Browsed by
Month: March 2026

“Bertobat dalam Rahmat”

“Bertobat dalam Rahmat”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 20 Maret 2026

Injil Yohanes 7:1-2.10.25-30

Saudara dan saudari yang dikasihi dan mengasihi Kristus, dalam perikop Injil hari ini, kita dapat melihat dan merasakan bagaimana Yesus menghadapi keraguan dan penolakan dari orang-orang Yerusalem terhadap-Nya. Mereka mempertanyakan asal-usul-Nya, seolah-olah ingin menilai apakah Ia layak dipercaya. Namun, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia datang bukan atas kehendak diri-Nya sendiri, melainkan diutus oleh Bapa sendiri. Di sini kita belajar bahwa misi Yesus sepenuhnya berakar pada kehendak Allah, bukan pada ambisi pribadi atau kepentingan duniawi.

Di masa prapaskah ini, kita sungguh diarahkan untuk merefleksikan kembali arti pertobatan yang sesungguhnya itu seperti apa. Pertobatan adalah panggilan yang terus-menerus dalam hidup iman kita. Namun, bacaan ini mengingatkan bahwa pertobatan tidak boleh didorong oleh motivasi yang salah. Ada orang yang bertobat karena ingin terlihat saleh, ingin dipuji, atau sekadar mencari keuntungan pribadi. Pertobatan semacam itu rapuh karena tidak bersumber dari Allah. Pertobatan sejati adalah perubahan hati yang lahir dari kesadaran bahwa kita ingin kembali kepada Allah, menyerahkan diri pada kehendak-Nya, dan hidup sesuai dengan ajaran Gereja.

Ada banyak bahaya yang dapat kita cermati dalam upaya pertobatan kita sebagai orang yang mengaku beriman. Pertobatan karena ambisi pribadi menjadikan iman sebagai alat manipulasi. Pertobatan karena keinginan sendiri tanpa mendengarkan Allah bisa membuat kita jatuh pada kesombongan rohani. Pertobatan karena ingin pamer diri menjauhkan kita dari kerendahan hati yang sejati. Pertobatan yang tidak sesuai dengan ajaran iman dan Gereja berisiko menyesatkan, karena kita menafsirkan kehendak Allah menurut selera kita sendiri.

Yesus menunjukkan bahwa segala karya-Nya bersumber dari Bapa. Ia tidak mencari kemuliaan diri, melainkan kemuliaan Allah. Demikian pula, pertobatan kita harus berakar pada kehendak Allah. Pertobatan sejati menuntun kita pada kerendahan hati, penyerahan diri, dan kesetiaan pada ajaran Gereja. Maka dari itu, marilah kita memeriksa kembali motivasi pertobatan kita. Apakah kita sungguh ingin kembali kepada Allah, atau sekadar mencari pengakuan manusia? Pertobatan sejati adalah jalan menuju kehidupan baru, di mana kehendak Allah menjadi pusat, bukan ambisi kita. Dengan demikian, kita tidak hanya berubah secara lahiriah, tetapi sungguh mengalami pembaruan batin yang membawa kita semakin dekat kepada Kristus. Tuhan memberkati. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Melaksanakan Kehendak Allah

Melaksanakan Kehendak Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 5:17-30

Rabu, 18 Maret 2026

Kita pasti akrab dengan semboyan dalam Bahasa Latin, “ora et labora”, berdoalah dan bekerjalah. Keduanya harus berjalan seimbang, yang satu dilakukan, yang lain jangan diabaikan. Hari ini Tuhan Yesus menegaskan kepada orang – orang Yahudi: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”  Dengan penegasan tersebut, Yesus mau menyampaikan pesan kepada para pendengar-Nya bahwa Bapa-Nya tidak pernah istirahat dari pekerjaanNya.  Setiap saat Dia selalu bekerja, misalnya: menciptakan manusia baru; memberi daya hidup untuk setiap mahluk hidup; mendengarkan permohonan manusia; menyembuhkan orang sakit, dalan lain sebagainya.

Itulah sebabnya, meskipun hari sabat Yesus tetap bekerja menyembuhkan orang sakit. Sebab bagi-Nya hari sabat adalah untuk berbuat baik, menyelamatkan orang, dan bukan sebaliknya [bdk. Mark 3:4]. Akan tetapi bagi kebanyakan orang Yahudi di jaman Yesus memahami sabat secara aturan saja, di mana pada hari Sabat orang harus istirahat total tanpa kerja, termasuk tidak boleh melakukan pelayanan kasih. Bagi Yesus hal tersebut sama sekali tidak tepat. Sebab realitanya manusia butuh makan, minum, jika sakit butuh sembuh, dll. Karenanya,Yesus tetap menjalankan misi-Nya, kehendak Bapa-Nya setiap saat, sepanjang waktu. Kasih-Nya tidak bisa dihalangi oleh apapun dan siapapun. Hidup harian-Nya tertata dengan baik: pada pagi dan malam hari Dia selalu berkomunikasi dengan Bapa-Nya lewat doa, sedangkan pada siang hari Dia mengajar dan menyembuhkan orang sakit. Pekerjaan yang lebih besar atau lebih agung, sebagai Anak, Yesus akan menderita, wafat dan bangkit dengan mulia. Karena itu, Iapun akan menajdi hakim agung yang datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Semua ini dilakukan-Nya karena kasih dan kuasa Bapa dalam Roh Kudus, sebagaimana ditegaskan St Paulus, ‘Segala lidah akan mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa’ (Flp 2:11).

Hidup kristiani menjadi sungguh bermakna ketika dijalani sebagai pelaksanaan kehendak Allah, yakni berusaha hidup di dalam dan karena Yesus Kristus serta mengalami kasih-Nya. Namun hidup dan kehidupan sebagai wujud melaksanakan “pekerjaan ALLAH” mungkin menakutkan bagi mereka yang dihinggapi rasa iri hati, cemburu dan berpikir sempit. Sebaliknya bagi orang beriman, mengamalkkan “pekerjaan ALLAH” itu membuat tenang, aman dan damai. Semoga kita ditemukan Allah sebagai pribadi-priobadi yang melaksankan kehendak-Nya!

Translate »