Totalitas dalam beriman (Sabtu, 19 Juni 2021)
2 Kor 12:1-10; Mat 6:24-34
Salah satu tantangan beriman dewasa ini adalah sikap hidup yang setengah-setengah, hilangnya antusiasme dan bahkan hilangnya harapan. Hati yang terbagi membuat hidup kehilangan sukacita dan kegembiraan. Beriman berarti hidup yang mengandalkan Allah dan belas kasihNya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan suatu kebenaran itu, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain” (Mat 6:24). Yesus menegaskan bahwa kita tidak dapat setengah-setengah dalam beriman. Hidup yang mengandalkan Allah berlawanan dengan hidup yang seolah-olah tidak membutuhkan Allah. Orang yang diliputi kekhawatiran akan dilumpuhkan oleh ketakutan dan rasa tidak aman. Dua tuan yang dimaksud: Allah yang menyelenggarakan kehidupan dan mamon yang dalam bahasa Kitab Suci diartikan sebagai kekayaan atau harta benda, harta milik. Dua-duanya, Allah dan mamon berusaha merebut hati manusia. Kecenderungan manusia memilih yang gampang, cepat dan berorientasi pada hasil, menjadi tantangan dalam beriman kepada Allah yang menuntut sikap radikal, kesetiaan dan komitmen.
Apa yang membuat kita mampu menghadapi tantangan tersebut? Santo Paulus menyakini bahwa Allah senantiasa memihak dan membantu kita, “Cukuplah cinta kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan, kuasaKu menjadi sempurna” (2 Kor 12:9). Undang Yesus pada hari ini adalah untuk percaya akan penyelenggaraan ilahi dan kasihNya. Beriman bukan lagi menjadi sebatas pengetahuan akal budi tetapi pengenalan secara pribadi akan Allah yang mengasihi. Kita diundang untuk mengolah kekhawatir dan ketakutan itu dengan mensyukuri anugerah dan berkat Allah saat ini. Siapa yang menghidupi rahmat saat ini, ia akan hidup dalam sukacita. Allah senantiasa bekerja dalam pengalaman sehari-hari. Menghidupi dan mensyukuri rahmat Allah berarti juga menerima segala kelemahan dan kerapuhan: tidak mengulangi kesalahan dan dosa di masa lampau, berusaha mengontrol diri dalam menghadapi pengalaman masa yang akan datang, dan bersyukur atas pengalaman saat ini dan di sini.
“Tuhan Yesus Kristus, bebaskanlah kami dari kekhawatiran dan ketakutan. Bantulah kami untuk meletakkan hidup kami dalam penyelenggaraan kasihMu. Bantulah kami untuk menghidupi hari ini dengan penuh rasa syukur. Peliharalah kami dalam tangan kasihMu”