“Balok penghalang”

“Balok penghalang”

Senin Pekan Biasa XII, 21 Juni 2021 – Peringatan St. Aloysius Gonzaga

Bacaan: Kejadian 12:1-9; Matius 7:1-5

Sebagai mahluk sosial, kita selalu berjumpa dengan sesama kita yang beragam pribadinya, karena memang kita semua unik dan khusus sebagai citrra Allah. Oleh sebab itulah kita selalu diperkaya melalui berbagai perjumpaan itu. Namun demikian tidak jarang kita mulai menilai sesama kita sesuai dengan pandangan pribadi kita, yang cukup sering diwarnai oleh suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap mereka yang kita jumpai. Oleh sebab itulah berbagai penilaian kita terhadap sesama kita tidak jarang menjurus pada penghakiman atau penilaian yang kurang baik bahkan sampai menjatuhkan mereka. Dalam hal inilah sabda Yesus pada hari ini perlu kita dengarkan dan resapkan bagi kehidupan kita pribadi dan dalam berelasi dengan saudara-saudari kita. Dengan tegas Yesus mengingatkan agar sebelum kita menilai orang lain, terlebih dahulu kita perlu melihat keadaan diri kita, yang seringkali malah kita biarkan dan mungkin lebih buruk dari pada kehidupan orang lain yang kita lihat.

Marilah kita sadari sejenak, apa kriteria kita menilai orang lain, mengapa pikiran, perkataan dan sikap kita begitu tajam dan kadang kasar terhadap sesama kita? Ada kemungkinan terdapat balok di dalam mata kita sehingga pandangan kita tertutup dan tidak melihat dengan jelas yang sedang dialami orang lain. Karena gelap itulah, maka penilaian kita juga menjadi gelap. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa tidak jarang penilaian yang menjadi penghakiman itu terjadi karena kita melihat sesama kita dari sisi gelap mata kita, ini tentu saja sangat berbahaya. Maka baiklah sebelum kita menilai atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain, kita bertanya diri, apakah ini sungguh demi kebaikannya dan saya mau menyampaikannya dengan maksud baik dari hati yang tulus? Setiap penilaian dan penghakiman yang negatif kepada saudara-saudari kita, juga menjadi cerminan siapa diri kita. Teguran Yesus ini sangat membantu kita untuk dapat membersihkan diri dan mengeluarkan balok dari dalam mata kita sehingga jernihlah penglihatan kita terhadap sesama kita.

Kita perlu belajar dari St. Aloysius Gonzaga, yang selalu melihat hal baik di dalam diri orang lain dan siap membantu yang menderita bukan disingkirkan. Ia sendiri memberikan dirinya secara total bagi mereka yang menderita hingga hidupnya pun dikorbankan bagi mereka. Saatnya kita melihat dengan mata yang jenih sehingga makin jernih pulalah hidup kita dan perjalanan kita menuju Surga pun menjadi terbuka lebar.

Comments are closed.
Translate »