan itu menyentuh sesuatu yang sangat dalam di hati mereka, sesuatu yang selama ini mungkin mereka tunggu, meski belum mampu mereka rumuskan dengan kata-kata.
Undangan Yesus, “Mari ikutilah Aku”, sesungguhnya memuat dua sisi yang tidak terpisahkan. Pertama, undangan itu menuntut keberanian untuk menyerahkan hidup ke dalam bimbingan Yesus. Kedua, undangan itu menjanjikan kedekatan: berjalan bersama Dia.
Mengikuti Yesus berarti bersedia berjalan di belakang-Nya. Dalam budaya Yahudi waktu itu, seorang murid memang selalu berjalan di belakang gurunya, sebagai tanda hormat, ketaatan, dan kesediaan untuk belajar. Murid tidak menentukan arah; guru yang menentukan. Murid tidak memilih jalannya sendiri; ia mempercayakan diri pada langkah sang guru.
Namun, makna “mengikuti” dalam Kitab Suci jauh lebih dalam daripada sekadar posisi fisik. Dalam tradisi iman Israel, mengikuti seseorang berarti mengiringi dengan seluruh hidup: menaati, mencintai, mempercayai, dan menyerahkan diri, apa pun risikonya. Maka mengikuti Yesus berarti menjadikan Dia kompas hidup kita, dalam pilihan-pilihan kecil maupun besar, dalam terang maupun gelap, dalam kepastian maupun kebingungan.
Saudara-saudarkui terkasih, kita tahu, mengikuti Yesus bukan jalan yang selalu mudah. Injil tidak pernah menutupi kenyataan itu. Kadang Yesus berbicara dengan kata-kata yang terasa keras dan mengguncang. “Ikutlah Aku, biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Atau, “Barangsiapa tidak menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kata-kata seperti ini bisa membuat kita terdiam, bahkan bergumul dalam hati. Namun di saat yang lain, kita juga mendengar suara Yesus yang begitu lembut dan menyejukkan: “Datanglah kepada-
Ku, kalian yang letih lesu dan berbeban berat.” “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Yesus yang kita ikuti bukanlah sosok yang bisa kita masukkan ke dalam satu kotak sempit. Ia lembut, tetapi juga tegas. Ia penuh belas kasih, tetapi juga jujur dan menuntut. Ia merangkul orang kecil dan berdosa, tetapi dengan lantang menegur kemunafikan dan kesombongan rohani. Dialah Guru yang membentuk, bukan memanjakan; yang menyembuhkan, bukan meninabobokkan.
Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan satu syarat dasar untuk mengikuti-Nya: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Bertobat berarti berani mengubah arah. Seperti seseorang yang sadar bahwa jalan yang ia tempuh salah, lalu berhenti, berbalik, dan memilih jalan baru. Bertobat bukan pertama-tama soal merasa bersalah, melainkan soal berani melangkah ke arah yang benar. Dan percaya kepada Injil berarti menyerahkan masa depan kita pada janji Tuhan, meskipun kita belum melihat semuanya dengan jelas.
Sering kali, di sinilah letak pergumulan kita. Mengikuti Yesus menuntut kita untuk menomorduakan, bahkan kadang meninggalkan ego pribadi, rencana pribadi, ambisi pribadi. Tidak heran jika muncul keluhan: “Berat jadi Katolik… terlalu banyak tuntutan… membosankan…” Keluhan seperti ini sangat manusiawi. Para murid pun pernah mengalaminya. Sampai mereka bertanya dengan jujur: “Kalau demikian, siapa yang dapat diselamatkan?”
Jawaban Yesus sungguh menguatkan: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” Artinya, Tuhan tidak menuntut kita berjalan dengan kekuatan kita sendiri. Ia menawarkan rahmat, daya, dan penyertaan-Nya. Ia tidak menjanjikan jalan yang mulus, tetapi Ia menjanjikan kekuatan untuk menapaki jalan yang terjal.
Saudara-saudariku terkasih, dalam perjalanan hidup, dalam membangun keluarga, dalam relasi, dalam pekerjaan, dalam panggilan hidup, kita bisa jatuh, lelah, bingung, bahkan takut. Itu wajar. Tuhan tidak menuntut kita sempurna. Yang Ia rindukan hanyalah satu hal: Jangan berhenti berjalan di belakang-Nya. Ketika kita lemah, kita boleh berhenti sejenak, tetapi jangan berbalik arah. Ketika kita jatuh, kita boleh menangis, tetapi jangan menyerah.
Seperti para nelayan Galilea itu, Tuhan terus memanggil kita di tengah keseharian hidup kita. Dan, setiap kali kita berani menjawab, meski dengan langkah kecil, Ia akan setia berjalan di depan kita, menuntun, menguatkan, dan membawa kita sampai pada kepenuhan hidup. Semoga kita diberi hati yang peka untuk mendengar panggilan-Nya, dan keberanian untuk terus mengikuti-Nya, hari demi hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa II

Sabtu Pekan Biasa II

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
24 Januari 2026
2Sam 1: 1-4 + Mzm 80 + Mrk 3: 20-21

Lectio
Pada suatu kali Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Meditatio
Siapa yang mengatakan dan menyebarkan berita bahwa Yesus tidak waras lagi? Para muridNya? Kaum Farisi dan para ahli Taurat? Atau orang-orang yang terpenuhi permohonannya? Kenapa Dia disebut tidak waras lagi? Apakah karena melayani banyak orang tanpa mengenal lelah?
Orang berbuat baik memang belum tentunya mendapatkan ucapan terima kasih; malah celaaan dan cibiran sering juga akan didengarnya. Itu realitas hidup. Pengalaman Yesus kiranya menjadi patrun bagi setiap orang yang berani menjadi saluran berkat bagi sesama; dan itu akan terjawabi memang, bagi mereka yang melayani sesamanya dengan penuh sukacita dan kerelaan jiwa.
Seharusnya kita berani berterima kasih kepada orang-orang yang telah banyak berbuat baik bagi kita. Mereka itu menyalurkan sapaan Tuhan sendiri bagi kita. Lebih hebat lagi, kalau kita pun berani menaruh perhatian kepada orang-orang yang acuh tak acuh terhadap kita. Pengalaman Daud yang meratapi kematian Saul (2Sam 1), yang selalu memusuhi dirinya, menjadi contoh bagi kita untuk mengasihi dan mendoakan orang-orang yang membenci dan melawan kita.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau selalu memberi perhatian kepada kami. Engkau tidak memperhitungkan keberadaan diri kami. Semoga kami pun berani menjadi saluran berkat bagi sesama, tanpa mengharapkan balas jasa sedikit pun. Amin.

Contempatio
Berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu.

“DISIAPKAN UNTUK DISELAMATKAN”

“DISIAPKAN UNTUK DISELAMATKAN”

Jumat, 23 Januari 2026

Markus 3:13-19

Bacaan Injil hari ini mengisahkan momen krusial ketika Yesus naik ke atas bukit dan memanggil mereka yang dikehendaki-Nya untuk menjadi Dua Belas Rasul. Momen bukan sekadar penunjukan administratif, melainkan menjadi peristiwa transformasi hidup dan spiritual bagi setiap murid, termasuk saya dan Anda.

​1. Disiapkan: Dipanggil ke Atas Bukit

​Yesus memanggil mereka ke atas bukit, tempat yang sering melambangkan perjumpaan intim dengan Tuhan. Sebelum bekerja, murid-murid disiapkan secara mental dan spiritual. Menjadi murid Yesus dimulai dengan kesediaan untuk memisahkan diri dari keramaian dunia untuk mendengarkan suara-Nya.

​2. Dipilih: Berdasarkan Kehendak-Nya

​Pada ayat 13 dikatakan, “Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya.” Kita menjadi pengikut Kristus bukan karena kehebatan atau kelayakan kita, melainkan karena kehendak Tuhan sendiri. Kita dipilih secara personal dengan segala kelebihan dan kekurangan kita (seperti Petrus yang impulsif atau Simon orang Zelot yang radikal).

​3. Diutus: Membawa Terang ke Dunia

​Tujuan utama mereka dipanggil adalah untuk diutus memberitakan Injil (ay. 14). Menjadi murid bukan untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk sebuah misi ilahi. Kita diutus ke dalam keluarga, pekerjaan, dan lingkungan kita untuk membawa pesan kasih dan kebenaran melalui rutinitas keseharian kita.

​4. Diberkati: Dengan Kuasa dan Kehadiran

​Yesus tidak mengutus mereka dengan tangan kosong. Mereka diberkati dengan kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan (ay. 15). Berkat bagi seorang murid bukan selalu berupa materi, melainkan penyertaan Tuhan dan otoritas rohani untuk mengalahkan kegelapan di sekitar kita.

​5. Diselamatkan: Identitas Baru dalam Kristus

​Dalam daftar nama tersebut, Yesus memberikan nama baru (seperti Simon menjadi Petrus). Ini melambangkan bahwa mereka telah diselamatkan dan diubah identitasnya. Menjadi murid berarti meninggalkan hidup lama yang binasa dan mengenakan hidup baru yang memiliki kepastian keselamatan kekal.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »