Yesus memulihkan relasi kita dengan Bapak di Surga yang telah rusak akibat dosa

Yesus memulihkan relasi kita dengan Bapak di Surga yang telah rusak akibat dosa

Ibrani 5:1-10

Markus 2:18-22

Yesus dalam bacaan hari ini begitu frustrasi dengan sikap para ahli taurat dan kaum Farisi yang merasa diri paling benar. Mereka percaya bahwa  mereka adalah orang yang paling patuh dan taat kepada hukum Allah seperti halnya berpuasa. Demikian pula para pengikut Yohanes Pembaptis dikenal sebagai orang yang sangat disiplin dalam hal mempersiapkan kedatangan Mesias. Oleh karena itu tidak mustahil bahwa kedua kelompok orang ini dengan sangat mudah dipertentangkan dengan ketidak disiplinan para murid Yesus dalam hal menjalani hukum Allah.

Yesus sebagai orang Yahudi tentu sudah sangat akrab dengan hukum Allah, namun kenyataannya bahwa para murid Yesus samasekali tidak mentaati hukum itu. Menanggapi sikap dan judgement kaum Farisi itu, bacaan pertama hari ini dari Surat St. Paulus kepada Orang Ibrani membantu kita untuk memahami suatu perjanjian baru. Bahwa dari generasi ke generasi, Allah telah memberikan kepada bangsa Israel seorang Imam Besar yang mempersembahkan korban penebusan dosa…”Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.” Sebagai Imam Besar mempersembahkan korban kepada Allah untuk memperbaiki relasi yang telah rusak akibat dosa. Namum pertobatan yang sebenarnya tidak datang dari para imam besar itu, tetapi dari seorang Imam Agung, “menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang  yang taat kepadaNya.”

Saudara-saudari terkasih,

Yesus, adalah Imam Agung yang sempurna seperti yang dikatakan: “Anak.Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek,” Ia adalah Imam Agung yang tanpa dosa, singkatnya, Yesus adalah pemenuhan yang sempurna dari karya penyelamatan Allah.

Jadi, jawaban Yesus dalam bacaan Injil hari ini sungguh menjadi lebih jelas lagi bagi kita: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.” Jawaban Yesus ini tidak mudah untuk dimengerti oleh kaum Farisi dan orang banyak yang hadir pada kesempatan itu. Kegembiraan, kebahagiaan bersama Yesus, diungkapkan dalam perbandingan dengan kebahagiaan mempelai laki-laki dan perempuan. Ungkapan perbandingan itu digambarkan oleh Yesus dalam relasi Allah dengan manusia. Suatu relasi yang baru bukan saja berdasarkan pada kepatuhan dan kedisiplinan saja tetapi suatu relasi yang berdasarkan pada “MUTUAL LOVE”.

Kita telah menjadi manusia baru oleh Darah Kristus, kembali masuk kedalam relasi cinta dengan Allah. Sementara kedisiplinan masih terus menjadi penting agar kita terus memelihara “MUTUAL LOVE” dengan Allah sebagai mempelaiNya. Amin.

Comments are closed.
Translate ยป