Bagi orang beriman, segalanya adalah tanda ..

Bagi orang beriman, segalanya adalah tanda ..

Senin, 19 Juli 2021

Mat. 12: 38-42 :

Allah yang kita imani adalah Pencipta yang terus Berkarya tanpa henti, dalam dan lewat segala ciptaanNya. Allah berada di balik semua yang indah, baik, benar, harmonis, damai …dst. Memang, kalau kita mendekati itu semua dengan pikiran dan logika yang kering, yang kita temukan hanyalah kelelahan dan bahkan kekosongan. Kehadiran dan karyaNya perlu kita baca dengan hati hening dan alam batin kontemplatif. Kita memang perlu melatih diri untuk memahami bahasa simbol, bahasa alam, bahasa tubuh .. Kalau ini yang kita lakukan, maka segalanya adalah tanda, clues … yang akan mengantar kita untuk menyadari kehadiran Allah dan KerajaanNya. Sikap ini juga akan membantu kia memiliki indra rohani untuk menemukan Allah itu dalam segala.

Tetapi itulah persoalannya. Tak hanya jaman Yesus, sekarangpun kita hidup di jaman penuh distraksi yang memecah konsentrasi dan fokus kita. Banyak orang, termasuk kita, merasa alergi dan mengalami kesulitan untuk hening bersama Tuhan tanpa kesibukan phisik. Secara kronis kita hidup dalam kesibukan luar dalam. Kita tidak terbiasa untuk berhenti sejenak untuk mencoba memaknai dinamika batin kita, seperti mengapa saya sedih dan merasa kesepian di tengah kerumunan dan kesibukan; atau mengapa saya merasa mara yang tertahan secara berkepanjangan; atau mengapa hari-hari ini saya merasakan kegembiraan yangmembuat dunia ini lebih indah … dan seterusnya.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa kita sebenarnya tidak mengenali dinamika kebatinan kita. Kita sering gagap menghadapi kekosongan batin, tiba-tiba seluruhnya menjadi kurang atau tidak bermakna, atau kita sering lari kepada kesibukan lahir ketika harus berhadapan kegelisahn jiwa. Ini masih ditambah dengan berbagai distraksi yang membuat fokus hidup mudah terpecah.

Perlahan-lahan kita kehilangan keterampilan rohani untuk membedakan mana salah an benar, kehilangan stamina batin untuk menghadapi berbagai tegangan emosional atau tantangan entah darimana datangnya dan seterusnya. Repotnya, kita terlanjur termakan mentalitas medsos dan media digital: seolah ada cara mudah dan cepat untuk menggapai kualitas. Maka kalau ada kegelisahan hati, kita minta program, acara rohani, menuntut perubahan content rekoleksi, mengharapkan Kotbah dipersingakt dst. Kita salah mendiagnose diri lalu keliru mencari solusi. Inilah yang terjadi dengan khalayak yang menuntut tanda dari Yesus. Seolah masalah ada di luar sana, dan mereka meminta itu. Padahal persoalan sebenarnya ada dalam hati dan batin mereka. Kalau hati dan kebatinan manusia tumpul, maka tidak ada tanda yang akan bermakna baginya; bahkan kalau Allah hadir pun manusia demikian tidak akan memeahaminya. Maka Yesus mengatakan bahwa tanda Yunus yang mestinya mencukupi bagi orang beriman. Bahkan bagi orang yang percaya, segalanya mestinya menjadi tanda dan jalan menuju Tuhan. ‘Aku bersyukur kepadaMu ya Bapa, Tuhan langit dan bumi. Sebab semuanya Kau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetap Kaunyatakan kepada orang kecil …” (Mat.11:25). Tetapi kita mesti rela dan berusaha terlibat dalam karya Allah ini …

Comments are closed.
Translate »