Dia Ada sebelum semuanya ada
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm.Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 8:21-30
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Dalam Injil hari ini, kita mendengar kata-kata Yesus yang tegas: “Aku pergi dan kamu akan mencari Aku… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia.” Kata-kata ini mungkin terasa keras, tetapi sebenarnya merupakan ungkapan kasih Tuhan yang ingin menyelamatkan kita.
Hari ini kita merenungkan tiga hal penting: kesempatan yang terbatas, realitas dosa, dan pentingnya iman.
Pertama: Kesempatan yang Terbatas: “Aku pergi dan kamu akan mencari Aku”
Yesus mengingatkan bahwa akan ada saat di mana orang mencari Dia – tetapi sudah terlambat. Ini bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena manusia menunda. Sering kali kita berkata: “Nanti saja saya bertobat.” atau “Nanti kalau sudah siap.” Namun Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita: waktu rahmat itu terbatas. Agustinus dari Hippo pernah berkata: “Takutlah akan Yesus yang lewat.” Artinya, Yesus hadir dalam hidup kita – melalui Sabda, kesempatan bertobat, pengalaman hidup. Tetapi jika kita tidak menanggapi, kita bisa kehilangan saat rahmat itu. Saudara-saudari, Prapaskah adalah saat Tuhan “lewat” dalam hidup kita. Pertanyaan bagi kita: “Apakah kita akan membiarkan Dia lewat begitu saja?”
Kedua: Realitas Dosa: “Kamu akan mati dalam dosamu”
Yesus berbicara tentang kenyataan yang serius: dosa bisa membawa kematian rohani. Sering kali kita meremehkan dosa: “Ini hal kecil.” Atau “Semua orang juga melakukannya.” Tetapi dosa yang dibiarkan bisa: mengeraskan hati, menjauhkan kita dari Tuhan, dan akhirnya membuat kita tidak lagi peka. Alfonsus Maria de Liguori mengingatkan: “Allah selalu siap mengampuni, tetapi tidak selalu manusia siap bertobat.” Masalahnya bukan pada Tuhan, sebab Tuhan selalu mengampuni.
Masalahnya adalah hati kita yang menunda dan menutup diri. Dan Yohanes Krisostomus berkata dengan sangat tajam: “Tidak ada yang lebih dingin daripada seorang Kristen yang tidak peduli akan keselamatannya sendiri.” Inilah bahaya terbesar: bukan hanya berdosa, tetapi tidak lagi merasa perlu bertobat. Saudara-saudari, Prapaskah adalah saat untuk jujur: Dosa apa yang masih kita pelihara? Apa yang harus kita tinggalkan sekarang juga?
Ketiga: Iman sebagai Kunci: “Jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia”
Yesus menegaskan bahwa keselamatan datang melalui iman kepada-Nya. Bukan sekadar percaya secara teori, tetapi percaya dengan hidup: mempercayakan diri kepada-Nya, mengikuti kehendak-Nya, dan mengubah hidup kita. Iman bukan hanya di mulut, tetapi harus nyata dalam tindakan. Tanpa iman yang hidup, kita bisa: rajin ke gereja, tahu ajaran, tetapi hati tetap jauh dari Tuhan. Yesus mengundang kita hari ini untuk percaya bahwa Dia adalah Penyelamat, dan membiarkan iman itu mengubah hidup kita.
Penutup
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini kita diingatkan oleh Tuhan dan para orang kudus: jangan menunda, karena seperti kata Santo Agustinus, kita harus waspada akan Tuhan yang “lewat”; dan jangan meremehkan dosa, karena seperti diingatkan Santo Alfonsus, bukan Tuhan yang berhenti mengampuni, tetapi kita yang berhenti bertobat; serta jangan menjadi dingin, karena seperti kata Santo Yohanes Krisostomus, tidak ada yang lebih menyedihkan daripada orang yang tidak peduli akan keselamatannya.
Maka marilah kita bertanya dalam hati: Apakah aku akan bertobat sekarang, atau menunggu sampai terlambat? Apakah aku sungguh meninggalkan dosaku?
Apakah aku benar-benar percaya kepada Yesus? Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk bertobat tanpa menunda, beriman dengan sungguh, dan hidup baru di dalam Dia.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Yohanes 8:1–11
Para Saudara yang terkasih, Injil hari ini menghadirkan sebuah peristiwa yang sangat manusiawi namun sekaligus sangat tajam. Para ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah. Mereka menaruhnya di tengah-tengah orang banyak dan berkata kepada Yesus: menurut hukum Musa, perempuan seperti ini harus dirajam. Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Apakah pendapat-Mu?”
Pertanyaan itu sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menjebak Yesus. Jika Yesus mengatakan perempuan itu harus dirajam, Ia akan tampak keras dan kehilangan wajah belas kasih. Tetapi jika Ia mengatakan jangan dirajam, Ia bisa dianggap melawan hukum Musa.
Yesus tidak langsung menjawab. Ia membungkuk dan menulis di tanah. Sikap ini menarik. Para Bapa Gereja sering melihat tindakan ini sebagai tanda bahwa Yesus tidak masuk ke dalam semangat penghakiman yang sedang berkobar. Ia seolah mengajak semua orang berhenti sejenak dan melihat diri sendiri.
Ketika mereka terus mendesak, Yesus akhirnya berkata kalimat yang sangat terkenal:
“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kata-kata ini tidak membatalkan hukum moral. Dalam iman Katolik, dosa tetaplah dosa. Perzinahan tetap salah. Namun Yesus mengingatkan sesuatu yang lebih dalam: manusia yang berdosa tidak bisa berdiri sebagai hakim yang tanpa belas kasih atas sesamanya.
Satu per satu mereka pergi, mulai dari yang tertua. Mereka mungkin menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menampar: batu itu memang ada di tangan mereka, tetapi dosa juga ada di hati mereka.
Akhirnya hanya tinggal Yesus dan perempuan itu. Lalu Yesus berkata:
“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.”
Di sini terlihat keseimbangan yang sangat khas dalam iman Katolik: belas kasih dan kebenaran berjalan bersama. Yesus tidak meremehkan dosa. Ia berkata dengan jelas, “Jangan berbuat dosa lagi.” Tetapi Ia juga tidak menghancurkan orang berdosa. Ia memberi kesempatan untuk pertobatan dan hidup baru.
Inilah wajah Allah yang diwartakan oleh Gereja: Allah yang adil tetapi sekaligus penuh belas kasih. Dalam sakramen tobat, kita mengalami hal yang sama. Kita mengakui dosa kita, tetapi kita tidak ditolak. Sebaliknya, kita diampuni dan diajak untuk memulai hidup yang baru.
Peristiwa ini juga sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sering kali kita mudah memegang “batu” terhadap orang lain: batu kritik, batu gosip, batu penghakiman. Kita cepat melihat kesalahan orang lain, tetapi lebih lambat melihat kelemahan kita sendiri.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita meletakkan batu itu. Bukan berarti kita menganggap dosa sebagai sesuatu yang tidak penting, tetapi kita belajar menanggapi sesama dengan kerendahan hati dan belas kasih.
Karena pada akhirnya, kita semua berdiri di hadapan Tuhan sebagai orang yang membutuhkan rahmat-Nya.
Pertanyaan refleksi
Doa
Tuhan Yesus,
Engkau tidak datang untuk menghukum,
tetapi untuk menyelamatkan.
Sering kali aku mudah menghakimi orang lain
dan lupa melihat kelemahanku sendiri.
Lunakkanlah hatiku
agar aku belajar berbelas kasih seperti Engkau.
Ampunilah dosa-dosaku
dan tuntunlah aku untuk hidup lebih setia kepada-Mu.
Amin.
RD. Yusuf Dimas Caesario