“Lihatlah ke Dalam!”

“Lihatlah ke Dalam!”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 20-02-2026

Injil Matius 9:14-15

          Selamat memasuki Masa Prapaskah! Selamat menjalankan pantang dan puasa! Selamat menikmati momen indah bersama momen berharga dalam kisah kasih Yesus Kristus! Inilah secuil ungkapan yang kerapkali mewarnai masa prapaskah dalam rutinitas tahunan perjalanan seorang beriman katolik. Puasa, pantang, doa, amal kasih, dan aneka olah rohani atau spiritual semakin ditekankan dan dijalani dengan porsi yang lebih serta khusus. Puasa, pantang, matiraga yang saya dan Anda lakukan bukan semata menjadi keharusan, kewajiban, atau rutinitas tahunan semata, tetapi menjadi saat untuk melihat ke dalam, bagaimana dan seperti apa saya memandang kisah hidup saya yang diwarnai dengan kejatuhan dalam dosa, penyesalan, dan pengharapan akan pengampunan Tuhan?

          Ada banyak pertanyaan, diskusi, dan tips praktis yang kita dapat temukan di aneka lini masa perihal bagaimana dan apa saja bentuk dari pantang dan puasa versi Katolik. Hal ini memang perlu untuk dipahami dan diupayakan. Satu hal yang kiranya harus saya dan Anda tanyakan yaitu mengapa dan untuk apa saya dan Anda menjalani pantang, puasa, matiraga, olah rohani, dan amal kasih kepada sesama?

          Hari ini Yesus memberikan satu pernyataan peneguhan kepada kita melalui warta Injil yang kita baca, dengarkan, dan renungkan. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada wakatu itulah mereka akan berpuasa”. Apakah artinya untuk kita pernyataan ini? Kehadiran Yesus dalam hidup kita merupakan anugerah yang luar biasa. Kemudian, pantang dan puasa lahir dari kerinduan hati bukannya kewajiban dan keharusan agar tampak baik dan saleh di depan mata orang. Pantang dan puasa lahir dari kerinduan terdalam yang merasakan rindu akan Tuhan, atau merasa kehilangan Tuhan, atau sadar bahwa selama ini hidupku jauh dari Tuhan. Bukan sekadar tidak makan dan minum, tetapi membuka budi dan hati agar Tuhan berdiam mengubah dan mengarahkan kembali kompas hidup kita berjalan bersama Dia. Marilah kita sediakan ruang hening untuk Tuhan, tidak hanya berkutat pada Smartphone di tangan, notofikasi tanpa henti, scrolling tanpa sadar, atau pun ibadah sambil melirik layar. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Comments are closed.
Translate »