Browsed by
Month: March 2026

BERBAGI DENGAN KERELAAN HATI

BERBAGI DENGAN KERELAAN HATI

RENUNGAN LUBUK HATI
Homili Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Lukas 16:19–31

Dalam Injil hari ini kita mendengar kisah yang sangat kuat: tentang seorang kaya yang hidup berlimpah dan seorang pengemis bernama Lazarus yang menderita di depan pintu rumahnya. Orang kaya itu berpakaian indah dan setiap hari berpesta pora, sementara Lazarus penuh luka dan berharap mendapat sisa makanan dari meja orang kaya itu. Yang menarik, dalam kisah ini Yesus menyebut nama Lazarus, tetapi orang kaya itu tidak disebutkan namanya. Ini mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, yang penting bukanlah status, kekayaan, atau kehormatan duniawi, tetapi hati yang peka terhadap sesama.

Masalah utama orang kaya itu bukan semata-mata karena ia kaya. Kekayaannya bukan dosa. Dosanya adalah ketidakpedulian. Ia melihat Lazarus setiap hari di depan pintunya, tetapi ia tidak melakukan apa pun. Pintu rumahnya mungkin terbuka, tetapi pintu hatinya tertutup.

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat untuk membuka mata dan hati kita. Sering kali Lazarus juga hadir di sekitar kita: orang miskin yang membutuhkan bantuan, orang sakit yang menantikan kunjungan, orang yang kesepian yang membutuhkan perhatian, bahkan anggota keluarga kita sendiri yang membutuhkan kasih dan pengertian. Kadang-kadang kita tidak jahat, tetapi kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak melihat penderitaan orang lain. Tanpa sadar kita menjadi seperti orang kaya dalam Injil: hidup nyaman tetapi tidak peduli.

Yesus juga menegaskan sesuatu yang penting di akhir kisah. Ketika orang kaya itu meminta agar Lazarus diutus untuk memperingatkan keluarganya, Abraham berkata: “Mereka mempunyai Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.” Artinya, sabda Allah sudah cukup untuk menuntun kita bertobat. Kita tidak perlu menunggu tanda luar biasa untuk berubah. Karena itu, Prapaskah mengundang kita melakukan tiga hal:
a. Membuka mata untuk melihat Lazarus di sekitar kita.
b. Membuka hati agar tergerak oleh belas kasih.
c. Membuka tangan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Saudara-saudari, kisah ini juga mengingatkan bahwa hidup di dunia ini tidak selamanya. Pada saatnya ketika keadaan dibalikkan: yang terakhir menjadi yang pertama, dan yang pertama menjadi yang terakhir. Maka kesempatan untuk berbuat baik adalah sekarang, selama kita masih hidup.

Semoga masa Prapaskah ini membantu kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih peduli, dan lebih murah hati, sehingga ketika kita berjumpa dengan Tuhan, kita boleh mendengar Dia berkata: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Tuhan memberkati.

RD. Ignasius Adam Suncoko
Imam Diosesan Keuskupan Malang

Terhormat karena mengasihi

Terhormat karena mengasihi

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 20:17-28

Rabu 4 Maret 2026

Pada tahun 2000an ada sebuah tulisan di koran Surya, “Namanya Yesus! Sebagaian orang menyebut Dia Tuhan, sebagiaan menyebut-Nya Nabi, dan sebagaian lagi menyebutnya orang biasa. Apakah Dia Tuhan, nabi atau orang biasa tidaklah penting. Yang penting, jika Ibrahim rela mengorbankan anaknya, orang yang bernama Yesus rela mengorbankan diri-Nya. Sungguh sangat disayangkan, orang sekarang lebih suka mengorbankan orang lain daripada berkorban untuk orang lain”. [Sardjito]

Dalam warta hari ini, Yesus menyampaikan konsep Mesias yang berbeda dari pandangan orang Israel pada umumnya. Bagi mereka Mesias adalah sosok mulia, agung, dihormati, ditinggikan, dan akan menjadi raja dunia, pembebas dari penjajahan Romawi. Dengan kata lain, Mesias identik dengan kemuliaan dan kekuasaan. Kebenaran ini tampak pada diri ibu anak-anak Zebedeus yang meminta agar Yesus memberikan tempat bagi anak-anaknya di kanan dan kiri Yesus, jika kelak menjadi raja.

Yesus mengajarkan konsep yang benar kepada para pengikut-Nya. Bagi Yesus,  Mesias datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Mesias harus menderita, mengorbankan diri-Nya, memberikan hidup-Nya bagi orang lain [Mat 20:25-28]. Dengan kata lain, bagi Yesus kebesaran, kehormatan seseorang tidak diukur dari pangkat, kedudukan, melainkan sejauh mana ia melayani dan menjadi hamba satu sama lain. Menjadi hamba berarti siap untuk selalu berkorban demi kepentingan dan kebaikan orang banyak.

Lilin menjadi berguna ketika sumbur dibakar dan leleh. Ilmu sungguh berguna bagi orang banyak ketika dibagikan, dan semakin dibagikan, semakin berdampak, bermanfaat, bukan berkurang. Sebagai  murid Kristus, mari kita sungguh-sung mengikuti teladan yang telah dilakukan Yesus bagi orang banyak-anggota diri-Nya, mengorbankan hidup-Nya-agar orang-orang yang percaya kepada-Nya menerima hidup. Mari kita belajar berkorban, berbelarasa, berbagi dengan orang lain, dan bukan mngorbankan orang lain demi diri sendiri. Kita boleh yakin bahwa tempat  di sebelah kiri dan kanan-Nya pasti diberikan kepada siapa saja yang mampu hidup seperti Dia: penuh kasih, suka melayani sesama, rela berkorban dan kerja keras tanpa pamrih bagi kebahagiaan orang banyak.

Translate »