Kita nikmati kehadiranNya dalam diri sesama
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pada Minggu Prapaskah yang lalu kita merenungkan makna sebuah perjumpaan yang membawa sukacita keselamatan. Dalam perjumpaan itu Yesus meruntuhkan sekat-sekat manusia: sekat suku, budaya, dan cara berpikir yang sempit. Ia mengajak manusia untuk membuka diri pada rahmat Allah yang menyelamatkan. Hari ini Gereja kembali mengajak kita melangkah lebih dalam: bukan hanya belajar berjumpa, tetapi belajar melihat dengan cara yang benar.
Coba sejenak kita memperhatikan mata manusia. Mata adalah salah satu keajaiban yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Di dalam bola mata seseorang selalu tampak seolah ada “bintang kecil” yang bersinar ketika mata itu terbuka. Mata bukan sekadar alat untuk melihat, tetapi juga jendela yang memperlihatkan kehidupan batin seseorang. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa cinta bermula dari mata lalu turun ke hati. Mata menangkap dunia, tetapi apa yang tertangkap oleh mata perlahan membentuk hati manusia.
Menariknya, mata manusia seakan memiliki “naluri kebaikan”. Ketika kita melihat sesuatu yang indah, hati terasa damai. Tetapi ketika mata menyaksikan sesuatu yang keji, kejam, perang atau memalukan, sering kali mata kita secara spontan menyipit atau bahkan menutup. Seolah-olah ada suara halus dalam diri kita yang berkata ‘ini bukan sesuatu yang pantas untuk dilihat’. Di situlah kita menyadari bahwa mata manusia pada dasarnya diciptakan untuk memandang yang baik, yang indah, dan yang benar.
Namun dalam kenyataan hidup, mata manusia juga bisa dilatih untuk terbiasa melihat yang buruk. Ketika seseorang terus-menerus disuguhi kekerasan, kebencian, atau hal-hal yang merendahkan martabat manusia, perlahan-lahan kepekaan mata itu menjadi tumpul. Apa yang dahulu terasa mengganggu hati, lama-kelamaan dianggap biasa. Seperti seseorang yang terlalu lama berada di ruangan gelap, ia mulai mengira bahwa kegelapan itu adalah keadaan yang normal. Di sinilah kita belajar bahwa mata bukan hanya soal kemampuan melihat, tetapi juga soal kemurnian hati.
Bacaan pertama minggu ini mengisahkan bagaimana Nabi Samuel diminta Tuhan memilih seorang raja bagi Israel dari antara anak-anak Isai. Samuel hampir saja keliru. Ia terpikat oleh penampilan yang gagah dan perawakan yang tinggi. Tetapi Tuhan mengingatkannya dengan kata-kata yang sangat dalam: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa pandangan Allah berbeda dari pandangan manusia. Kita sering menilai berdasarkan apa yang tampak seperti wajah, kedudukan, atau kemampuan. Tetapi Allah menilai kedalaman hati.
Kisah dalam Injil hari ini bahkan lebih menyentuh. Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Bagi orang Yahudi, kebutaan itu dianggap sebagai tanda dosa atau kutukan. Tetapi bagi Yesus, orang itu adalah pribadi yang harus disentuh dengan belas kasih. Menariknya, orang yang buta itu justru perlahan-lahan sampai pada pengenalan iman yang sangat dalam kepada Yesus. Ia mulai dengan menyebut Yesus sebagai “orang yang bernama Yesus”, lalu, “seorang nabi”, dan akhirnya ia menyembah-Nya sebagai Tuhan. Orang yang secara fisik buta justru mengalami pencerahan batin.
Sebaliknya, kaum Farisi yang memiliki mata fisik yang sehat justru tidak mampu melihat karya Allah yang terjadi di depan mereka. Mereka sibuk memperdebatkan aturan Sabat, mempersoalkan proses penyembuhan, bahkan menolak kebenaran yang nyata di hadapan mereka. Di sinilah paradoks Injil itu muncul yakni yang buta justru melihat, sedangkan yang merasa melihat justru menjadi buta.
Saudara-saudariku terkasih, kisah ini sebenarnya adalah cermin bagi hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memiliki mata yang sehat tetapi hati yang tertutup. Kita melihat banyak hal, tetapi tidak sungguh memahami. Kita melihat penderitaan orang lain, tetapi hati kita tidak tergerak untuk menolong. Kita melihat ada orang yang terluka oleh kata-kata kita, tetapi kita sulit untuk meminta maaf. Mata kita terbuka, tetapi hati kita seolah tertutup.
Ada sebuah kisah sederhana. Seorang dokter mata pernah mengatakan kepada seorang pasien bahwa dia tidak benar-benar buta, hanya saja lensa matanya tertutup oleh lapisan tipis yang membuat penglihatannya menjadi kabur. Dengan operasi kecil, lapisan mata pasien itu dibuka, dan pasien tersebut dapat melihat kembali. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan rohani kita. Sering kali bukan karena kita tidak bisa melihat kebaikan, tetapi karena hati kita tertutup oleh lapisan-lapisan tertentu, yakni kesombongan, iri hati, egoisme, atau luka batin yang belum disembuhkan.
Rasul Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita, “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” Artinya, hidup orang beriman dipanggil untuk menjadi terang. Terang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Terang membuat kita mampu melihat dengan jernih, dan sekaligus membantu orang lain menemukan jalan.
Masa Prapaskah adalah kesempatan yang sangat indah untuk membersihkan “mata hati” kita. Kita membersihkan mata hati melalui doa yang jujur, melalui pertobatan yang tulus, melalui kesediaan untuk mengampuni, dan melalui tindakan kasih yang sederhana. Ketika hati kita menjadi lebih jernih, kita akan mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kita akan lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Kita akan lebih mudah bersyukur atas hal-hal kecil. Kita juga akan lebih mudah menemukan kehadiran Tuhan dalam peristiwa hidup sehari-hari.
Saudara-saudariku terkasih, Tuhan tidak menuntut kita memiliki mata yang sempurna. Yang Tuhan inginkan adalah hati yang mau dibuka. Jika hati kita terbuka, maka perlahan-lahan terang Tuhan akan masuk dan menerangi hidup kita. Dan, ketika hidup kita diterangi oleh terang Kristus, kita pun akan menjadi terang bagi orang lain, terang yang menenangkan, menguatkan, dan memberi harapan.
Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, Tuhan menyembuhkan bukan hanya mata jasmani kita, tetapi juga mata budi dan mata hati kita. Agar kita mampu melihat dunia dengan pandangan kasih, seperti cara Allah memandang kita. Dengan demikian, hidup kita pun menjadi tanda terang Kristus bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
14 Maret 2026
Hos 6: 1-6 + Mzm 51 + Luk 18: 9-14
Lectio
Suatu hari kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Meditatio
Kerendahan hati memang amat diperlukan dalam doa-doa kita. Buat apa sebenarnya kita mengumbar kata-kata indah dalam doa, bukankah Tuhan Allah sudah mengenal isi hati dan budi kita? Kerendahan hati malah menunjukkan diri sebagai orang yang benar-benar memerlukan bantuan Tuhan sang Empunya kehidupan. Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Buat apa orang Farisi satu ini berkata-kata seperti itu? Bukankah Tuhan Allah sudah tahu benar isi hatinya? (Mzm 139) Bukankah seringkali tuntutan Tuhan Allah yang diberikan kepada kita begitu tinggi? Kita tidak cukup hanya dengan meminum cawan yang diberikanNya.
Contoh di atas amat konkrit. Tidaklah perlu memamerkan kepada Tuhan segala yang telah kita kerjakan, apalagi dengan enaknya merendahkan orang lain dalam doa-doa kita. Sebaliknya kita bersyukur kepadaNya, karena Tuhana membantu kita dalam menjadi saluran berkat bagi sesama. Orang yang memandang tinggi diri berarti tidak mempunyai kasih setia, dan itu tidak memangn dikehendaki Tuhan (Hos 6: 6). Sebab orang yang melakukan kasih setia, dia selalu menjadi sesame bagi orang lain, dan bukannya pengandalan diri yang telah mampu banyak melakukan segala seautu.
Oratio
Yesus Kristus, terima kasih Engkau telah banyak membantu kami dalam berbagi kasih. Semoga berkat bantuanMu itu, kami selalu bersyukur kepadaMu, sebab hanya dengan bantuanMu, kami dapat melakukan segala sesuatu yang baik kepada sesame kami. Amin.
Contemplatio
‘Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Renungan Lubuk Hati – Jumat, 13 Maret 2026
Injil Markus 12:28b-34
Saudara dan saudari yang dikasihi dan mengasihi Kristus, dalam perikop ini, Yesus menegaskan hukum yang terutama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Pernyataan dan penegasan iman dalam ayat tersebut membawa kita hari ini untuk belajar menjaga keseimbangan dalam beriman.
Yesus tidak memisahkan kedua perintah mengasihi Allah dan sesama. Yesus justru menempatkannya sebagai satu kesatuan. Mengasihi Allah dengan totalitas hidup berarti menyerahkan seluruh diri kita kepada-Nya. Namun, kasih itu tidak berhenti pada relasi vertikal saja; ia harus mengalir dalam relasi horizontal, yaitu kasih kepada sesama. Suatu pola yang menjadi penekanan penting dalam proses beriman yaitu dinamika hidup manusia merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan kasih yang nyata. Tanpa kasih kepada Allah, kasih kepada sesama bisa menjadi rapuh, mudah berubah karena kepentingan pribadi. Sebaliknya, tanpa kasih kepada sesama, kasih kepada Allah bisa menjadi abstrak, tidak nyata dalam tindakan sehari-hari. Keseimbangan inilah yang sebenarnya senantiasa membuat iman kita hidup. Doa dan ibadah kepada Allah menemukan wujudnya dalam pelayanan, perhatian, dan solidaritas terhadap sesama. Satu rumusan doa yang berusaha menjaga keseimbangan yaitu DOA BAPA KAMI. Yesus memberikan penekanan konkret bagaimana menjaga relasi dengan Allah dan sesama dalam keseharian hidup.
Saudaraku yang terkasih, mengasihi Tuhan dengan total berarti menempatkan Dia sebagai pusat hidup. Tetapi tanda nyata dari kasih itu terlihat ketika kita mampu menerima, menghargai, dan menolong sesama, bahkan dalam hal-hal kecil. Kasih kepada Allah dan sesama bukanlah dua hukum terpisah, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama. Masa prapaskah ini menjadi kesempatan yang nyata untuk bercermin bagaimana selama ini aku menjaga keseimbangan kasih ini di hadapan Allah dan di tengah kehadiranku bersam yang lainnya? Mari kita semakin memaknai masa retret agung ini dengan tetap seimbang menjaga iman, harapan, dan kasih. (RD Daniel Aji Kurniawan)