TUHAN TELAH MENETAPKAN
Senin, 12 Juli 2021
Matius 10:34-11:1
Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyadari dengan benar arti menjadi murid Kristus. Mereka dipanggil bukan untuk mencari kenyamanan diri sendiri, namun berani meninggalkan segala-galanya dan kemudian mengikuti Yesus. Ketika seseorang berani berkorban dengan meninggalkan kepentingan dirinya sendiri, untuk melakukan kehendak Allah, maka pada saat itulah orang tersebut sedang memanggul salib. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”(Mat 10:38). Agar seseorang bisa mengikuti Yesus secara maksimal, maka diperlukan sikap pengosongan diri dan menempatkan Tuhan Yesus sebagai pusat hidupnya. Sikap pengosongan diri ini adalah sikap yang dimiliki Yesus Kristus, agar Dia bisa menjumpai manusia di dunia dan menyatakan kasih Allah secara sempurna kepada manusia. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 2:5-7).
Jalan yang ditempuh oleh murid Kristus, adalah jalan yang telah dilewati Kristus. Oleh karena itu Dia adalah pemimpin dan menuntun hidupnya. Yesus Kristus adalah cahaya yang mampu menerangi hati manusia dan mengarahkannya ke jalan kebenaran dan hidup. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”(Yoh 14:6). Proses yang harus dilewati oleh para murid adalah proses pengosongan diri. Jika mereka belum sepenuhnya mengosongkan diri, maka Kristus akan tetap menjadi pribadi yang asing bagi mereka. Proses pengosongan diri adalah saatnya seseorang memurnikan hati dan budi dan melepaskan segala macam kelekatan-kelekatan yang bisa menghambat relasi dengan Yesus Kristus. “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”(Mat 10: 39).
Ketika hati sudah dipenuhi oleh Yesus Kristus, maka orang akan mampu mendengarkan Sabda Yesus dan mengikuti-Nya. Perjuangan dan perjalanan murid-murid Kristus adalah selalu untuk siap sedia untuk menjaga agar tetap fokus kepada Yesus Kristus dalam segala situasi, sehingga mereka selalu mampu menghadirkan Kristus dalam setiap peristiwa yang di hadapi. Bukan lagi memakai pemikiran diri sendiri, tetapi memakai pemikiran dan hati yang ada di dalam Kristus. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20).
Setelah seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri, maka barulah ia memiliki banyak kesempatan, bahkan seluruh hidupnya ia persembahkan untuk menjaga iman dan menyatakan apa yang dihayati, yaitu Allah yang berbelas kasih. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16). Dewasa ini, sangat dibutuhkan orang-orang yang mampu membawa harapan dan damai, ditengah-tengah situasi yang sulit ini. Mereka yang siap membawa harapan dan damai adalah mereka yang telah siap berbuah dalam iman sebagai murid Kristus, karena untuk itulah mereka dipilih dan ditetapkan sebagai murid Kristus. “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu.”(Yoh 15:16).
Serawai, Rm. Didik Setiyawan CM