Berdosa itu melarikan diri dari Tuhan
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
21 Februari 2026
Yes 58: 9-14 + Mzm 86 + Luk 5: 27-32
Lectio
Suatu kali Yesus berjumpa seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Meditatio
Berbuat baik. itulah tuntutan kepada setiap orang, terlebih kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan Allah. Kepada siapa kita harus berbuat baik? Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. (Yes 58: 12). Penegasan Allah melalui Yesaya mengatakan, bahwa yang diperbaiki adalah tembok yang tembus, bukan tembok yang bagus; dan membetulkan jalan, agar sebuah lokasi dapat dinikmati banyak orang. Jadi memperbaiki sesuatu yang sudah rusak demi tujuan sebagaimana seharusnya.
Demikialah kedatangan Yesus Kristus. ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat’. Terlebih bila mengingat tujuan datang ke dunia adalah penyelamatan umat manusia, di mana semua orang diundang ambil bagian dalam karya penyelamatan itu. Orang yang mau tenggelamlah yang dibantu agar selamat, tidaklah demikian dengan mereka yang telah mampu berenang.
Amatlah salah kalau ada orang berkata: mari kita berdosa, agar kita menikmati panggilanNya. Bukankah Dia datang untuk memanggil orang berdosa? Salah, karena kita dengan berdosa secara sengaja itu berarti kita mencobai Tuhan, dan bahkan kita melarikan diri daripadaNya.
Oratio
Yesus Tuhan kami, Engkau memanggil dan memanggil kami agar kami mendengarkan suaraMu yang menyelamatkan itu. Engkau tidak memperhitungkan segala kelemahan dan dosa kami. Semoga kami semakin berani menikmati belaskasihMu yang menyelamatkan itu. Amin.
Cotemplatio
‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat’.
Renungan Lubuk Hati – Jumat, 20-02-2026
Injil Matius 9:14-15
Selamat memasuki Masa Prapaskah! Selamat menjalankan pantang dan puasa! Selamat menikmati momen indah bersama momen berharga dalam kisah kasih Yesus Kristus! Inilah secuil ungkapan yang kerapkali mewarnai masa prapaskah dalam rutinitas tahunan perjalanan seorang beriman katolik. Puasa, pantang, doa, amal kasih, dan aneka olah rohani atau spiritual semakin ditekankan dan dijalani dengan porsi yang lebih serta khusus. Puasa, pantang, matiraga yang saya dan Anda lakukan bukan semata menjadi keharusan, kewajiban, atau rutinitas tahunan semata, tetapi menjadi saat untuk melihat ke dalam, bagaimana dan seperti apa saya memandang kisah hidup saya yang diwarnai dengan kejatuhan dalam dosa, penyesalan, dan pengharapan akan pengampunan Tuhan?
Ada banyak pertanyaan, diskusi, dan tips praktis yang kita dapat temukan di aneka lini masa perihal bagaimana dan apa saja bentuk dari pantang dan puasa versi Katolik. Hal ini memang perlu untuk dipahami dan diupayakan. Satu hal yang kiranya harus saya dan Anda tanyakan yaitu mengapa dan untuk apa saya dan Anda menjalani pantang, puasa, matiraga, olah rohani, dan amal kasih kepada sesama?
Hari ini Yesus memberikan satu pernyataan peneguhan kepada kita melalui warta Injil yang kita baca, dengarkan, dan renungkan. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada wakatu itulah mereka akan berpuasa”. Apakah artinya untuk kita pernyataan ini? Kehadiran Yesus dalam hidup kita merupakan anugerah yang luar biasa. Kemudian, pantang dan puasa lahir dari kerinduan hati bukannya kewajiban dan keharusan agar tampak baik dan saleh di depan mata orang. Pantang dan puasa lahir dari kerinduan terdalam yang merasakan rindu akan Tuhan, atau merasa kehilangan Tuhan, atau sadar bahwa selama ini hidupku jauh dari Tuhan. Bukan sekadar tidak makan dan minum, tetapi membuka budi dan hati agar Tuhan berdiam mengubah dan mengarahkan kembali kompas hidup kita berjalan bersama Dia. Marilah kita sediakan ruang hening untuk Tuhan, tidak hanya berkutat pada Smartphone di tangan, notofikasi tanpa henti, scrolling tanpa sadar, atau pun ibadah sambil melirik layar. (RD Daniel Aji Kurniawan)
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
RENUNGAN LUBUK HATI
Kamis 19 Februari 2026
Hari Kamis Sesudah Rabu Abu
Ul 30:15-20, Lukas 9:22-25
Setiap dari kita dihadapkan dengan suatu pilihan: pilihan keselamatan atau kebinasaan. Apapun pilihannya pasti mengandung konsekuensi. Lalu apa yang kita pilih? Bacaan pertama mengajak kepada kita untuk selalu berani memilih keselamatan daripada kebinasaan.
Musa ketika di padang gurun di seberang sungai Yordan mengingatkan bangsa Israel, supaya tetap hidup dalam keselamatan; mereka harus mengasihi Allah dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan berpegang para perintah, ketetapan serta peraturanNya. Hanya dengan cara itu mereka akan diberkati dan diselamatkan!
Hal yang sama juga ditunjukkan Yesus kepada para murid dan kita semua. Ketika kita memilih jalan keselamatan, kita harus memilih jalan Salib sebagaimana Yesus telah memilihnya: “Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Maka Yesus meneguhkan kita, apabila kita memilih keselamatan harus mau mengikuti jalan salibNya. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya karena Aku, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.
Bagi kita sebagai pengikut Kristus, dalam situasi apapun tetap memilih jalan SalibNya karena ada keselamatan, kehidupan, karena Dialah sumber segala kehidupan. Yesus berkata bahwa mereka yang mengikuti Dia, yang memilih Dia, akan menyelamatkan hidup mereka. Jika kita mencintai Tuhan, berpegang teguh pada-Nya, mengikuti Dia, kita akan menemukan kehidupan. Yesus mengakui bahwa mengikuti Dia sering menuntut kita untuk meninggalkan diri kita sendiri, kehilangan hidup kita, untuk memikul salib kita. Mengikuti Tuhan sering kali berarti mati terhadap kecenderungan kita untuk mendahulukan diri sendiri dan kesejahteraan kita sendiri, agar lebih bebas memberikan diri kita dalam kasih kepada orang lain, yakni menempatkan kesejahteraan mereka di atas kesejahteraan kita sendiri.
Permenungan bagi kita: beranikan kita tetap setia mengikuti Yesus dan memanggul salib kehidupan kita setiap hari? Meskipun kita berhadapan dengan pengalaman ditolak dan menolak? Maukah kita melepaskan kecenderungan dari zona nyaman kita untuk mengikuti Yesus? Roh Kudus akan memampukan kita untuk selalu memilih jalan keselamatan dalam situasi dan kondisi apapun hidup kita! Tuhan memberkati.
Dalam hidup banyak aneka pilihan
Pilihlah selalu hidup dalam keselamatan
Pastikan jalan itu adalah jalan Tuhan
Jalani dan nikmati dengan Ketaatan.
RD. Ignasius Adam Suncoko
(Imam Diosis Keuskupan Malang)