Aku percaya kepadaMu ya Yesus
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Ignasius Joko Purnomo
Markus 5:21-43
Beberapa tahun lalu, ada seorang ibu sederhana di sebuah paroki kecil di pedalaman.
Ia aktif di lingkungan, setia berdoa rosario, dan selalu hadir dalam misa, tetapi hidupnya tidak mudah. Suaminya sakit keras selama bertahun-tahun, dan anak sulungnya kehilangan pekerjaan. Hidup mereka serba kekurangan. Suatu hari, dalam pertemuan doa lingkungan, ibu itu berkata dengan tenang: “Saya tidak tahu bagaimana masa depan keluarga saya, tetapi saya tahu Yesus tidak akan meninggalkan kami.” Ia tidak banyak bicara soal mujizat, tetapi setiap kali berdoa, air matanya jatuh dengan damai. Ia terus berdoa, terus melayani orang lain yang bahkan lebih susah darinya. Ketika suaminya akhirnya meninggal, ia berkata kepada rekan-rekan sepelayanannya: “Saya sedih, tetapi saya percaya Tuhan tetap baik. Ia sudah memberi kekuatan lebih dari yang saya sangka.” Ibu itu tidak punya banyak hal di dunia ini, tetapi ia punya iman yang hidup. Iman yang membuatnya tetap berdiri, tetap melayani, dan tetap memuji Tuhan – bahkan di tengah penderitaan.
Saudara-saudari terkasih,
Injil hari ini menampilkan dua kisah iman yang luar biasa: iman seorang ayah bernama Yairus, dan iman seorang perempuan yang dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Dua kisah yang berbeda, tetapi berjumpa dalam satu kebenaran: kuasa Yesus bekerja dalam hati yang percaya. Mereka berdua sama-sama datang kepada Yesus bukan karena kuat, tetapi karena percaya. Mereka percaya bahwa di tengah ketidakpastian, Tuhan tetap berkuasa untuk memulihkan, menghidupkan, dan menyelamatkan.
Ketika anaknya sedang sekarat, Yairus datang bersujud di kaki Yesus (Mrk 5:22). Tindakan ini sangat berani, karena sebagian besar pemimpin Yahudi waktu itu menentang Yesus. Namun Yairus tidak peduli pada gengsi atau tekanan sosial – kasihnya kepada anak dan imannya kepada kuasa Yesus lebih besar dari rasa takutnya. Tindakan itu menunjukkan bahwa Yairus: pribadi rendah hati – meski terhormat ia mau bersujud di kaki Yesus, pribadi percaya penuh: ia yakin Yesus mampu menyembuhkan anaknya; ia pribadi yang tekun dalam iman: bahkan ketika orang lain berkata “Anakmu sudah mati,” ia tetap setia mendengarkan sabda Yesus: “Jangan takut, percaya saja.”
Serupa dengan Yairus, adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.” (Mrk 5:25) Artinya, perempuan ini mengalami pendarahan terus-menerus selama 12 tahun – kemungkinan besar sejenis pendarahan rahim kronis. Secara medis, ia lemah; secara sosial dan religius, ia dianggap najis menurut hukum Taurat (bdk. Im 15:25–27). Karena dianggap najis: ia tidak boleh menyentuh orang lain, sebab akan membuat mereka najis juga; ia tidak boleh ikut beribadah di sinagoga; ia terisolasi, dijauhi oleh masyarakat; ia habis-habisan secara ekonomi, karena sudah menghabiskan uang untuk berobat tetapi “tidak menjadi lebih baik, malah bertambah parah” Jadi, perempuan ini bukan hanya sakit jasmani, tetapi juga terluka batinnya – terpinggirkan dan tersingkir dari komunitas. Namun perempuan ini tidak menyerah. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Sauadara-saudari terkasih.
Dalam hidup ini, kita sering menghadapi situasi yang tampak mustahil – sakit yang tidak kunjung sembuh, masalah keluarga, ekonomi, atau relasi. Dalam situasi seperti itu, kita diajak untuk berani datang kepada Yesus dengan keyakinan iman sederhana: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dalam situasi seperti itu pula, kita diajak berani terus membuka hati untuk mendengarkan Yesus yang berkata: “Jangan takut, percaya saja.” Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita dapat berkembang dalam iman dan hidup penuh harapan; sebab kuasa Tuhan selalu bekerja dalam hati yang percaya.
(Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Lukas 2:22-40)
Salam Damai dalam Kristus Tuhan.
Para Saudara yang terkasih,
Seringkali ada orang menyiapkan sesuatu dengan sangat matang, tetapi lupa pada tujuan akhirnya. Hadiah sudah dibungkus indah, biaya sudah besar, namun maknanya hilang karena tujuannya hanya ingin dilihat orang. Hal serupa bisa terjadi dalam hidup rohani, ketika perhatian kita lebih tertuju pada tampilan luar daripada penyerahan diri yang sejati. Injil hari ini mengajak kita kembali pada makna mempersembahkan diri kepada Allah.
Dalam Lukas 2:22–40, Maria dan Yosef membawa Yesus ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka melakukannya dengan sederhana, sesuai hukum Taurat, tanpa kemegahan apa pun. Namun justru dalam kesederhanaan itu, Allah menyatakan karya-Nya yang besar. Simeon dan Hana melihat bahwa Anak ini adalah terang bagi bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi umat Allah.
Yesus yang dipersembahkan bukan hanya memenuhi hukum, tetapi menyatakan ketaatan total kepada kehendak Bapa. Sejak awal hidup-Nya, Yesus menunjukkan bahwa hidup sejati adalah hidup yang diserahkan. Pedang nubuat Simeon menyingkapkan bahwa penyerahan ini tidak lepas dari penderitaan. Namun melalui penyerahan itulah keselamatan digenapi.
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah mengingatkan kita bahwa hidup beriman adalah panggilan untuk mempersembahkan diri. Kita dipanggil menjadi terang, bukan dengan kehebatan diri, melainkan dengan kesetiaan dan ketaatan. Dalam keseharian yang sederhana, Tuhan tetap berkarya secara besar. Persembahan diri yang tulus selalu berkenan bagi Tuhan.
Poin Refleksi
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau dipersembahkan kepada Bapa sebagai terang keselamatan. Ajarlah kami menyerahkan hidup kami dengan tulus dan setia. Jadikan kami terang-Mu di tengah dunia. Amin.
Rm Dimas Caesario
Malang, 2 Februari 2026
Rm Gunawan Wibisono O.Carm